Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 205


__ADS_3

Hanifah tidak sadarkan diri cukup lama, jam tiga pagi Hanifah membuka matanya, dia bingung dengan keadaan sekitarnya sebab sangat tidak familiar baginya, Hanifah menengok kanan dan kiri mencari seseorang siapa tahu ada yang dia kenal, dari atas ranjang Hanifah memlihat dan mendengar sayup-sayup doa yang di panjatkan oleh Lancelot dalam sujud malamnya. Lancelot merupakan mualaf yang taat, hampir setiap hari antara Lancelot dan Hanifah melaksanakan sholat berjamaah entah itu sholat wajib maupun sholat sunah.


"Pa... pa...." panggil Hanifah lirih.


Lancelot mendengar ada yang memanggil dia langsung mengakiri doa-doanya.


"Ma.... Alhamdulillah mama sudah sadar!" seru Lancelot lirih.


Lancelot segera memeluk Hanifah yang masih terbaring di rumah sakit.


"Pa, ada apa ini perutku rasanya nyeri." ucap Hanifah lirih sambil menahan rasa nyeri di bekas operasinya.


"Mama tertusuk, perut mama di jahit, maafkan Papa, Ma, Papa tidak becus melindungi mama." ungkap Lancelot, dengan mata yang berkaca-kaca, bahkan Hanifah dapat melihat gurat kesedihan di wajah Lancelot, apalagi matanya juga teelugay sangat bengkak.


"An, bagaimana dengan Putri kita?" tanya Hanifah.

__ADS_1


"Putri kita selamat, An sedang tidur di rumah mama, Mama jangan khawatir Putri kita baik-baik saja." jelas Lancelot.


"Syukur alhamdulillah, mama lega." sahut Hanifah bahagia mendengar nona An selamat.


"Mama, mau minta apa?" tanya Lancelot.


"Apa lukanya dalam sekali, kenapa sangat nyeri sekali?" tanya Hanifah, karena Hanifah tisak puas dengan jawaban Lancelot, Hanifah dapat merasakan jika Lancelot merahasiakan sesuatu darinya.


"Mama, jangan banyak gerak." jawab Lancelot.


"Mama istirahat dulu, dokter bilang mama harus banyak istirahat agar tubuh mama sehat kembali," sahut Lancelot, mengalihkan pembicaraan.


"Apa besok mama boleh pulang?" tanya Hanifah lagi.


"Kita tunggu keputusan dokter besok." jawab Lancelot lembut.

__ADS_1


Hanifah, kembali memejamkan mata karena sebenarnya Hanifah masih sangat lelah dan ngantuk efek obat bius yang di suntikkan tadi siang. Lancelot membelai lembut kepala Hanifah, setelah beberapa saat Hanifah sudah kembali terbuai di alam mimpi. Lancelot tidak jemu terus memandangi wajah Hanifah, yang begitu damai berada di alam mimpinya, tidak terasa Lancelot tertidur di tepi ranjang tempat Hanifah, berbaring.


Pagi-pagi sekali Lancelot sudah rapi, Lancelot tetap berada di rumah sakit untuk menunggu Hanifah, sebelum berangkat sekolah nona An, minta agar di ijinkan untuk bisa melihat Hanifah, karena bukan jam jenguk nona An, a hanya bisa melihat Hanifah dari balik pintu, nona An mengintip dari lubang kaca yang di pasang di pintu. Di saat nona An, me ngintip Hanifah masih terbuai dengan alam mimpinya, Lancelot menemui nona An, di luar kamar Hanifah.


"Pa, mama gak bangun-bangun?" tanya nona An, sedih.


"Mama sudah bangun, tapi karena mama sangat capek jadi mama tidur lagi." jawab Lancelot.


"Aku gak mau sekolah kalau mama gak bangun, aku mua di sini menemani mama." rajuk nona An.


"Anak papa, tidak boleh merajuk anak papa harus, berangkat ke sekolah, kalau An, tidak mau sekolah nanti mama gak mau bangun, ayo bagaimana pesan mama." bujuk Lancelot lembut.


"Aku tisak boleh cengeng." sahut nona An, dengan wajah memelas.


"Anal pinter, semangat belajar, dan jangan lupa berdoa agar mama cepat sembuh." nasehat Lancelot.

__ADS_1


An, berangkat sekolah dengan di antar oleh tuan dan nyonya Bisseling, tentunya dengan di kawal oleh para bodyguardnya.


__ADS_2