
Lancelot, Hanifah dan nona An, mengambil penerbangan pertama untuk kembali ke negara Hongkong, sebenarnya nona An tidak mau untuk kembali ke negara Hongkong, setelah di bujuk dan di rayu oleh Hanifah akhirnya nona An, baru nurut. Siang hari mereka sudah sampai di negara Hongkong, mereka di jemput oleh sopir yang bekerja di rumah Lancelot, sebuah mobil tesla hitam telah meluncur membelah ramainya lalu lintas di negara Hongkong, rusak lupa mereka tetap di kawal oleh para bodyguard Lancelot. Setelah kurang lebih dua puluh menit dari bandara menuju rumah Lancelot, akhirnya mobil yang mereka tumpangi telah terparkir rapi di halaman rumah Lancelot.
Begitu mobil terparkir para pekeejs semuanya sudah berjajar untuk menyambut kedatangan Lancelot beserta kekuarga barunya, Lancelot menggendong nova An, sambil menggandeng hari Hanifah mendapat perlakuan seperti itu membuat Hanifah sangat canggung, apalagi sebulan yang lalu Hanifah, pamit dan mengucapkan Salam perpisahan pada semua pekerja yang ada di rumah Lancelot maupun pekerja yang ada di rumah Bisseling.
Lancelot mengumpulkan para pekerjanya di salah satu ruangan khusus pertemuan dengan para pekerjanya. Walau mereka semua sudah tahu tentang status Hanifah, namun Lancelot tetap mengumumkan pada mereka siapa Hanifah, sekarang. Setelah memberi pengumuman pada semua pekerja tentang status Hanifah, Lancelot mengajak Hanifah untuk masuk ke dalam kamarnya, selama bekerja pada Lancelot Hanifah sama sekali bekum pernah masuk ke dalam kamar pribadi Lancelot.
"Ma, sekarang kamar ini kamar kita," ucap Lancelot.
Hanifah sangat terpukau dengan desain kamar Lancelot yang begitu indah dan rapi, di dalam kamarnya, juga sudah terpampang sebuah lukisan dirinya yang sedang menggendong nona An sewaktu nona An masih bayi merah.
"Wow, kamalnya tantik sekali aku suka, Ma Pa!" seru nona An, nona An segera turun dari gendongan Lancelot.
"An, suka? tapi An punya kabar sendiri dan kamarnya jauh lebih Indah dari pada kamar ini, setalah ini papa tunjukkin kamar An, OK." jelas Lancelot.
"OK, Pa." sahut nona An girang.
"Selamat datang di kamar kita istriku, semoga kanu suka dengan semua ini mulai saat ini dan selamanya kita arungi rumah tangga kita bersama-sama, ingatkan jika papa berbuat salah pada kalian bedua." pinta Lancelot haru.
"Begitu juga mama ingatkan mama jika mama kalau dalan menjalankan tugas mama sebagai istri maupun orang tua." ucap Hanifah haru.
"Mama dan papa kok nangis?" ucap nona An yang masih berada dalam gendongan Lancelot.
__ADS_1
"Enggak sayang, mama gak nangis kok. " elak Hanifah "Mama belum bisa tidur berpisah dengan An," ucap Hanifah.
"Mulai saat ini kita harus membiasakan An, agar tidur sendiri." ucap Lancelot.
"Tapi!" protes Hanifah.
"An, sudah empat tahun lebih, cepat atau lambat kita akan memiliki bayi adiknya An, jadi kita latuh bersama-sama agar An, bisa mandiri." ucap Lancelot pelan.
"Baiklah," Hanifah mengalah.
"Yuk kita ke kamar An, kamar An sudah aku rubah desainnya, semoga An, suka dengan kamarnya sehingga dia bisa kerasan dan bisa mandiri," ucap Lancelot.
"Pa ini kamarku?" tanya nona An antusias.
"Tentu sayang, karena An, sudah besar dan katanya An, mau punya adik jadi An harus tidur sendiri di kamar ini, bagaimana?" rayu Lancelot.
"Baik pa, aku suka sekali." ucap nona An sangat girang.
Nona An meneliti semua boneka yang sudah tertata rapi di telu ranjangnya, nona An, sangat senang sekali dia sampai tidak sadar jika sudah hampir setengah jam, dia bermain dengan boneka ya di atas ranjang. Haifah San Lancelot tetap menemani nona An bermain. Nona An setelah dia puas bermain dengan bonekanya, Hanifah segera memandikan nona An, setelah bersih dan ganti baju, Hanifah dan Lancelot mengajak nona An, untuk duduk di gazebo yang ada di taman belakang untuk menikmati indahnya sore.
"Tuan, nyonya malam ini mau makan apa?" tanya Joyce sopan.
__ADS_1
"Masak yang simpel saja, seperti yang biasa kanu masak untuk Hanifah." perintah Lancelot.
"Tuan, apa nyonya sedang hamil?" tanya Joyce penasaran.
"Hamil?" ucap Hanifah terkejut.
"Kenapa kamu tanya begitu Joyce?" tanya Lancelot.
"Maaf, tuan sebab selama di sini dulu, yang di makan nyonya itu menu untuk kelancaran ASI, makanya saya tanya dengan jelas pada Tuan dan nyonya, agar kaki tidak salah menyajikan menunya." jawan Joyce jujur.
"Oh, begitu, kalau begitu masak yang simpel dan menu normal saja, doakan semoga kami segera punya baby." ucap Lancelot penuh harap.
"Baik tuan kalau begitu saya undur diri, segera kami siapkan menu makan malamnya, mari Tuan mari Nyonya ." pamit Joyce meninggalkan Hanifah, Lancelot dan nona An yang sedang bercengkerama.
"Silakan kak Joyce, terima kasih." sahut Hanifah tetap sopan.
"Semoga kita segera mempunyai baby, supaya An, tidak sendirian lagi." ucap Lancelot penuh harap.
"Semoga, namun papa harus sudah siap dengan semua konsekwensinya, tidak mudah menghadapi wanita yang sedang hamil." jelas Hanifah.
"Tentu, sebelum menikah dengan mama paps sudah mempelajarinya tentang wanita hamil." jelas Lancelot percaya diri.
__ADS_1