Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 142


__ADS_3

Nona An seperti biasa tidak butuh waktu lama dia sudah terbuai di alam mimpi di bawah pelukan Hanifah.


"Pak, Buk" sapa Hanifah pada kedua orang tuanya yang tengah duduk di sofa yang ada di kamar tersebut.


"Duduk dulu Han." perintah Legi.


"Inggih pak." sahut Hanifah tetap sopan.


"Sebenarnya majikanmu itu mempunyai istri atau tidak kenapa dia melamarmu, dan bapak lihat anaknya majikanmu lebih dekat ke kamu dari pada bapaknya sendiri?" tanya legi.


"Majikannya Han, itu tidak memiliki istri dan juga belum pernah menikah." jelas Hanifah.


"Lalu, An?" tanya semi.


"Ceritanya panjang sekali, nona An itu terlahir dari wanita luar negeri bagaimana prosesnya Han, kurang paham katanya menggunakan jasa wanita yang mengontrakkan rahimnya untuk laki-laki yang ingin memiliki keturunan tanpa tali pernikahan dan juga tanpa sentuhan badan." jujur Hanifah.


"Astaqfirullah hal'adzim." sahut Legi dan Semi bersamaan.


"Apa majikanmu pernah melamarmu ?" tanya Legi.


"Bukan lagi pernah pak, tapi sering sebenarnya lamarannya juga sudah Han, tolak pak, entah kenapa sekarang dia malah melanar langsung ke bapak, Han juga tidak paham." jelas Hanifah.

__ADS_1


"Bapak tidak melarangmu untuk menikah dengan siapun yang penting kamu bahagia dan dengan lelaki yang seiman, kamu masih ingat nasehat bapak dan ibuk bukan Han?" nasehat Legi.


"Han, selalu ingat nasehat bapak dan ibuk, bapak dan ibuk jangan khawatir, sebenarnya ada hal yang ingin Han, sampaikan ke bapak dan ibuk, mengenai hubungsnku dengan nona An." ucap Hanifah.


"Ada apa Han?" tanya Semi dan Legi penasaran.


"Begini Pak Buk, kenapa Han, memiliki gaji tinggi itu karena selama ini nona An minum ASI dariku, jadi Han merupakan ibu susunya nona An, itu sebabnya semua menyayangi Han, termasuk tuan dan nyonya besar, dan sebab itu pula tuan kekeh ingin menikah dengan Han, sebenarnya ini dilema buat Han, di satu sisi ada nona An yang sangat memerlukan kehadiran ku di sisinya, di sisi lain aku tidak mungkin bisa menikah dengan papanya, yang notabennya kita bukan satu keyakinan, maaf jika Han, tidak pernah cerita soal ini sebelumnya." jelas Hanifah jujur.


"Kenapa dia harus minum ASI darimu?" tanya Legi ingin tahu lebih jelas.


"Nona An, alergi semua jenis susu formula, dan waktu itu sangat darurat tidak mungkin bisa mencari ibu susu dalam waktu singkat, kebetulan ASI Han, masih lancar jadi Han putuskan untuk menyelamatkan nyawa nona An," jelas Hanifah lagi.


"Apa yang kamu lakukan itu sudah benar Han, terlepas tentang lahirnya nona mu dari cara yang salah namun anak itu tidak berdosa, kita wajib tetap melindungi, menyayangi dan mendidiknya dengan baik Han, sebenarnya bapak juga takut jika berbesan dengan majikanmu itu Han kamu tahu kan kita bersalah dari mana?" ucap Legi bijak.


"Baiklah jika kamu paham Han, kami sebagai orang tua tetap akan mengingatkanmu agar kamu tidak terlena dengan gemerlapnya dunia ini," tutur Legi "Han, apa majikanmu pernah menyentuhmu kanu tahu apa yang bapak maksudkan?" tanya Legi penuh selidik.


"Alhamdulillah pak, majikan Han, itu baik dan sopan pada Han, dia sangat menghargai Han, jadi bekum pernah dis Berbuat kurang ajar pada Han." jelas Hanifah.


"Lega rasanya mendengar penuturanmu Han, bapak takut kalau kalian pernah terlibat dalam hal yang merusak iman." tutur Legi, lega.


"Han, apa yang bapak tanyakan ke kaku itu karena kami sangat khawatir dan sangat menyayangimu, aku harap jangan di ambil hati jika ada pertanyaan yang menyinggung perasaanmu, Han." nasehat Semi.

__ADS_1


"Han, justru senang jika bapak dan ibuk bertanya seperti itu, bapak dan ibuk jangan khawatir, Han akan tetap seperti Putri bapak dan ibuk seperti dulu, jika Han, salah jalan ham tetap berharap bapak dan ibuk tidak bosan-bosan untuk mengingatkan Han." tutur Hanifah sopan.


"Kami tidak aksm bosan untuk mengingatkanmu, sekarang sudah malam ayo tidur," ajak Semi.


"Kalian tidur saja di kasur biar aku di sofa saja." ucap Legi.


"Baiklah." sahut Semi dan Hanifah.


Hanifah dan Semi, naik di atas ranjang mereka tidur dengsn posisi nona An, berada di tengah-tengah diantara Semi dan Hanifah.


"Han, besok ada acara apa kok majikanmu seperti menjanjikan sesuatu?" tanya Semi, masih penasaran dengan ucapan Lancelot barusan.


"Aku tidak tahu buk, majikanku itu kadang menyebalkan, dia sering sekali mengajakku secara mendadak, seperti dulu pernah mengajakku ke luar negeri tanpa memberitahuku sebelumnya, dan yang merapikan koper juga pekerja lainnya, seperti tadi dia sama sekali tidak memberitahuku tentang rencana mau nginep di hotel ya otomatis bukan aku yang merapikan isi koper, koper isinya apa aku juga tidak tahu, dulu waktu di London, dia yang membelikanku pembalut karena di koper tidak tersedia pembalut sedangkan aku pas datang bulan." adu Hanifah panjang lebar pada Semi, ibunya.


Semi cekikian mendengar cerita Hanifah tentang Lancelot yang di suruh untuk membelikan pembalut buat Hanifah.


"Kok majikanmu mau membelikan kamu pembalut?" tanya Semi, penasaran.


"Nyonya besar yang menyuruhnya, jadi mau tidak mau dia ya berangkat untuk beli pembalut Buk." tutur Hanifah jujur.


"Ada-ada saja kelakuan dari majikanmu itu Han, huaamm." Semi sudah mulai menguap lebar.

__ADS_1


"Kita tidur saja Buk, nanti subuh Hp ku pasti adzan, jadi kita tidak mungkin subuh kesiangan." ucap Hanifah lagi.


Mereka bertiga menikmati tidurnya di atas ranjang, nona An, damai dalam tidurnya berada dalam apitan dan pelukan Hanifah dan Semi, sedangkan Legi, terbaring di sofa, walau hanya sofa tapi sofa yang sangat besar empuk dan juga lembut sehingga tetap nyaman untuk tidur.


__ADS_2