
Lancelot menjadi bingung apalagi setelah mendengar pembicaraan Hanifah dan kedua orang tuanya, Lancelot tidak paham sama sekali dengam bahasa yang di gunakan oleh hanifah dan kedua orang tuanya. Lancelot setelah termenung hampir setengah jam Lancelot menghubungi Hanifah. Hanifah yang belum tidur dia segera mengambil hand phone-nya karena yang menghubungi Lancelot Hanifah segera menekan tombola hijau.
"Hai, tuan." sapa Hanifah di balik layar karena Lancelot menggunakan panggilan video.
"Han, kamu belum tidur?" tanya Lancelot pura-pura tidak tahu.
"Sudah mau tidur tuan," sahut Hanifah karena jam memang sudah menunjukan pukul sebelas lebih dan hampir jam dua belas malam.
"Maaf mengganggu, kenapa suaramu serak seperti habis menangis, dan matamu juga merah hidungmj juga merah, apa kamu sakit atau kamu sedang ada masalah, apa ada yang menyakitimu?" Lancelot memberondong pertanyaan pada Hanifah.
"Tidak ada apa-apa Tuan, hanya tiba-tiba kangen orang tua, Tuan apa Tuan bisa transfer uang dari Indonesia ke nomor rekening kedua orang tuaku?" tanya Hanifah pada Lancelot.
"Kamu ada masalah?" Lancelot bukannya menjawab malah bertanya balik pada Hanifah.
"Tidak ada Tuan, cuma tadi bapak saya bilang jika jadi bapak mau membeli tanah, tapi uangnya kurang jadi saya ingin menggunakan tabungan saya dan transfer ke Indonesia." jelas Hanifah panjang lebar.
"Soal itu gampang Han, kapan? dan butuh uang berapa?" tanya Lancelot.
"Kapannya dan berapa jumlahnya saya belum tahu Tuan, soalnya bru besok bapak saya menemui orang yang menjual tanah tersebut Tuan." jelas Hanifah.
"Segera kabari aku jika sudah pasti, dan bagaimana kabarnya An, hari ini?" tanya Lancelot pada Hanifah.
"Hari ini nona An, sangat lucu sekali nona An paling suka memanjat dan juga berlari, perkembangan nona An sangat bagus, nona An cerdik dan juga cerdas." Hanifah sangat senang memuji nona An.
__ADS_1
"Bikin aku pingin cepat pulang saja, oh ya Han, bagaimana makan malamnya tadi, tadi Aku daota laporan jika kalian di ikuti oleh orang-orangnya A ling, dan juga mereka sempat menghentikan mobil yang membawa suster." jelas Lancelot pada Hanifah.
"Astaqfirullah hal'adzim!" seru Hanifah spontan.
"Kami bilang apa Han?" tanya Lancelot penasaran.
"Tidak apa-apa tuan." sahut Hanifah baru sadar."Lalu bagaimana dengan suster tuan?" tanya Hanifah berubah khawatir.
"Semua baik-baik saja seban salah saran dan orang-orang papa juga segera datang untuk menolong mereka," jelas Lancelot.
"Syukurlah jika suster tidak apa-apa," sahut Hanifah lega.
"Hati-hati Han, tolong jaga dan rawat anakku, aku akan segera kembali setalah pekerjaanku di sini selesai, selamat malam srlanta mimpi Indah." terang Lancelot.
Keduanya segera menutup panggilan lanya, setelah menaruh hand phone-nya Hanifah segera berbaring dan tidur sambil memeluk nona An.
Lancelot masih belum puas dengan jawaban Hanifah, Lancelot sangat penasaran saking penasarannya Lancelot meminta bantuan pada partner kerjanya untuk menerjemahkan percakapan Hanifah dan kedua orang tuanya. Partner Lancelot dengan senang hati membantu Lancelot, tengah malam seharusnya untuk istirahat malah di gunakan Lancelot dan rekan kerjanya yang asli orang Indonesia malah menerjemahkan percakapan Hanifah dan kedua orang tuanya.
"Bagaimana, tuan tahu arti dari percakapan mereka.?" tanya Lancelot sangat penasaran.
"Ya, tuan says tahu." jawab rekan kerja Lancelot.
"Sungguh pusing aku terjemahkan pakai Google ternyata tidak nyambung sama sekali," keluh Lancelot pada temannya.
__ADS_1
"Jelas tidak nyambung Tuan mereka berkomunikasi menggunakan bahasa campuran antara bahasa jawa dan bahasa Indonesia, jadi Google-nya sudah mumet duluan." jelas rekan kerja Lancelot.
"Baiklah, tolong ceritakan ke aku, sebentar saja." pinta Lancelot penuh harap.
Rekan kerja Lancelot meceritakan apa isi percakapan Hanifah dan kedua orang tuanya secara lengkap dan teperinci , Lancelot mendengarkan secara seksama, tanpa protes. Lancelot diam-diam semakin terpukau dan kagum oleh keberadaan Hanifah, apalagi nasehat orang tua Hanifah yang begitu menyejukkan, namun Lancelot juga sangat terkejut mendengar pengakuan Hanifah tentan kontrak kerjanya, Lancelot mulai terlihat gelisah.
"Pekerja tuan sangat bijak dalam menjalani kehidupan." rekan kerja Lancelot memuji orang yang terlibat dalam percakapan Hanifah dan kedua orang tuanya.
"Ya, aku suka dengan pekerjaku yang ini dia sangat sederhana, dan bijak dalam mengambil keputusan," Lancelot mebanggakan Hanifah pada rekan kerjanya.
"Sekarang saya rasa sudah sangat larut, alangkah baiknya tuan Lanc, belajar bahasa daerah orang Indonesia, jika ingin mendapatkan hati dan cinta pengasuh nona An, dan yang lebih penting menurutku harus seiman." pesan rekan Lancelot sebelum meninggalkan kamar Lancelot.
"Terima kasih, Tuan akan saya pikirkan." sahut Lancelot sopan.
Rekan kerja Lancelot pergi meninggalkan kamar Lancelot, karena sekarang sudah larut malam dan jam juga sudah menunjukan pukul satu lebih. Lancelot berusaha memejamkan matanya namun Lancelot tetap tidak bisa menejamkan matanya, karena ucapan Hanifah tentang kontrak kerja masih terus mengiang di kepala Lancelot, sehingga membuat Lancelot tidak bisa tidur.
Lancelot berdiri, duduk, berbaring namun semua tidak nyaman," Han aku sangat berharap kamu tidak akan pergi meninggalkan kami, aku akan berusaha untuk mendapatkanmu," gumam Lancelot sedikit frustasi, jika Hanifah pergi yang ada dalam pikiran Lancelot sekarang tentang nasib nona An.
Lancelot berdiri di balkon hotel, pandangan Lancelot jauh entah kemana, yang terlihat sekarang bintang di langit nun jauh serta sepinya jalanan di sekitar hotel seolah tidak ada tanda-tanda kehidupan di luar sana. Lancelot baru bisa tidur sekitar pukul tiga lebih hampir jam empat.
Pagi-pagi sekali Dandruff sudah sangat rapi karena dua hari lagi pasti pekerjaannya akan selesai, itu artinya dia bisa kembali ke Hongkong satu minggu lebih cepat. Dandruff duduk di lobi sendirian sambil menikmati sarapan pagi seperti para tamu lainnya, Dandruff duduk di lobi hingga jam menunjukan pukul sembilan pagi, Dandruff mulai khawatir seban Lancelot belum muncul di lobi, padahal biasanya Lancelot akan turun di lobi Pagi-pagi sekali. Karena sudah sangat siang Dandruff berusaha menghubungi nomor Lancelot, namun masih nihil.
Dandruff mengutarakan niat hatinya pada resepsionis agar bisa memberinya kunci serep kamar Lancelot. Setelah mendapatkan kunci dari resepsiobis tentunya juga dengan di antar oleh salah satu resepsionis Dandruff menuju kamar Lancelot, respsionis membantu Dandruff untuk membuka kamar Lancelot, begitu pintu sudah di buka ternyata Lancelot masih berada di bawah selimutnya. Di rasa sudah tidak diperlukan lagj resepsionis pergi meninggalkan Dandruff yang masih berada di dalam kamar Dandruff. Dandruff di buat geleng-geleng melihat keadaan Lancelot kali ini, dan yang membuat Dandruff ternganga ketika Lancelot mengigau nama Hanifah, Dandruff dengan usilnya dia merekam ocehan Lancelot yang di bawah alam sadarnya.
__ADS_1