
Kebersamaan Hanifah dan kedua orang tuanya, membuat Hanifah lupa waktu, hingga jam tujuh malam Lancelot menelpon Hanifah untuk ikut bergabung dalam meja makan. Menu yang di pesan oleh Lancelot semuanya halal, mengingat semua tamunya adalah orang Muslim. Mereka menikmati makan malamnya dengan perasaan bahagia terutama Hanifah dan kedua orang tua Hanifah, karena sudah hampir empat tahun mereka tidak pernah bersama seperti ini. Tuan dan nyonya Bisseling memilih makan malam bergabung dengan mereka, karena di rumah terasa sepi. Selesai makan malam Lancelot, Hanifah, tuan Bisseling, nyonya Bisseling dan kedua orang tua Hanifah berkumpul di kamar orang tua Hanifah. Lancelot sengaja tidak mengajak Dandruff dan yang lainnya untuk berada di kamar orang tua Hanifah, karena Lancelot maupun tuan dan nyonya Bisseling ingin mengenal orang tua Hanifah lebih dekat.
"Baru beberapa jam saja kalian tidak tinggal di rumah, rumah rasanya sangat sepi Han, malah bingung mau ngapain gak ada yang di ajak bermain." keluh nyonya Bisseling.
"Ini, baru beberapa jam coba kalau Lanc, pindah ke rumahnya sendiri apa mama juga mau ikut pindah ke rumahnya Lanc," ejek tuan Bisseling.
"Halah papa sendiri juga begitu kalian tahu nggak paps bilang apa?, papa bilang seperti ada yang hilang." timpal nyonya Bisseling diiringi tawa.
Semi dan Legi ikut tersenyum walau sebenarnya tidak paham dengan apa yang di ucapkan oleh tuan dan nyonya Bisseling. Orang tua Hanifah yang sama sekali tidak paham bahasa mereka, mengimbanginya dengan senyuman tentunya dengan menggunakan ilmu terka menerka, walau sembilan puluh persen salah.
Percakapan antara orang tua Hanifah dengan keluarga Bisseling mengundang tawa diantara mereka semua, karena bahasanya tidak sama Lancelot maupun tuan dan nyonya Bisseling bisa bahasa Indonesia itupun hanya sedikit, begitu juga orang tua Hanifah tahu bahasa inggris juga cuma sedikit, itupun setelah satu bulan penuh di ajari oleh guru suruhan Lancelot. Apalagi pengucapan bahasa inggris orang tua Hanifah begitu medok dengan logat jawa dan juga abjad Indonesia, sudah pasti sangat aneh di telinga orang asing yang sangat menguasai bahasa inggris seperti Lancelot, tuan dan nyonya Bisseling.
Bahasa bukan menjadi penghalang bagi kebersamaan mereka, malah mereka tertawa terpingkal-pingkal seperti menonton film komedu di tambah pembawaan orang tua Hanifah yang terkesan santai, lucu dan percaya diri dalam mengucapkan bahasa inggris. Meski baru pertama kali bertemu dan bersama Lancelot maupun tuan dan nyonya Bisseling terlihat sangat akrab dengan kedua orang tua Hanifah.
"Ya, ampun ternyata sudah jam sepuluh, tidak terasa cepat sekali malamnya perasaan baru saja duduk, kalau begitu aku pulang dulu." pamit nyonya Bisseling.
"Selamat istirahat tuan, nyonya." pamit tuan Bisseling ramah dan sopan "Han, kaku tidur di mana?" tanya tuan Bisseling menggoda Hanifah.
"Maunya tidur sama ibuk dan bapak, tuan." sahut Hanifah jujur.
"Ehm... kalau anakku ada yang mau tidur sama aku pasti aku senang sekali, sayangnya kedua anakku memilih hidup terpisah dengan kami." keluh nyonya Bisseling.
"Han, jangan bikin iri mamaku, kamu gak malu sudah besar masih ingin tidur dengan orang tua?" ejek Lancelot.
"Namanya juga orang kangen, Tuan, sampai kapanpun tempat ternyaman itu ya orang tua, Tuan." sahut Hanifah.
__ADS_1
"An, bagaimana?" tanya Lancelot.
"Biar dia tidur bareng kita saja, Tuan." ujar Hanifah.
"Kaku cemburu Lanc?" tanya tuan Bisseling.
"Ya enggaklah pa, cuma ya gimana?" sahut Lancelot salah tingkah.
"Kamu itu, belajarlah dari Hani, dalam menghormati dan menyayangi orang tua." timpal nyonya Bisseling.
"Mama, ya aku tahu aku tidak sebaik Hani dan aku selalu membangkang," sahut Lancelot mengalah.
"Segera istirahat semua, besok jangan sampai telat." pesan nyonya Bisseling.
Nyonya dan tuan Bisseling meninggalkan kamar orang tua Hanifah, sedangkan Hanifah, Lancelot masih tetap berada di dalan kamar orang tua Hanifah. Lancelot berusaha bercakap-cakap dengan Legi walau dengan bahasa Indonesia yang seadanya. Tanpa Hanifah ketahui, Lancelot selama beberapa bulan ini ternyata mempelajari bahasa Indonesia, selain dari Internet juga dari rekan bisnisnya yang dari Indonesia.
"Maf tuan sebelumnya begini tuan, kami hanya akan menikahkan Putri kami dengan orang yang seiman dengan kami," jawab Legi tegas dan sopan, dengan perasaan takut namun berusaha tetap tersenyum.
Hanifah sangat terkejut mendengar Lancelot yang melamar langsung kepada kedua orang tuanya.
"Saya paham akan hal itu pak, terlepas apapun yang terjadi besok, yang terpenting saya sudah mengutarakan niat baik saya untuk meminang Putri bapak kepada bapak dan ibuk," ucap Lancelot sopan.
"Tuan!" seru Hanifah.
"Bukankah kamu yang minta Han, apa kamu lupa kalau kamu pernah mengatakan jika kamu masih memiliki orang tua, dan itu artinya aku harus melamar kamu langsung pada kedua orang tua kamu, kalau alasannya karena kita beda keyakinan itu hanya berlaku di hari ini saja, tidak untuk seterusnya." ucap Lancelot tulus.
__ADS_1
"Saya tidak paham dengan maksud tuan." ucap Hanifah frustasi sebab sudah berkali-kali Lancelot mengutarakan isi hatinya namun terus di tolak sekarang malah melamar langsung pada kedua orang Tuanya.
"Bapak, Ibuk, saya Mohon doa restunya untuk bisa mengarungi bahtera rumah tangga bersama dengan Putri bapak, terlepas dari apapun yang saya lakukan saya benar-benar mencintai Putri bapak ." ucap Lancelot serius.
"Alasannya apa, kenapa tuan mencintai Putri kami yang statusnya saja bukan gadis biasa, Putri kami seorang janda yang di tinggal meninggal oleh suaminya." jelas Legi, berusaha tenang San bijak.
"Untuk saat ini saya tidak bisa memberi alasnya dengan jelas namun yang pasti saya tulus mencintai Putri bapak, banyak sekali keistimewaan yan Hani, milliki dan lagi antara Hani dan Putri saya sudah tidak mungkin dipisahkan, mereka berdua memiliki ikatan batin yang sangat kuat, dan anak saya tahunnya Hani itu mamanya, besok saya akan kasih alasan yang kuat, karena besok adalah hari besar buat saya." jelas Lancelot sopan.
"Apapun alasannya tuan, saya tegaskan sekali lagi, saya sebagai ayahnya hanya akan menikahkan Putri saya dengan laki-laki yang seiman, dan lagi tuan itu memiliki Segalanya saya rasa banyak wanita yang pantas buat tuan, bukan Putri saya." ucap Legi tetap sopan.
"Yang bisa melihat pantas dan tisak ya itu Tuhan yang menentukan pak, sebenarnya says sendiri merasa tidak pantas bila harus bersanding dengan Putri bapak, says sadar dari segi ekonomi saya memilki Segalanya namun dari segi keimanan saya kalah dengan Putri bapak." ucap Lancelot jujur dan juga tulus.
"Pak!" seru Hanifah.
"Han, nanti kita bicarakan." sahut Legi.
"Tuan!" seru Hanifah masih belum percaya mendengar lamaran dari Lancelot.
"Keputusanku tetap sama Han, walau sudah berkali-kali kamu menolakku, aku tetap mencintaimu dan aku akan tetap menikahi kamu." ucap Lancelot yakin dan percaya diri "Kalau begitu saya undur diri, maaf jika apa yang saya sampaikan barusan membuat kalian semua terkejut." pungkas Lancelot "Terima kasih sudah menjaga An."
Lancelot setelah pamit dia pergi meninggalkan sejuta tanya di hati Hanifah dan kedua orang tua Hanifah.
"Han, nanti setelah nona An, tidur bapak dan ibuk mau ngomong sama kamu, ada apa sebenarnya antara kamu dan majikanmu?" tanya Legi penasaran.
"Inggih pak." sahut Hanifah sopan nskun juga di selimuti sejuta tanya atas perilaku dan ucapan Lancelot barusan.
__ADS_1
Hanifah menidurkan nona An, di kamar orang tua Hanifah, kedua orang tua Hanifah menyaksikan langsung dan membuktikan akan ucapan Lancelot barusan tentang kedekatan Hanifah dengan nona An. Kedekatan Hanifah dan nona An, memang bagai ikatan antara anak kandung dan ibu kandung.