Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 86


__ADS_3

Hanifah, suster dan nona An sudah siap untuk berangkat, mereka bertiga meninggalkan kamar Lancelot menuju ruang tengah, mereka duduk di sofa sambil menunggu kedatangan tuan dan nyonya Bisseling, tidak sampai menunggu lama tuan dan nyonya Bisseling turun dari lantai dua.


"Cucu oma cantik sekali," puji nyonya Bisseling ketika melihat nona An yang sudah cantik dengan rambut di kuncir dua, walau rambutnya belum begitu panjang, serta memakai baju dres bergambar kartun Elsa.


"Nyonya, Tuan," sapa Hanifah dan suster bersamaan.


"Kalian sudah siap?" tanya tuan Bisseling.


"Sudah, tuan." sahut Hanifah dan suster bersamaan lagi.


Hanifah dan nyonya Bisseling Bisseling menggandeng tangan nona An, sedang suster bagian membawa tas peralatan serta mendorong stroller nona An, sedang tuan Bisseling berjalan sendiri sambil sesekali menggoda nona An. Mereka semua masuk mobil Alpaard hitam metalik, tuan Bisseling duduk di depan berjajar dengan sopir, sedang yang lainnya duduk di belakang. Sepanjang perjalan nona An berceloteh apa saja, Hanifah dan nyonya Bisseling tidak henti-hentinya mengajari nona An untuk berbicara.


"Ayo An, bilang oma!" perintah nyonya Bisseling.


"O o o o o." celoteh nona An.


"Lagi, o... ma." nyonya Bisseling terus mengajari nona An.


Nona An menggeleng-gelengkan kepala dan berceloteh "Ma ma ma ma."


"Sekarang hayo ganti panggil O... pa, lagi O... pa." tuan Bisseling memperjelas ucapannya.


"Ma... Ma... Ma." celoteh nona An.


Semua yang ada di dalam mobil tertawa mendengar ocehan nona An, perjalanan dari rumah menuju restaurant hanya memerlukan waktu lima belas menit, begitu sampai di restaurant semua turun situasi masih aman terkendali. Mereka melangkah menuju restauran yang dimaksud, tuan Bisseling tetap membawa pengawal walau secara sembunyi, sesampainya di restaurant mereka maduk di salah satu ruangan khusus yang ada di restauran tersebut. Di dalam ruang tersebut hanya ada tuan Bisseling, Nyonya Bisseling, Hanifah, nona An dan suster.


"Ayo duduk," perintah tuan maupun nyonya Bisseling bersamaan.


"Terima kasih Tuan, Nyonya." Hanifah maupun suster mengambil posisi masing-masing, sedang nona An seperti biasa duduk di kursi kusus balita.

__ADS_1


Mereka berlima bercengkerama bersama sambil menunggu menu makanan yang sudah di pesan datang. Nona An masih dengan menu sehat dan sangat special buat anak seusia.


"Maaf tuan, apa kita akan baik-baik saja." tanya Hanifah.


"Kamu sangat peka, Han" jawab tuan Bisseling tenang.


"Baiklah jika tuan besar sudah tahu." sahut Hanifah semakin tenang.


"Kita nikmati makan malam kita dulu,!" perintah tuan dan nyonya Bisseling.


Hanifah kembali tenang, namun Hanifah tetap harus selalu siaga jika kejadian beberapa waktu lalu terulang kembali. Tidak berapa lama menu yang di nanti telah tiba, tuan dan nyonya Bisseling memilih menu Eropa steak selalu menjadi pilihan keluarga Bisseling, di samping ada steak tuan dan nyonya Bisseling juga memesan nasi goreng sifut ala Eropa, sebuah nasi goreng. Menu yang di pesan tuan dan nyonya Bisseling semua menggunakan bahan dari daging sapi, ayam dan ikan.


Semua bisa menikmati makan malam dengan tenang, selesai makan malam mereka langsung keluar dan segera masuk ke dalam mobil. Mobil yang di tumpangi mereka melesat dengan cepat, sopir sadar jika ada yang telah mengikuti mereka. Sopir yang bekerja pada keluarga Bisseling mereka sudah terlatih dengan baik dan sangat professional. Suster yang baru pertama melakukan perjalan dengan mereka dalam dia tidak menyadari apapun jika sebenarnya mereka dalam intaian musuh.


"Apa A ling sudah sembuh kenapa anak buah A ling sudah berkeliaran lagi?" tanya sopir pada tuan Bisseling.


"Rupanya dia benar-benar tidak terima dengan kekalahannya." ujar sopir Bisseling.


"Biarkan dia berulah, yang penting kita tetap harus waspada, terutama kamu Han, kamu tahu-kan apa yang kami maksud." ucap tuan Bisseling.


"Iya, Tuan saya paham." sahut Hanifah tetap tenang.


"Sudah seharusnya An memiliki pengasuh yang tangguh, kita sudah sampai." ujar tuan Bisseling.


Semua turun dari mobil, suster segera pamit karena mobil jemputan dari kediaman Lancelot sudah datang, sedang Hanifah naik ke lantai empat hanya dengan Hanifah sedang tuan dan nyonya Bisseling masuk ke kamarnya sendiri untuk membersihkan diri.


Jalanan negara Hongkong masih sangat padat merayap padahal jam sudah menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh, mobil yang di tumpangi oleh suster tiba-tiba di hadang oleh orang-orang A ling. Sopir yang sejak awal menyadari jika dalam bahaya dia sudah memberikan info pada tuan Bisseling sehingga di saat mobilnya di berhenti kan di salah satu jalan yang sepi, orang suruhan keluarga Bisseling juga datang.


"Sialan, kita salah sasaran." umpat salah satu geng tersebut kesal, sebab yang dikejar bukan Hanifah.

__ADS_1


"Jika kalian seorang petarung yang tangguh, dia bukan lawanmu." suara seorang lelaki menggema penuh ejekan keluar dari salah satu mobil yang baru saja terparkir di dekatnya.


Orang suruhan A ling tanpa menjawab mereka langsung pergi meninggalkan lokasi tersebut. Suster yang melihat hal itu secara langsung menjadi panik, pasalnya suster sama sekali tidak pernah tahu dunia hitam dan ini merupakan pengalaman pertama kalinya.


"Tuan, apa kita akan tetap aman sampai rumah?" tanya suster masih panik.


"Tentu kita, aman yang mereka incar bukan kita, tapi nona An dan Hani," jawab sopir tenang.


"Kenapa Hani juga masuk dalam targednya?" tanya suster penasaran.


"A ling merasa tersaingi oleh Hani, sebab tuan muda Lanc, pernah mengakui di hadapan A ling, jika Hani, itu merupakan kekasihnya tuan, kamu jangan khawatir mereka tidak akan menyakiti jika bukan daftar targednya." ucap sopir menjelaskan secara detail dan tenang.


"Bagaimana tuan tahu semua itu?" suster semakin penasaran.


"Karena kami ketika mendapat tugas dari tuan Lanc, otomatis kami juga mangetahui alasannya, apalagi beberapa hari yang lalu A ling dapst di lumpuhkab oleh Hani, hampir semua orang di kediaman tuan Lanc, tahu akan hal itu." jelas sopir dengan gamblang.


Suster tidak lagi melanjutkan pertanyaannya, yang ada dipikirannya dia sekarang dia masih tidak percaya dengan ucapan sopir tersebut, apalagi melihat Hanifah tetap bersikap biasa saja terhadap Lancelot, seolah tidak pernah terjadi apa-apa, dan Hanifah juga tidak pernah menunjukan tanda-tanda kalau dia menyukai tuan muda mereka. Mobil yang di tumpangi suster tersebut sampai rumah dengan selamat, suster teesebut masih di hantui rasa cemas bahkan wajahnya masih sedikit pucat.


"Sus, apa kamu sakit?" tanya Joyce ketika melihat sister yang baru saja masuk.


"Kak, Joyce belum tidur?" suster malah balik tanya.


"Nunggu kamu, kenapa kamu sakit?" Joyce mengulangi pertanyaannya.


"Tidak Kak, cuma masih kaged saja," sahut suster.


"Kenapa?" tanya Joyce semakin penasaran.


Suster mengajak Joyce untuk duduk di ruangan yang biasa meteeja pakai untuk isti, lalu suster menceritakan secara gamblang tentang kejadian barusan saat perjalanan pulang, Joyce tidak heran saat mendengar penuturan dari suster tersebut sebab Joyce sudah paham betul dengan situasi seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2