
Lancelot membantu Legi dan yang lainnya untuk membersihkan dan merapikan rumah, padahal selama ini di Hongkong Lancelot selalu mengandalkan pekerjanya, beruntung satu bulan yang lalu sebelum menikah Lancelot sudah banyak belajar tentang kehidupan di kampung Hanifah, sehingga membuat Lancelot tidak begitu canggung. Hanifah juga di sibukkan dengan membantu Semi dan kerabat lainnya, meraka bekerja sambil cerita, beranda dan tertawa.
"Ma... Ma... Mama." Nona An sudah keluar dari kamar sambil memanggil-manggil Hanifah.
"Han, anakmu bangun." ucap semi.
"Iya, Buk." sahut Hanifah " Sini sayang, sudah bangun ya anak mama." Hanifah menghampiri nona An yang berdiri di depan pintu dapur. "Ayo cuci muka dulu dan ganti baju." Hanifah mengajak nona An untuk kembali masuk ke kamar, Hanifah membantu nona An untuk ganti baju, cuci muka dan gosok gigi.
Selesai membantu nona An, Hanifah kembali ke luar, Hanifah mengajak nona An untuk mencari Lancelot, di halaman depan.
"Pa, ayo sarapan, sudah siang An juga sudah bangun ." panggil Hanifah pada Lancelot.
"Nak, di panggil istrimu sana sarapan sudah siang." perintah Legi pada Lancelot.
"Baik, Pak." Lancelot langsung pergi menghampiri Hanifah yang berdiri di dekat Lancelot" Anak papa kok sudah cantik sekali kapan bangunnya?" tanya Lancelot langsung menggendong nona An.
"Dali tadi." sahut nona An.
Bila terlihat oleh siapapun yang tidak mengenal mereja, tidak ada yang tahu jika mereka merupakan pasangan pengantin baru. Lancelot Hanifah dan An, menuju meja makan dia atas meja makan sudah tersedia sarapan untuk mereka berdua, seporsi oat meal, beserta susu untuk sarapan Lancelot dan untuk nona An, karena sudah satu bulan berada di Indonesia, nona An sarapan lebih suka makan nasi atau mie, seperti pagi ini nona An memilih makan nasi sama daging sapi bumbu rendang sama halnya Hanifah, karena kebetulan sisa mebu kemarin masih ada.
"Kelihatannya, enak sekali." ucap Lancelot.
__ADS_1
"Iya, pa meja sekali papa mau coba?" tanya nona An, memamerkan makanannya.
Lancelot ikut mencicipi daging bumbu rendang, di padu dengan oat meal "Lezat sekali, tektur dagingnya empuk dan bumbunya meresap terasa sekali." ucap Lancelot memuji kelezatan rendang dagingnya.
Mereka bertiga menikmati sarapan bersama, Hanifah berusaha melayani Lancelot dengan baik, begitu juga sebaiknya Lancelot juga melayani Hanifah dengan baik, Lancelot beberapa kali menyuapi Hanifah, dan juga nona An.
"Masih ku ingat waktu An, masih bayi, aku di paksa mama untuk menyuapi kamu Ma, karena kamu sibuk menyuapi An, tahu nikah itu enak begini dari dulu aku nikahi kamu ma." ucap Lancelot sambil menyuapi Hanifah.
"La, kenapa tuan tidak nikah dari dulu?" sahut Hanifah.
"Siapa suruh kamu baru datang dalam kehidupanku sekarang, jika kamu datang sepuluh dua puluh tahun lalu pasti sudah aku nikahi dua puluh tahun lalu dan sekarabg anak kita sudah remaja, berkali-kali aku lamar kamu, eh malah kamu tolak terus, sekarang di nikmati saja, usia empat puluh lima baru menikah." ucap Lancelot.
"Iya, ya, kamu masih suka bermain aku sudah bekerja di perusahaan papa, lucu sekali jodoh itu," ucap Lancelot." Mah, habis ini, kita ke villa, menemui papa dan mama, besok mereka kembali ke Hongkong, itu jika mama tidak capek." ucap Lancelot sambil makan.
"Ya, gak apa-apa, tuan." sahut Hanifah.
"Papa, Ma bukan tuan, apa aku ini terlihat tua sekali ya, padahal jarak umur kita juga cuma lima belas tahun." ujar Lancelot santai.
"Maaf pa, lupa," sahut Hanifah.
"An, kamu ikut opa sama oma ke Hongkong besok apa bareng sama mama dan papa?" tanya Lancelot, padahal Lancelot juga tahu jawaban nona An, pasti menolak.
__ADS_1
"Aku, di sini saja sama mama, papa saja yang baleng opa dan oma pulang ke Hongkong." sahut nona An jujur.
Mendapat jawaban dari nona An, Lancelot hanya bisa geleng-geleng kepala, " Lihatlah ma, mama sudah berhasil untuk menjadi istriku dan juga mama dari An, serta adik An nantinya." ucap Lancelot bahagia.
"Pa ma, aku mau adik kecil, seperti yang tante bilang kemalin." ucap nona An polos.
"Iya, kita berdoa kepada Allah agar An, di beri adik kecil ya." nasehat Lancelot.
"Kalau sudah selesai sebaiknya kita ke villa, saja, keburu siang." ajak Hanifah.
"Biar aku panggil Dandruff dulu." ucap Lancelot.
"Gak usah panggil tuan Dandruff, kita suruh antar pak lek saja, mobilnya ada kok kalau nunggu tuan Dandruff kelamaan." usul Hanifah.
"Baiklah, kita siap, siapa tahu di sana kita bisa membuat gempa di ranjang." bisik Lancelot lirih tepat di telinga Hanifah.
Hanifah menimpuk punggung Lancelot " Kita berangkat," ajak Hanifah" Jangan sembarangan ngomong di depan anak kecil." bisik Hanifah lirih.
"Aduh mama, iya mama sayang." Lancelot mengaduh manja.
Lancelot Hanifah dan nona An, bangkit berdiri, mereka bertiga setelah pamit pada kedua orang tua Hanifah, mereka menuju ke villa dengan di antar oleh pak lek-nya Hanifah, mereka ke villa sambil membawakan oleh-oleh untuk kedua orang tua Lancelot dan juga para tamu lainnya.
__ADS_1