
Hanifah pergi meninggalkan bandara sambil menggendong nona An, dengan membawa sejuta tanya tentang apa yang barusan dia dengar sendiri, sebuah pengakuan perasaan hati dari majikannya sendiri, selama dalam perjalan pulang Hanifah tidak banyak berbicara seperti biasanya, apalagi nona An telah terlelap dalam dekapannya. Dandruff yang menjadi sopir Hanifah, melihat keadaan dari balik spion, Dandruff sebenarnya menyadari akan keadaan Hanifah yang tidak seperti biasa namun Dandruff tidak berani bertanya pada Hanifah.
Lancelot duduk di ruang tunggu dengan dengan perasaan bahagia, Lancelot senyum-senyum sendiri saat membayangkan wajah terkejut Hanifah, "Han, aku tahu kamu menolakku sebelum kamu mempermalukanku menolak di depan umum pergi sebelum kamu menjawab itu lebih baik, aku juga tahu segala resikonya saat aku kembali nanti, sangat menarik bermain denganmu dengan kekonyolanku mencintai pengasuh putriku, entahlah Han, apa yang ada di dalam hatiku semakin kamu menolakku semakin aku mencintaimu, semakin membuatku untuk memperjuangkanmu." gumam Lancelot dalam hati.
"Tuan Dand, tidak ikut tuan Lanc?" tanya Hanifah untuk memecah keheningan dalam mobil.
"Ikut, tapi saya berangkat besok pagi-pagi sekali, karena malam ini masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan di sini." sahut Dandruff santai sambil menyetir mobilnya.
"Oh, saya kira tuan ikut bersama sebab setahu saya tuan Dand, selalu ikut dengan tuan Land." ucap Hanifah santai.
"Han, kamu punya kekasih?" tanya Dandruff penuh selidik.
"Kekasih?" tanya Hanifah terkejut dengan pertanyaan Dandruff, bagaimana tidak terkejut belum genap setengah jam mendengar pernyataan cinta dari Lancelot, kini Dandruff malah bertanya tentang kekasih.
"Ya, kekasih orang yang kamu cinta." ungkap Dandruff menperjelas.
"Buat apa punya kekasih jika tidak halal." sahut Hanifah santai.
"What? maksudmu bagaimana Han, kekasih tidak halal?" kini Dandruff yang bingung dengan jawaban Hanifah.
"Maksud saya buat apa memiliki kekasih dengan hubungan dan status tidak jelas, kalau menikahkan jelas statusnya dan sah di mata hukum dan dan agama." jelas Hanifah.
"Aku kira yang halal cuma makanan saja, ternyata kekasih ada yang halal juga, berarti jika mau menjadi kekasihmu harus segera menikah denganmu, begitu maksudnya?" tanya Lancelot.
"Ya, tentu namun untuk menikah dengan saya juga tidak semudah membalikkan telapak tangan sebab ada beberapa syarat yang saya ajukan kepada mereka yang ingin menikahiku." jelas Hanifah berusaha santai.
Hari ini Hanifah di kejutkan dengan berbagai macam pernyataan yang membuatnya senam jantung, pertama ucapan cinta Lancelot kedua tiba-tiba Dandruff bertanya tentang kekasih.
__ADS_1
"Han, kenapa Han menolak tuan, apa tuan tidak masuk lis dalam kriterimu?" tanya Dandruff penuh selidik.
Hanifah tidak begitu terkejut dengan pertanyaan Dandruff, tidak mungkin Lancelot tidak curhat ke Dandruff, sebab Dandruff merupakan orang terdekat Lancelot selain Ang sang sahabatnya.
"Mungkin." jawab Hanifah singkat.
Dandruff nyetir sambil geleng-geleng kepala "Banyak wanita yang menginginkan hidup bersama dengan tuan Lanc, dia memiliki segalanya." prancing Hanifah.
"Saya rasa tidak semua tuan memilikinya, tidak ada manusia di dunia ini yang memiliki segalanya tanpa cacat." jawab Hanifah sedikit pelik.
"Terlalu pelik, kebanyakan wanita memandang laki-laki dari harta lalu kamu memandang laki-laki dari segi apa Han?" Dandruff semakin penasaran dengan segala jawaban Hanifah.
"Iman." jawab Hanifah singkat "Sekarang saya yang ganti tanya pada tuan, kenapa tuan mengintrogasi saya, apa Tuan Dandruff di suruh tuan Lanc?" Hanifah balik tanya pada Dandruff.
Dandruff menyunggingkan sebuah senyuman "Tentu tidak, ini murni dari rasa penasaranku saja, aku bekerja pada tuan Lanc, sudah lama dan baru kali ini aku melihat ada cinta dari sorot matanya dan itu hanya ketika bersama denganmu, sedang kamu dengan percaya diri menolaknya, itu yang membuat aku penasaran ya aneh saja menurutku, dan sungguh menakjuubkan seorang tuan muda di tolak cintanya oleh seorang wanita padahal biasanya tuan Lanc, yang menolaknya." jelas Dandruff.
"Baiklah mungkin juga aku setuju dengan pemikiranmu, sekarang sudah sampai oh ya Han, ingat pesan tuan jangan keluar rumah sendirian, jika perlu sesuatu bilang ke nyonya besar, karena tuan Lanc, sangat menghawatirkan kalian, tuan muda Lanc pasti akan mengejarmu dia tidak akan menyerah sebelum mendapatkanmu." pesan Dandruff sebelum Hanifah turun dari mobil
"Terima kasih tuan." jawab Hanifah langsung turun dari mobil Dandruff.
"Hati-hati Han."
Begitu Hanifah turun dari mobil Dandruff langsung memutar mobilnya meninggalkan kediaman keluarga Bisseling.
Nyonya Bisseling yang tadinya di dalam rumah begitu mendengar suara mobil Dandruff, nyonya Bisseling, langsung keluar menghampiri Hanifah yang sedang berjalan menggendong nona An, yang masih terlelap dalam mimpinya.
"Nyonya," sapa Hanifah lirih dan sopan.
__ADS_1
Nyonya Bisseling menyambut dengan sebuah senyuman "Baru tidur atau sudah lama?" tanya nyonya Bisseling lirih.
"Baru sekitar lima belas menit nyonya." sahut Hanifah lirih dan sopan.
Nyonya Bisseling mendampingi Hanifah untuk masuk kedalam rumah hingga sampai di kamar Lancelot yang berada di lantai empat takutnya Hanifah belum hafal dengan keadaan di rumahnya, Hanifah menidurkan nona An, di kasur milik Lancelot, nyonya Bisseling menatap dengan senyuman penuh kebahagiaan, setelah menidurkan nona An, nyonya Bisseling mengajak Hanifah duduk di salah satu sudut kamar Lancelot sambil melihat pemandangan di luar sana.
"Han."
"Iya Nyonya." sahut Hanifah sopan.
"Kontrakmu masih berapa lama?" tanya nyonya Bisseling, sebab nyonya tidak paham dengan kontrak kerja pembantu dari luar negeri.
"Kurang sembilan bulan lagi nyonya sebab visa kerja saya berlaku hanya dua tahun saja." sahut Hanifah sopan.
"Setelah itu?" tanya nyonya Bisseling Bisseling lagi.
"Jika saya nambah kontrak maka harus tanda tangan kontrak baru dan mengajukan visa baru," jelas Hanifah.
Nyonya Bisseling Bisseling mamggut-manggut mendengar prnuturan Hanifah.
"Kamu tahu Han, aku senang sekali karena putraku mau menginap di sini walau beberapa hari apalagi dia menginap dengan anaknya walau tanpa istri, semenjak mempunyai rumah sendiri dan fokus ke pekerjaannya dia tidak pernah menginap dan tidur di sini, setiap kali naik dan membuka kamar ini aku selalu bermimpi ada anak lelakiku yang sedang bersembunyi di bawah selimut, rumah sebesar ini rasanya sepi sekali tanpa adanya anak-anak, beratahun-tahun aku menanti adanya seorang wanita yang bisa memberikan keturunan pada anakku, namun semua pupus ketika putraku memutuskan tidak akan menikah, dan memilih untuk memiliki keturunan lewat rahim kontrak, dia mengontrak rahim dari wanita yang tidak pernah dia kenal, jangankan kenal bertemupun tidak pernah." nyonya Bisseling mengutarakan keluh kesahnya pada Hanifah.
Hanifah mendengarkan keluh kesah nyonya Bisseling dengan seksama, mendengar keluh kesah nyonya Bisseling membuat Hanifah teringat akan ibunya, ya ibunya Hanifah kini juga sendirian di rumah bersama dengan bapaknya karena Hanifah tidak memiliki saudara.
"Nyonya kenapa tuan sampai memutuskan untuk tidak menikah dan saya juga tidak mengerti kenapa harus menggunakan jalan rahim kontrak, bagaimana nasap anak itu, itu yang menjadi pikiran saya sampai sekarang." ucap Hanifah.
"Alasannya A ling, cinta pertamanya pada A ling dan saat itu juga Lancelot dihianati, ya anakku terlalu bodoh dengan wanita, berkali-kali aku kenalan dengan anak dari teman maupun kolegan kerja kami semua di tolak, kami sampai putus asa, bagaimana cara menghadapi anakku itu," cerita nyonya Bisseling menerawang pemandangan di luar kamar "Aku gak paham apa yang kamu sebut nasap." tanya nyonya Bisseling.
__ADS_1