
Nyonya dan tuan Bisseling sudah duduk di depan dokter Khong Guan, dokter ahli saraf yang sudah tidak di ragukan lagi kemampuannya.
"Dok bagaimana dengan keadaan Putra kami?" Tuan Bisseling memulai pembicaraannya.
"Tuan dan nyonya tidak perlu khawatir dari kemarin setelah saya amati kesempatan untuk sembuh tuam Lancelot, sangat besar, terbukti tadi pagi tuan Lancelot telah merespon dengan mengeluarkan airmata, barusan dia menggerakkan jarinya, itu artinya tuan Lancelot tidak akan lama mengalami koma." jelas dokter Guan.
"Benar begitu adanya dok?" tanya nyonya Bisseling antusias.
"Ya, menurut dari yang saya amati begitu nyonya, saya harap keluarga rajin datang dan ajaklah bicara terutama orang yang sangat berarti buat hidupsi pasien." jelas dokter Guan.
"Baik, dok kami akan selalu datang dok." sahut nyonya Bisseling antusias.
__ADS_1
"Itu, lebih bagus saya harap tuan Lancelot bisa segera sembuh seperti sedia kala." ucap Dokter Guan.
"Dok, kapan anak saya bisa kembali sadar?" tanya nyonya Bisseling.
"Maaf nyonya sekali lagi saya tekankan kami tidak bisa menentukan, namun dari yang saya lihat tuan Lancelot memiliki semangat untuk sembuh yang kuat, jadi dukungan dari orang yang tersayang dan terdekat sangat membantu sekali kesembuhan tuan Lancelot." jelas dokter lagi.
"Baik dok kami mengerti, kami percayakan pada dokter." ucap tuan Bisseling bijak.
Setelah selesai membahas tentang keadaan Lancelot nyonya dan tuan Bisseling meninggalkan ruangan dokter Khong Guan, mereka kembali menuju ruang ICU tempat Lancelot dirawat.
Nyonya dan tuan Bisseling harap-harap cemas dengan keadaan yang di alami oleh Lancelot.
__ADS_1
"Han, Joyce, sudah malam waktu kunjung juga sudah habis, kalian pulang saja dulu sama nyonya, biar aku yang di sini," perintah tuan Bisseling.
"Kita pulang dulu Han, Joyce, besok kita kesini lagi." ajak nyonya Bisseling.
Nyonya Bisseling, Hanifah, Joyce, dan nona An pulang diantar oleh sopir dan dengan pengawalan ketat dari para bodyguard keluarga Bisseling. Tuan Bisseling sengaja tetap berada di rumah sakit karean ingin memastikan keamanan di rumah sakit benar-benar aman.
Jam sembilan malam rombongan nyonya Bisseling, sampai di rumah. Hanifah dan nyonya Bisseling masuk rumah sedangkan Joyce diantar sopir kembali ke rumah Lancelot. Nyonya Bisseling sesampainya di rumah dia tidak masuk ke kamarnya malah mengikuti Hanifah masuk ke kamar Lancelot yang di tempat oleh Hanifah dan nona An.
Nona An, sangat pintar dia sama sekali tidak rewel, begitu masuk kamar Hanifah segera membantu nona An untuk membersihkan dan mengganti baju nona An, setelah selesai membantu nona An, Hanifah mengganti bajunya sendiri. Nyonya Bisseling tetap mendampingi Hanifah dan nona An tanpa mengeluh, dan menungguinya hingga nona An terlelap dalam mimpinya, setelah nona An, tidur Hanifah duduk di sofa yang ada di kamar Lancelot bersama dengan nyonya Bisseling.
"Nyonya, bagaimana keadaan tuan, dan apa kata dokter?" tanya Hanifah masih dengan gurat kesedihan.
__ADS_1
"Keadaannya masih tergolong baik namun kapan sadar dokter tidak tahu, tadi dokter menyarankan agar kita setiap hari datang untuk menjenguknya dan mengajaknya bicara, tugas kamu sekarang bertambah Han, setiap hari kamu harus membawa An, untuk bertemu dengan Lanc, karena dukungan dari orang terdekat dan tersayang yang dibutuhkan Lancelot, sekarang, dan yang aku tahu, kamu dan An, yang ada dalam hati dan pikirannya sekarang, sesuai pesan Lancelot akir-akir ini, maka kamu dan An, harus berada di rumah ini kalian sekarang di bawah lindungan kami." nyonya Bisseling menjelaskan secara gamblang pada Hanifah.