Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 43


__ADS_3

Flas back on.


Dandruff yang sudah terlelap dalam tidurnya saat hand phone-nya berdering, karena masih ngantuk Dandruff menjawab panggilan telponnya tanpa melihat siapa yang menelponnya.


"Dandruff, aku harap kau tidak akan pernah lupa dengan aku." suara A ling terdengar dingin.


Dandruff yang masih setengah sadar langsung terjingkat mendengar suara A ling yang begitu nysring.


"Jangan kaget, Dandruff aku tahu semuanya, dan sampaikan pada tuanmu dia pasti akan menderita, aku pastikan dia bakalan kehilangan putrinya dan juga pengasuhnya, oh ya sampai kapan dia jadi pengecut tidak berani menerima panggilan dariku, malah di matikan hand phone-nya." ancam A ling dari seberang lautan di balik telepon penuh percaya diri.


"Nona A ling, sungguh senang masih bisa bertemu denganmu nona, aku sangat merindukanmu nona, aku kira nona yang cantik nan jelita bagai vampire sudah membusuk dimakan oleh belatung di dalam tanah, ck ck ck." sahut Dandruff tak kalah dingin walau sebenarnya nyawanya belum benar-benar terkumpul.


"Bedebah, kau Dand! Aku tidak akan mati sebelum bisa menjadi pemilik Brown Group." sahut A ling dingin dan sengit.


"Lakukan selagi kau bisa, nona vampire yang cantik nan menawan," sahut Dandruff tenang "Oh ya jika nona malam ini kesepian aku bisa menghangatkanmu nona darahku sangat manis dan pasti bisa membuatmu terbang melayang ke angkasa," ejek Dandruff tak kalah percaya diri.


"Bedebah, kau Dand, tunggu aku kembali ke Hongkong!" teriak A ling di balik telepon dan langsung memutus panggilan secara sepihak tanpa menunggu jawaban dari Dandruff.


Begitu mengetahui panggilan sudah di putus sepihak oleh A ling Dandruff langsung menaruh hand phone-nya" Rupanya, kamu masih menyimpan dendam A ling." gumam Dandruff, tanpa pikir panjang Dandruff kbali tidur karena tubuhnya terasa capek.

__ADS_1


Flash back off.


Lancelot semakin geram mendengar laporan dari Dandruff, tentang A ling yang akan menghancurkan Lancelot dengan cara mengambil putrinya dan juga pengasuhnya.


"Dand, bereskan A ling, jangan sampai dia menyentuh putriku maupun Hani," perintah Lancelot dengan menahan amarah.


"Tuan, saya ada usul bagaimana jika kita sembunyikan nona An, dan Hani di negara yang di mana tidak terpikirkan oleh A ling," usul Dandruff.


"Sungguh tidak adil bagi An dan Hani, jika mereka terlibat dalam dendam A ling, benar-benar tidak masuk akal." ocah Lancelot mulai tidak fokus dengan ucapan Dandruff" Aku bukan pengecut yang takut akan ancamanya Dand, selama ini aku diam karena aku tidak ingin menghancurkan wanita, namun tidak kali ini, sedikit saja menyentuh putriku dan Hani, aku pastikan A ling tidak akan selamat." Lancelot benar-benar geram mendengar ancaman dari A ling, apalagi sekarang yang menjadi sasarannya adalah putrinya dan Hanifah.


"Tuan, bagaimana jika Hani dan nona An kita kirim ke Indonesia, di kampung halaman Hani, aku rasa di sana aman." usul Dandruff.


"Baiklah, kemungkinan dalam waktu dekat A ling akan kembali ke negara Hongkong, namun untuk saat ini orang suruhan A ling belum bertindak lebih jauh namun kita harus tetap hati-hati, jadi tidak perlu terlalu khawatir." jelas Dandruff.


"Bagaimana jika Hani kita latih ilmu beladiri." usul Lancelot.


"Apa tuan lupa jika Hani masih dalam tahap memberi ASI exclusive pada nona Han, jika Hani latihan apa tidak mengganggu aktifasnya untuk menyusui nona An." ucap Dandruff.


"Aku masih ingat," sahut Lancelot enteng.

__ADS_1


"Baiklah, Tuan sekarang waktunya tuan untuk menyelesaikan pekerjaan yang ada di kantor, jika sudah rusak asa yang diperlukan saya undur diri Tuan." ucap Dandruff.


"Baiklah."


Dandruff meninggalkan Lancelot sendirian dan kembali ruangannya sendiri, setelah Dandruff pergi Lancelot baru ingat jika dia tadi belum pamit dan mencium putrinya. Lancelot segera mendial nomor telpon rumah, Joyce yang menerima telpon dari Lancelot, Lancelot menerintahkan Joyce agar Joyce menyuruh Hanifah untuk membuka hand phone-nya. Tidak berselang lama setelah Hanifah mengambil Hand phone-nya, hand phone-nya berbunyi, Hanifah langsung menggeser tombol hijau di aplikasi hijau itu dan tentunya nampak wajah Lancelot yang sedang berada di ruangannya.


"Selamat siang tuan." sapa Hanifah di balik layar sopan.


"Siang, putriku ?" tanta Lancelot langsung pada inti.


"Nona sedang bermain." sahut Hanifah mengarahkan hand phone-nya ke arah nona An yang sedang asyik bermain dengan suster" Apa tuan hari ini teeburu-buru?" tanya Hanifah.


"Aku tahu kamu menyindirku, memang ada hal penting yang harus segera aku selesaikan sehingga membuat aku lupa tidak pamit pada putriku." Lancelot dengan jujur mengakui kesalahannya.


"Syukurlah jika tuan sadar." jawab Hanifah Enteng.


"Untuk membayar kesalahanku nanti aku pulang cepat, tolong dekatkan layar hand phone-mu pada putriku!" perintah Lancelot pada Hanifah.


Hanifah segera menghadapkan camera video callbya pada nona An, kini nona An juga sudah bisa duduk dengan baik, setalah melihat putrinya selama lima belas menit Lancelot mengakhiri panggilan telponnya.

__ADS_1


Lancelot berusaha mengerjakan pekerjaannya secepat mungkin karena akhir-akhir ini selaku pulang telat, jam sebelas malam atau bahkan lebih baru sampai rumah. Hari ini Lancelot benar benar fokus pada pekerjaannya hingga Lancelot melewatkan makan siangnya, untuk makan siang Lancelot menyuruh sekertarisnya untuk membelikan nasi bungkus dan dimakan di ruang kerjanya.


__ADS_2