
"Papa," sapa nona An girang.
"Anak papa, kenapa belum tidur?" sambut Lancelot penuh kasih.
"Tunggu papa," sahut nona An, manja.
"Sekarang An, maukan menemani papa makan sebentar saja." rayu Lancelot pada nona An.
Nona An, mengangguk tanda setuju, tanpa di minta nona An, sudah berjalan menuju ruang makan, tentu dengan di dampingi oleh Hanifah.
"Dand, kamu gak makan sekalian?" tanya tuan Bisseling.
"Nanti saja tuan, tadi sebelum berangkat saya sudah makan duluan, jadi masih sangat kenyang." sahut Dandruff.
"Baiklah, bagaimana pertemuan Lanc, tadi?" tanya tuan Bisseling penasaran.
"Sangat bagus, tuan dan nyonya bisa melihat sendiri bagaimana reaksi wajah tuan Lanc, sekarang wajahnya jauh lebih teduh wajah yang belum pernah saya lihat sebelumnya." sahut Dandruff.
"Ya, kami juga merasakannya, semenjak dia siuman dari komanya dia banyak berubah, dua lebih santun da lebih bisa mengobrol esmosinya." tangan nyonya Bisseling.
"Ya, Benar tuan dan nyonya." Dandruff mengiyakan pernyataan nyonya Bisseling.
__ADS_1
Nyonya dan tuan Bisseling serta Dandruff menyaksikan bagaimana akrabbya Hanifah, Lancelot dan nona An.
Lancelot hanya butuh waktu setengah jam untuk menyelesaikan makan malamnya, selesai melaksanakan makan malam Lancelot dengan di temani Hanifah menuju kamarnya, dia ingin menemani nona An, untuk tidur karena jam susah menunjukan pukul setengah sebelas malam, untung saja besok libur jadi nona An, bisa tidur sedikit telat.
"Good night, anak papa cepat tidur selamat mimpi Indah." Lancelot mencium nona An.
"Good night papa." Nona An naik di atas ranjangnya.
"Good night Tuan." ucap Hanifah.
"Good night Han, swet dream."
Lancelot, masuk ke kamarnya di kamarnya sudah ada Dandruff yang sedang menantikannya tentu dengan tuan dan nyonya Bisseling, sebab mereka ingin mengetahuinya sendiri dari pengakuan Lancelot sendiri.
"Aku ganti baju dulu." Lancelot mengabari bajunya sendiri tanpa bantuan siapapun.
Selesai berganti baju Lancelot duduk di atas ranjangnya bersandar pada kepala ranjang.
"Papa dan mama pasti ingib tahu keputusanku." tebak Lancelot dan memang benar tabakkannya.
"Tentu, kami ingin tahu semuanya." jawan nyonya Bisseling.
__ADS_1
"Lanc, sudah putuskan jika Lanc, akan mengikuti kayakinan Hani, Lanc melakukan ini semua bukan karena tanpa alasan, selama Lanc, tidur panjang banyak kejadian spiritual, dan semua mengarah pada Tuhan yang Hani, anut jadi saya Mohon, papa dan mama merestui pilihan Lancelot," pinta Lancelot bersungguh-sungguh.
"Kami, merestui pilihanmu kapan upacara pelaksanaan ikrarmu ?" tanya tuan Bisseling.
"Seminggu lagi." jawab Lancelot yakin sekali.
"Apa yang harus kita siapkan?" tanya nyonya Bisseling.
"Tidak ada Pa, Ma, nanti kami datang ke Masjid yang ada di Tsim Sat Tsui, mereka sudah menyiapkan segalanya, tugasku hanya meyakinkan dan memantabkan pilihanku." jelas Lancelot.
"Asal kami bahagia dan menjadikanmu hidup lebih baik, kami mendukungnya." ucap tuan Bisseling.
"Sudah malam istirahatlah, kami juga mau istirahat."
Nyonya dan tuan Bisseling meninggalkan kamar Lancelot, sekarang di dalam kamar Lancelot hanya ada Dandruff dan Lancelot. Sepeninggalan tuan dan nyonya Bisseling Lancelot membaca buku panduan tentang islam, mulai dari syariatnya, dan juga bagaimana Tata cara wudhu yang baik dan benar serta membaca tuntunan melaksanakan sholat sesuai syariatnya.
"Tuan sudah jam dua belas malam, tuan harus istirahat agar tubuh tuan bisa segera pulih," nasehat Dandruff.
"Baik Dand."
Lancelot menuruti perintah Dandruff, karena waktu memang sudah sangat larut.
__ADS_1