Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 14


__ADS_3

Tidak terasa nona kecil kini sudah berusia satu bulan, seperti bayi pada umumnya nona kecil melakukan imunisasi, imunisasi nona kecil di lakukan sendiri oleh dokter Silk, tanpa harus pergi ke rumah sakit. Setelah imunisasi selayaknya bayi pada umumnya hari ini nona kecil mulai rewel, efek dari imunisasi membuat nona kecil mengalami demam, selama demam nona kecil tidak mau turun dari pangkuan Hanifah, beberapa kali suster, Lancelot maupun nyonya Bisseling ingin mengambil alih nona kecil namun berakhir pada sebuah tangisan yang semakin kencang, nona kecil benar-benar tidak mau berada di pangkuan orang lain.


Lancelot yang notabennya sebagai ayah kandungnya tetap mendapat penolakan dari nona keci. Hari ini Lancelot benar-benar merasakan betapa repotnya mengurus bayi baru lahir.


"Sebaiknya Tuan dan Nyonya tidur saja, saya akan jaga nona kecil." ucap Hanifah, sebab hari sudah sangat larut.


"Baiklah, Sus tolong temani Hani dan cucuku." perintah nyonya Bisseling yang sudah kelihatan kecapek an.


"Ya, Mama, sebaiknya istirahat, dan kamu Sus, kamu juga istirahat saja biar saya yang menemani Hanifah menjaga putriku." perintah Lancelot, Wajah Lancelot kini nampak sangat khawatir.


"Tuan, istirahat saja." Hanifah menolak halus untuk di temani Lancelot.


"Aku akan tetap di sini." ujar Lancelot tidak mau jauh-jauh dengan Putrinya.


"Tuan istirahat saja biar saya yang menjaga nona kecil." suster itu menolak untuk istirahat.


"Sus, istirahatlah sekarang cucuku hanya mau dengan Hani, besok gantian kamu yang jaga, jika cucuku sudah reda demamnya," perintah nyonya Bisseling.


Nyonya Bisseling dan suster meninggalkan kamar nona kecil menuju kamar masing-maisng untuk istirahat. Sedang Lancelot tetap memilih berada di kamar putrinya, menemani Hanifah yang sedang memangku putrinya.


"Han, bisa di taruh gak?" tanya Lancelot lirih sambil memberi isyarst sebab Lancelot melihat Hanifah yang sering menguap.


"Nona kecil tidak tidur." jawab Hanifah lirih.


"Coba dulu." Lancelot tetap memaksa.

__ADS_1


Lancelot terus mendesak Hanifah agar menidurkan anaknya di dalam bok, akhirnya Hanifah mengalah dari pada harus berdebat panjang dengan majikannya, Hanifah menaruh nona kecilnya kedalam bok secara pelan-pelan namun belum sampai nona kecilnya samapi di kasur nona kecilnya langsung menangis sekeras-kerasnya. Hanifah kembali menggendong dan menenangkannya, Lancelot hanya mondar-mandir mengikuti Hanifah yang jika mondar mandir kecil karena nona kecilnya tidak mau diajak duduk, setelah nona kecilnya kembali tidur dengan nyenyak Hanifah langsung duduk di sofa sambil memanggku nona kecilnya yang tidur ayam.


"Bagaimana?" tanya Lancelot tanpa suara.


Hanifah hanya menggelengkan kepala, takut bersuara dan mengganggu ketenangan nona kecilnya.


Lancelot akhirnya menyerah setelah dua kali menyuruh Hanifah untuk manaruh Putrinya malah berakhir sebuah tangisan kencang dari sang Putri, hingga menjelang pagi nona kecil baru bisa tidur dan bisa ditaruh di dalam bok. Setelah nona kecilnya bisa ditaruh di dalam bok Hanifah pamit pada Lancelot untuk ke kamar sebentar karena waktu sudah masuk subuh, Hanifah meninggalkan nona kecilnya di bawah pengawasan Lancelot dan tidak lupa Hanifah berpesan pada Lancelot agar jangan buat suara gaduh.


Sepanjang malam ini Lancelot menemani Hanifah untuk merawat Putrinya yang sedang tidak enak badan, biasanya Lancelot hanya melihat sebentar sepulang dari kerja dan sepulang dari kerja, Lancelot jarang sekali menggendong Putrinya paling jika sedang libur tidak kerja Lancelot baru menggendong dan bercengkerama dengan putrinya.


Setengah jam berlalu Hanifah sudah kembali ke ruangan nona kecilnya setelah sekesai melaksanakan sholat subuhny, di dalam bok nona kecilnya masih terlelap dengan damainya, demam dalam tubuhnya juga sudah mulai reda. Hanifah menyuruh Lancelot untuk beristirahat karena nona kecilnya sudah tidur, namun Lancelot tetap menolaknya. Lancelot bersandar dan memejamkan pada kursi besar yang ada di kamar putrinya, sedangkan Hanifah memilih bersrlonjor duduk di sofa untuk mengistirahatkan tubuhnya.


Pukul delapan pagi penghuni di rumah Lancelot sudah mulai beraktifitas dengan tugasnya masing-masing, suster yang jaga kini telah membangunkan Hanifah yang telah tertidur di sofa, Hanifah sangat terkejut pasaknya dia takut kelewat ngasih ASI pada nona kecilnya.


"Saya kira sudah jam berapa sus, nona kecil sudah bangun apa belum?" tanya suster.


"Aku cuci muka dan mau mandi dulu badanku pegel semua, setengah jam lagi waktunya nona kecil minum ASI lagi." Hanifah pergi meninggalkan kamar nona kecilnya dengan rasa kantuk yang sangat berat.


"Bagaimana dengan tuan mbak?" tanya suster.


"Kalau mbak berani membangunkan tuan ya bangunkan, namu jika mbak tidak berani biarkan tuan tidur soalnya aku juga tidak berani membangunkan tuan, biarkan jangan di ganggu biar dia bangun dengan sendirinya." jawab Hanifah, pasalnya Hanifah juga tidak berani membangunkan Lancelot


Kamar nona kecil kembali hening, nona kecil masih damai dengan tidurnya, sedangkan Lancelot juga masih berkelana di alam mimpinya, sedang sang suster di duduk menunggui anak dan bapak itu berada di alam mimpi masing-masing.


Matahari semakin tinggi, sinar mentari pagi menerobos masuk ke dalam kamar nona kecil melalui celah-celah udara yang terpajang di kamar nona kecilnya. Nona kecil mulai menggeliat dan mengeluarkan suara, pertanda dia sudah lapar dan ingin minum susu, suster dengan cekatan menghampiri nona kecil serta memeriksa keadaan diapers nona kecilnya. Diapers nona kecil yang di pakainya sudah penuh, suster segera mengganti diapers nona kecil dengan yang baru sebelum dia minum susu tidak lupa suster membantu nona kecilnya untuk cuci muka dengan was lap.

__ADS_1


"Nona sudah bangun mbak?" tanya Hanifah yang sudah segar setelah mandi dan keramas.


"Baru bangun mbak." jawab suster.


Nona kecil itu kini mengeluarkan suara tangisnya, mungkin dia sudah mencium bau susu Hanifah.


"Nona lapar ya, sini minum susu dulu." ucap Hanifah mengambil nona kecilnya dari tempat dia berganti diapers.


Mendengar suara tangisan putrinya Lancelot terbangun. Lancelot seperti orang bingung begitu bangun mendapat dirinya tidak berada dalam kamarnya.


"Selamat pagi tuan." sapa suster sopan.


"Selamat pagi tuan." sapa Hanifah sopan.


"Selamat pagi, jam berapa sekarang ?" Lancelot bertanya masih dengan nyawa yang belum genap.


"Jam setengah sembilan tuan." jawab suster.


Hanifah kini sibuk dengan nona kecilnya yang mulai sedikit rewel, ingin dia segera menyusui nona kecilnya namun Lancelot belum keluar dari kamar nona kecilnya.


"Kenapa, putriku rewel, apa masih demam?" tanya Lancelot cemas.


"Demamnya sudah turun, cuma nona lapar ingin minum susu." jelas Hanifah.


"Baiklah, saya keluar dulu." Lancelot segera meninggalkan kamar putrinya, Lancelot sudah hafal akan kebiasaan Hanifah.

__ADS_1


Sepeninggalan Lancelot, Hanifah segera menyusui nona kecilnya, selesai minum ASI nona kecil itu menyunggingkan senyum manis Kha bayi.


__ADS_2