Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 91


__ADS_3

Sopir yang mengendarai mobil Pajero tersebut kesulitan untuk menemukan alamat Hanifah, karena Google map yang di gunakan hanya sampai di RT sebelah dan tentu masih ada beberapa RT lagi yang harus dilewati.


"Sudah sampai?" tanya Lancelot pada sopir.


"Belum Tuan, kita harus tanya dulu pada orang sini karena di Google map hanya sampai di sini saja, saya rasa tempat tinggal mbak Hani masih jauh." ucap sopir.


Sopir tersebut turun dari mobilnya, dengan sopan sopir tersebut bertanya pada penduduk yang kebetulan sedang bersantai duduk di teras depan rumahnya, setelah mendapat informasi dari warga tersebut sopir kembali masuk ke dalam mobilnya.


"Bagaimana?" tanya Lancelot penasaran.


"Kita jalan lagi tuan, masih sekitar satu kilo lagi dan kata warga tadi bapak dan ibunya mbak Hani juga baru saja lewat jalan dini dari pasar," jawab sang sopir.


"Ternyata jauh juga, padahal masih satu kilo bagaimana mereka kenal orang tuanya Hani?" sahut Dandruff keheranan.


"Kalau orang kampung biasanya antara tetangga satu sama yang lain saling kenal Tuan," sahut Setu Pon.


"Oh begitu, tadi apa mereka kenal dengan keluarganya Hani, kok mereka tahu kalau orang tuanya Hani baru saja lewat?" tanya Lancelot juga penasaran dengan jawaban sang sopir.


"Mungkin juga Tuan, sebab orang tadi bilang begitu dan mereka juga mengaku kenal dengan orang tua mbak Hani." jelas sopir tersebut.


"Sebentar lagi kita sudah sampai Tuan, di kampung memang begitu Tuan jadi sangat mudah untuk mencari alamat yang kita tuju, jangankan nama orangnya Tuan, orang kampung itu bisa sampai hafal bukan hanya pada orangnya saja bentuk rumah dan warna catnya mereka hafal berapa jumlah dalam keluarga tersebut mereka juga hafal." jelas Setu Pon.


"Orang Indonesia itu luar biasa, kalau di negara Hongkong bisa kenal tetangga gandeng tembok itu aja sudah sangat luar biasa." ucap Lancelot.


Mobil Pajero yang mereka tumpangi terus merayap kali ini mobil mereka merayap dengan lambat, beberapa kali sang sopir turun untuk menanyakan alamat yang di maksud, hingga sampailah mobil tersebut di salah satu rumah yang sangat sederhana, rumah tanpa pagar dan juga kecil, biar kecil rumah orang tua Hanifah sangat rapi dan juga asri karena pekarangan sekitar dipenuhi sayuran dan bunga.


Lancelot dan Dandruff sengaja tidak turun dari mobilnya mereka meminta tolong Setu Pon untuk memberikan bingkisan tersebut pada kedua orang tua Hanifah. Setu Pon turun dari mobil dengan membawa bingkisan yang sudah dibungkus seperti paketan, Setu Pon melangkah menuju rumah yang terbuka pintunya namun sepi.


"Assalamu'alaikum!" Setu Pon mengucap salam dengan sopan.


"Wa'alaikum salam." dari dalam terdengar sahutan suara seorang wanita "Wa'alaikum salam, maaf pak mau mencari siapa?" tanya Semi pada Setu Pon begitu keluar di teras menemui Setu Pon yang sedang berdiri di teras sambil menenteng sebuah bingkisan.

__ADS_1


"Maaf, Bu benar ini kediaman bapak Legi dan Ibu Semi, orang tua mbak mbak Hanifah?" tanya Setu Pon sopan.


"Benar Pak, Bapak ada keperluan apa Ya?" tanya Semi lagi.


"Ini ada paketan untuk bapak dan ibu dari mbak Hanifah dari Hongkong." jelas Setu Pon sopan.


Dari dalam mobil Lancelot maupun Dandruff mengamati gerak-gerik Setu Pon, yang menyerahkan bingkisan tersebut pada Semi ibunya Hanifah.


"Coba ibu baca benar ini nama dan alamat ibu?" Setu Pon menyerahkan bingkisan berwarna hitam tersebut dengan sopan.


"Terima kasih Pak." sahut Semi sopan, Semi membaca tulisan alamat yang tertera di bingkisan hitam tersebut Semi, hafal tulisan tangan putrinya Hanifah "Benar Pak, ini benar nama dan alamatnya dan ini benar tulisan tangan anak saya." jelas Semi senang.


"Baiklah saya permisi dulu Bu, assalamu'alaikum." Setu Pon pamit dan undur diri setelah menyerahkan bingkisan tersebut. Semi kembali masuk ke dalam rumah tanpa merasa curiga pada Setu Pon maupun mobil yang terparkir di halaman rumahnya, Semi berpikir jika pengantar paketan dari luar negeri mungkin berbeda dengan pengantar paket lokal. Setu Pon kembali masuk ke dalam mobil, dengan disambut penasaran oleh Lancelot.


"Bagaimana Tuan, itu tadi ibunya Hani?" tanya Lancelot penasaran.


"Iya Tuan, tadi itu ibunya mbak Hani," sahut Setu Pon. Setelah Setu Pon masuk mobil sopir mulai melajukan mobilnya untuk meninggalkan rumah orang tua Hanifah, tidak lupa Lancelot maupun Dandruff mengambil gambar keadaan sekitar rumah Hanifah.


"Masih muda," puji Lancelot pada Semi "Sebenarnya saya heran kenapa orang Indonesia lebih banyak memakai pakaian serba tertutup, tadinya ibunya Hani semua juga tertutup?" tanya Lancelot penasaran.


"Istri dan keluarga Tuan Pon apa juga begitu?" tanya Lancelot antusias.


"Iya Tuan anak dan istri saya juga begitu, adik serta ibu saya juga berpakaian seperti itu," sahut Setu Pon sopan.


"Apa tujuannya dengan memakai pakaian seperti itu? bukankah akan terasa panas dan juga ribet" tanya Lancelot penasaran.


"Tentu tidak ribet maupun panas Tuan, justru dengan memakai pakaian tertutup mereka para wanita malah terasa nyaman dan juga bisa menjaga kulitnya dari sengatan matahari secara langsung dan menjaga kulitnya dari kotoran debu yang beterbangan, serta bisa menjaga kehormatannya sebagai seorang wanita muslimah," jelas Setu Pon sederhana.


"Maksud menjaga kehormatan bagaimana?" kini Dandruff juga mengajukan pertanyaan pada Setu Pon, karena penasaran.


"Begini tuan, dengan memakai pakaian tertutup dan longgar bisa menjaga wanita tersebut dari pandangan nakal para lelaki, Tuan lihat sendiri tidak terlihat lekuk tubuh seorang wanita yang memakai hijab dan pakaian longgar, otomatis bisa melindungi bentuk tubuh aslinya," jelas Setu Pon secara sederhana.

__ADS_1


"Bukankah bentuk tubuh wanita itu untuk dipamerkan?" tanya Lancelot.


"Bagi kaum muslimah yang taat mereka hanya akan memperlihatkan tubuhnya pada pasangan halalnya, jadi yang mengetahui bentuk tubuh seutuhnya hanya suaminya, kami para lelaki pasti memilih wanita yang tidak pernah di sentuh oleh sembarang orang." jelas Setu Pon.


"Apa istimewanya seorang wanita yang berpakaian longgar dan berhijab?" Lancelot semakin penasaran sebab selama ini Lancelot sangat terbiasa dengan kehidupan wanita di luar yang selalu memamerkan seluruh lekuk tubuhnya secara bebas.


"Tuan jika mau memakan pisang, Tuan memilih yang masih terbungkus oleh kulit pisang atau pisang yang sudah terbuka tanpa kulit?" tanya Setu Pon pass Lancelot.


"Tentu saya pilih yang masih terbungkus oleh kulit," jawab Lancelot antusias.


"Kenapa Tuan memilih pisang yang masih terbungkus oleh kulitnya, kok bukan yang sudah terbuka tanpa kulit?" tanya Setu Pon sopan.


"Sebab yang yang masih terbungkus oleh kulit dalamnya tentu masih bersih dan juga mulus belum terkontaminasi oleh kuman dan tentu belum tersentuh oleh tangan orang lain, namun jika yang sudah terbuka tanpa kulit maka maka kuman sudah pasti pada menempel tidak higienis lagi dan juga tentu dari segi rasa juga sudah berbeda karena kena angin maupun sentuhan tangan orang lain." jawab Lancelot sesuai logika dia.


"Tepat sekali, begitu pula seorang wanita muslimah yang memakai pakaian longgar dan tertutup, tidak sembarang orang bisa menyentuhnya kecuali mahramnya." jawab Setu Pon.


"Ya, sekarang saya paham kenapa Hani, selalu berpakaian panjang, selama ini aku hanya bisa melihat wajah, rambut, telapak tangan dan telapak kaki saja," ucap Lancelot mulai sedikit paham.


"Saya rasa mbak Hani orang yang taat pada Tuhannya." tebak Setu Pon.


"Saya rasa begitu, karena dia memiliki Karakter yang sangat berbeda dengan wanita di luar yang pernah saya kenal, biar usianya masih sangat muda nona Hani memiliki jiwa keibuan yang kuat, bahkan sifat seperti itu belum pernah aku temukan pada wanita yang pernah aku kenalnya termasuk istri-istri dari temanku, dan juga Hani sangat bisa menjaga diri." tutur Lancelot.


"Memang berapa usia mbak Hani?" tanya Setu Pon penasaran .


"Tahun, ini dua puluh enam tahun." sahut Lancelot percaya diri.


"Usia yang cukup pas bagi seorang wanita untuk berumah tangga," ucap Setu Pon.


"Dia sudah menikah namun anak dan suaminya sudah meninggal belum lama ini," sahut Lancelot.


"Anda cukup teliti dengan kehidupan pekerja anda Tuan?" tanya Setu Pon.

__ADS_1


"Tuan Lancelot memang begitu, karena setiap ulang tahun para pekerjanya Tuan Lanc pasti memberikan bonus pada pekerjanya, dan tuan pasti menelusuri dari mana asal dan keluarga pekerjanya." ucap Dandruff.


Setu Pon cukup paham dengan cara berpikir Lancelot, sebab Setu Pon sudah sering berinteraksi dengan beberapa rekan kerja bosnya yang berasal dari dalam maupun luar negeri, dan tentu dengan cara pikir serta cara pandang yang berbeda.


__ADS_2