
Sebuah pesawat yang sangat besar dan gagah telah mendarat sempurna di bandara internasional kota Surabaya. Seluruh penumpang denngan sangat antusias telah turun dari pesawat, Sebagaimana penumpang lainnya Hanifah dan keluarga Bisseling keluar dari imigrasi setelah pengecekan dokumen perjalanan mereka.
Di pintu kedatangan kedua orang tua Hanifah sudah menunggunya di sana dengan di temani oleh Setu Pon, rekan kerja Lancelot, yang selama ini juga menjadi jembatan baginya untuk menjadi mualaf.
Hanifah sangat bahagia sekali setelah empat tahun lamanya akhirnya dia bisa menginjakan kakinya di tanah kelahirannya negara Indonesia. Kebahagiaan yang di rasakan Hanifah sama Sebagaimana para pekerja Indonesia yang telah kembali ke kampung halamannya. Hanifah begitu sudah keluar dari ambil bagasi dia langsung menyonsong ibunya, Hanifah langsung memeluk ibunya haru, selain kedua orang tua Hanifah, Setu Pon ada juga kerabat Hanifah lainnya. Bagi orang kampung bisa pergi ke bandara dan menjemput saudara yang baru pulang dari luar negeri memang suatu kebanggaan tersendiri.
"Bapak." Hanifah bersalaman dan mencium tangan Legi.
"Slamet nduk, alhamdulillah akirnya kamu bisa pulang juga." sahut Legi bahagia.
"Bulek," Hanifah menyalami dan menyapa adik ibunya.
"Han, Alhamdulillah kamu sudah pulang Han sudah lama kira tidak berjumpa, slamet ya Han." sahut buleknya Hanifah.
"Alhamdulillah, bulik, di Ulin gak ikut to bulek?" tanya Hanifah.
"Adikmu lagi ada tugas sekolah di luar kota, jadi gak bisa ikut." sahut Tandur buleknya Hanifah.
Mereka saling menyapa bersalaman dan berpelukan, Hanifah juga tidak lupa memperkenalkan keluarga majikannya ke Tandur. Nyonya dan tuan Bisseling sangat menikmati perjalanannya, sore ini karena has sudah agak petang maka semua rombongan setelah makan malam mereka tidak langsung pulang ke rumah orang tua Hanifah, namun Lancelot mengajak semua untuk bernaksm di villa yang baru di bangun oleh Lancelot di kira Malang.
Setelah perjalanan kurang lebih tiga jam dari bandara menuju kota Malang, mereka akhirnya sampai di villa. Di kota Malang Lancelot sengaja membangun villa untuk dia dan keluarga beristirahat, begitu sampai di villa nyonya Bisseling sangat takjub dan kagum dengan desain villa dan keindahan alam di sekitar villa. Di villa Lancelot sudah ada istri Setu Pon dan salah satu anaknya, Lancelot meminta Setu Pon untuk mengajak anak dan istrinya agar nona An, tidak jenuh minimal ada temannya, dan kebetulan anak Setu Pon juga Susan jago bahasa inggris.
"Wow amazing, sejuk sekali Indah, menawan." nyonya Bisseling langsung terpukau.
"Pertama kali papa datang ke sini papa juga langsung suka, udara ya masih bersih dan segar jauh dari polusi udara, kalau pagi tambah segar sekali," tambah tuan Bisseling.
"Itu, sebabnya Lancelot langsung membeli tanah dan membangunnya di sini, suasananya tenang dan damai," tambah Lancelot.
__ADS_1
Hanifah, nona An, kedua orang tua Hanifah dan Tandur sibuk sendiri menikmati kebersamaanya. Keindahan malam kota Malang, bisa di ikmati dari villa, mereka semua berkumpul di teras bagian atas di samping untul melihat Indahnya kota Malang, mereka juga menikmati sejuknya udara malam yang begitu seger dan bersih. Nona An yang baru pertama kali datang ke Indonesia dia sangat senang sekali.
Tidak terasa waktu semakin larut, mereka semua sampai tidak merasakan yang namanya capek setelah perjalanan, yang ada mereka sangat bahagia sekali.
"Sudah ham sebelas malam, sebaiknya kita tidur," ucap nyonya Bisseling.
"Lihatlah An, sama sekali tidak kelelahan dia seperti memiliki energi ektra." ucap Lancelot.
"Nona, sudah malam ayo tidur." Hanifah mengajak nona An.
"Belum ngantuk." sahut nona An, dia masih asyik bermain dengan anak Setu Pon yang paling kecil.
"Anak-anak sudah sangat larut ayo segera masuk ke dalam kamar, istirahat dan besok kita jalan-jalan lagi." perintah Lancelot.
"Ayo, anak manis kita tidur dulu istirahat supaya besok kita punya tenaga yang banyak untuk bermain lagi, kalian tahu nggak di dekat rumah mama Hani, ada kebon buah apel, besok kita bisa ambil buah di sana bagaimana?" Sekarang Giliran seru Pon yang merayu kedua bocah itu.
"Aku, gak bisa ambil." ucap nona An, sedih.
"Kan ada mama, besok mama akan ajari anak mama ini manjat pohon dan ambil buah, bagaimana?" bujuk Hanifah pada nona An.
"OK." Nona An menyetujui usulan Hanifah.
Semua yang ada di villa memasuki kamar masing-masing untuk istirahat, tidak sampai lama nona An, susah terlelap dalam pelukan Hanifah, namun Hanifah malah tidak bisa tidur da tears memikirkan tentang nona An, jika baeus berpisah dengannya. Setelah nona An tertidur karena tidak bisa tidur Hanifah, keluar dari kamarnya. Hanifah memilih menikmati dinginnya malam di salah satu balkon yang ada di lantai dua, Hanifah duduk sendirian sambil menatap jauh ke depan, menembus gelapnya malam yang bertabur bintang.
"Han, kamu tidak tidur?" suara Lancelot mengagetkan lamunan Hanifah.
"Tu... Tu... Tuan, Tuan tidak tidur?" tanya Hanifah, gugup karena terkejut.
__ADS_1
"Sudah tengah malam, apa yang kamu pikirkan kenapa kamu belum tidur ?" tanya Lancelot lagi.
"Mungkin karena saya tidak sabar untuk menunggu besok," sahut Hanifah asal.
"Besok?" tanta Lancelot penasaran.
"Ya, besok, karena untuk sampai ke kampung halaman saya kan masih harus menunggu sampai besok." sahut Hanifah.
"Baiklah, aku kira kamu tidak sabar untuk menjumpai pacarmu," ujar Lancelot asal.
"Pacar, bagaimana saya bisa pacaran waktu untuk bermain saja seolah gak pernah ada kok mikir pacaran, lagian bukan tipe saya pacaran itu," sahut Hanifah.
"Menikah? Bagaimana jika kita menikah saja" ucap Lancelot "Kalau kamu bersedia sekarang juga aku akan menikahi kamu," ucap Lancelot bersungguh-sungguh.
"Tuan!" seru Hanifah.
"Alasan apalagi yang akan kamu lontarkan Han?" ucap Lancelot.
"Maksud Tuan?"
"Kalau dulu kamu menolakku karena kita beda kepercayaan sekarang tidak ada lagi perbedaan itu." ucap Lancelot.
Hanifah tidak menjawab dia hanya diam, karena memang sai tidak ada alasan lagi untuk bisa menolak lamaran Lancelot.
"Diammu aku anggap setuju, selamat malam." ucap Lancelot berbalik berniat untuk meninggalkan Hanifah yang masih belum bisa berpikir secara jerbih.
"Tuan, bukan seperti itu." ucap Hanifah ketika baru menyadari jika Lancelot sudah mulai berbalik.
__ADS_1
"Sudah malam Han, tidurlah!" perintah Lancelot tanpa menghiraukan Hanifah.