
Lancelot setelah mengantar Hanifah bertemu dengan temanya, dia memilih tetap berada di rumah untuk menghabiskan waktu akir pekannya bersama dengan nona An, setelah dari luar diajak mengantar Hanifah nona An, terlihat capek dan sek aras sudah tidur, karena nona An tidur Hanifah duduk di sofa kamar nona An, sedang sang suster sedang berada di kamarnya untuk istirahat memang biasanya antar Hanifah dan suster bergantian dalam menjaga nona An.
"Selamat siang, Tuan," sapa Hanifah begitu melihat Lancelot masuk ke dalam kamar nona An.
"Siang Han, An, apa masih tidur?" tanya Lancelot dengan suara pelan.
"Iya, Tuan." sahut Hanifah sopan.
"Bisa ikut saya sebentar, saya tunggu di raung kerja saya." perintah Lancelot pada Hanifah.
"Nona kecil sedang tidur dan tidak ada yang jaga Tuan." bantah Hanifah.
"Suster kemana?" tanya Lancelot.
"Suster sedang istirahat, karena waktunya dia untuk istirahat dan sekarang tugas saya untuk menjaga nona An," sahut Hanifah jujur.
"Baiklah, di sini saja jika tidak mengganggu An," ucap Lancelot mrngalah.
"Saya kira tidak akan mengganggu kalau bicaranya tidak keras, kira-kira ada hal penting apa yang ingin tuan sampaikan pada saya." sahut Hanifah.
"Apa kepentinganmu dengan temanmu tadi?" tanya Lancelot dengan wajah datarnya.
"Bulan ini teman saya ulang tahun tuan, karena saya tidak ada waktu untuk membeli hadiah buat dia maka saya kasih uang saja biar dia beli sendiri," jelas Hanifah walau sebenarnya berbohong.
__ADS_1
"Hanya sekedar kamu ngasih hadiah kan, Bukan karena kamu terlibat hutang di luar kan? atau kamu mengadu hal-hal yang tidak-tidak pada temanmu" tanya Lancelot penuh selidik.
"Di sini saya tidak punya hutang Tuan, dan saya juga tidak perlu mengadu apapun pada teman atau pada siapapun," sahut Hanifah sedikit kesal bagaimana bisa punya hutang setiap hari saja di rumah saja, keluar dua kali saja selalu di kawal seperti tahanan sel saja.
"Bagus, aku tidak suka punya pembantu yang terlibat dengan hutang Bank." jelas Lancelot datar.
"Saya paham tuan." jawab Hanifah sambil mengangguk mengerti.
"Bagus," ucap Lancelot lalu pergi meninggalkan Hanifah tanpa pamit pada Hanifah.
"Sabar-sabar, keluar saja sama dia kok ya masih ribut tentang hutang Bank." gerutu Hanifah dalam hati.
Sepeninggalan Lancelot Hanifah kembali duduk di sofa menunggu nona An, bangun, sambil nunggu nona An, Hanifah membuka hand phonnya yang sejak tadi belum sempat disentuhnya. Hanifah membuka hand phonnya dan membuka aplikasi hijau, siapa tahu ada yang mengirim pesan. Dari aplikasi hijau Hanifah membuka beberapa pesan salah satunya pesan dari Tatuk. Hanifah membaca dan membalas pesan dari Tatuk
"Pakai saja Tuk, aku iklas yang penting kamu di sini tidak sampai kekurangan, itu tidak seberapa alhamdulillah aku dapat gaji dobel, dulu aku bermimpi pingin punya banyak uang, gaji besar, sekarang sudah terwujud, eh malah gak bisa menggunakan, dari pada mubadzir yan buat kamu saja." pesan Hanifah yang di kirim buat Tatuk dengan diberi gambar tertawa.
"Terima kasih, Han, kalau kamu iklas sebagian akan Aku amalkan, biar rejeki kita tambah berkah, jujur aku takut saat membuka tadi, takut kalau itu pinjanam darimu." pesan dari Tatuk untuk Hanifah terkirim.
Hanifah dan Tatuk saling berbalas WhatsApp selama tiga puluh menit, mereka bercanda sebentar saling kirim pesan karena tidak bisa menggunakan panggilan telpon, sebab Hanifah sedang menunggu nona An, yang masih terlelap.
Lancelot yang mengetahui Hanifah sedang berchat ria dengan temannya, Lancelot langsung berusaha untuk menerjemahkan chatnya Hanifah dan Tatuk dengan menggunakan Google translate, sayangnya Lancelot tetap tidak bisa mengerti arah pembicaraan Tatuk dan Hanifah sebab Hanifah dan Tatuk menggunakan bahasa campuran dan tulisannya juga banyak yang disingkat.
"Ternyata tidak mudah untuk bisa memahami bahasa mereka." gumam Lancelot sedikit frustasi karena chatnya sama sekali tidak bisa dipahami oleh Lancelot.
__ADS_1
Lancelot menyadap nomor hand phone Hanifah bukan tanpa alasan, mengingat A ling mantan kekasih Lancelot yang menjadi ancaman bagi ketenangan Lancelot.
Hari demi hari kehidupan Lancelot dan keluarganya masih normal-normal saja tidak ada yang perlu di khawatir, yang tidak normal pikiran Lancelot yang masih terus terbayang saat tidak sengaja memergoki Hanifah yang sedang menyusui putrinya, ditambah secara tidak sengaja terekam di layar CCTV. Nyonya Bisseling dan tuan Bisseling tetap berangkat ke negara Kanada untuk berlibur. Kepergian tuan dan nyonya Bisseling tidak terasa sudah hampir satu bulan, selama itu tidak hal yang mencurigakan dan info tentang A ling yang ingin kembali ke negara Hongkong juga belum terbukti. Namun info tentang mata-mata dan anak buah A ling yang terus mengawasi Lancelot dan keluarganya selalu masuk di telinga Lancelot.
Nona An semakin hari kepintarannya juga semakin bertambah, tingkahnya yang lucu selalu mengundang gelak tawa bagi orang yang melihatnya. Akhir-akhir ini Lancelot sangat disibukkan dengan pekerjaan kantornya sehingga Lancelot juga selalu pulang larut setelah semua penghuni rumah tidur.
Malam ini Lancelot pulang dari kantornya dengan Dandruff jam dua belas malam, Dandruff malam ini nginap di rumah Lancelot, di samping sudah terlalu larut Dandruff juga sudah sangat capek. Hanifah terbangun karena rasa haus serta ingin mengecek keadaan nona An di kamarnya, setelah mengecek nona An, Hanifah turun ke bawah untuk mengambil air.
"Selamat malam tuan." sapa Hanifah saat berpapasan dengan Lancelot yang bati masuk rumah, dan tentu masih lengkap dengan pakaian kerjanya tasu pagi.
"Malam Han, kamu belum tidur?" tanya Lancelot.
"Sudah Tuan, ini mau ambil minum." sahut Hanifah.
"Ooo."
Lancelot segera berlalu dari Hanifah menuju di kamarnya untuk membersihkan diri, hanya dalam waktu lima belas menit Lancelot sudah berada di bawah lagi. Begitu sampai di lantai bawah Lancelot penasaran sebab lampu di dapur Hanifah masih menyala. Tanpa Hanifah sadari Lancelot berdiri di pintu dapur mengamati Hanifah yang sedang memakan buah apel dengan lahap, Hanifah memilih memakan buah apel untuk mengganjal perut karena Hanifah tidak diperbilihkan makan sembarangan, Hanifah tengah malam makan bukan hal yang aneh bagi penghuni rumah Lancelot semua sudah tahu jika ibu menyusui sering lapar.
"Tuan." sapa Hanifah sedikit gagap karena baru sadar jika Lancelot mengamati dirinya.
"Apelnya masih?" tanya Lancelot langsung melangkah menuju meja makan Hanifah.
"Masih Tuan, kalau Tuan mau biar saya ambilkan." sahut Hanifah sopan.
__ADS_1
"Biar aku ambil sendiri saja," sahut Lancelot langsung berdiri dan menuju ke kulkas.
Hanifah tidak peduli dengan kehadiran Lancelot yang duduk berhadapan dengannya, Hanifah tetap sibuk makan buah apel tanpa sungkan. Lancelot memilih ikut Hanifah duduk untuk memakan buah apel yang baru diambilnya dari dalam kulkas.