Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 55


__ADS_3

"Nyonya, maaf merepotkan." cicit Hanifah merasa tidak enak.


"Tidak apa Han, lagian kamu tidak tahu jika kita mau ke luar negeri dan yang mengemasi barang bawaan juga bukan kamu, sudah sewajarnya anakku membelikan pembalut untukmu." sahut nyonya Bisseling enteng tanpa beban.


Lancelot meninggalkan hotel dengan berjalan kaki mencari supermarket terdekat yang ada di sekitar hotel, beruntung tidak jauh dari hotel ada swalayan kecil yang beroperasi dua puluh empat jam, di sana Lancelot segera menuju rak dimana ada puluhan merek dan ukuran, Lancelot berusaha mencari merek sesuai dengan permintaan nyonya Bisseling, namanya juga laki-laki untuk melihat secara jeli sebuah produk pembalut merupakan hal yang sulit.


"Nona, maaf bisa membantu saya!" Lancelot menghampiri pelayan swalayan tersebut.


"Ada yang bisa saya bantu tuan." sahut pelayan swalayan sopan.


"Saya mencari pembalut dengan merek xxx dan ukuran xxx," ucap Lancelot santai.


"Sebentar tuan," pelayan itu dengan cekatan mengambilkan pembalut sesuai permintaan Lancelot "Ini tuan Tuan mau berapa bungkus?" tanya pelayan setelah menemukan apa yang Lancelot cari.


"Dua bungkus saja, nona, terima kasih." jawab Lancelot enteng tanpa beban.


Pelayan toko memberikan dua bungkus pembalut pada Lancelot menahan tawa geli, sebab jarang ada lelaki membeli pembalut wanita."Tuan, ini pembalutnya dua bungkus."


Setelah mendapatkan barang yang diinginkan Lancelot segera membayarnya di kasir, selain pembalut Lancelot juga membeli beberapa camilan untuk dimakan di dalam hotel, karena hari ini acaranya seharian bakal di dalam hotel tidak ada acara keluar jalan-jalan. Lancelot meninggalkan swalayan tersebut dengan jalan kaki sambil menenteng satu kantong keresek ukuran sedang. Tidak sampai satu jam Lancelot sudah kembali, Lancelot masuk kamar Hanifah langsung bisa masuk karena sudah membawa kartu akses masuk kamar hotel yang di tempati Hanifah.


"Han, ini." Lancelot menyerahkan kantong keresek pada Hanifah.


"Terima kasih tuan maaf merepotkan." cicit Hanifah sungkan dan pastinya juga menahan malu karena majikannya dengan rela hati membelikan pembalut.


"Jika masih ada yang kamu perlukan tinggal bilang ke aku nanti aku belikan, sebab di sini aku yang mengajak kamu, sudah sepantasnya aku yang harus menjaga dan menjamin segala kebutuhanmu dan keselamatanmu." ucap Lancelot.


"Terima kasih, Tuan, ini saja sudah cukup." sahut Hanifah sopan" Saya ke kamar mandi dulu tuan, nyonya." Hanifah pamit ke kamar mandi.


"Silakan." sahut nyonya Bisseling dan Lancelot bersamaan.

__ADS_1


"Aku kira kamu tidak akan berangkat mama suruh untuk membelikan pembalut." ujar nyonya Bisseling santai sambil mengawasi nona An.


"Apa pantas aku menyuruh mama atau kak Garnier beli, seperti yang Lanc, katakan Hani, sampai di negara ini karena Lanc, yang bawa." jelas Lancelot mengulang ucapannya.


"Ehm... bagus," ucap nyonya Bisseling singkat.


Nyonya Bisseling dan Lancelot kembali fokus pada nona An, nona An sibuk sendiri dengan aktifitasnya, seperti anak balita pada umumnya, nona An, mulai belajar naik turun apa saja yang bisa di panjat, berceloteh, berjalan bermain, Lancelot benar-benar kuwalahan menghadapi tingkah nona An, apalagi nona An juga mewarisi sifat keras kepala dari Lancelot. Karena lantai hotel berlapis karpet biarpun berkali-kali terjatuh nona An tidak menangis malah tertawa ceria seolah sesuatu yang lucu dan menyenangkan, bahkan berguling-gulinh di atas karpet. Hanifah setelah selesai dari kamar mandi dia ikut bergabung dengan nyonya Bisseling dan Lancelot untuk mengawasi nona An. Suasana kamar yang di tempat Hanifah benar-benar sangat hidup karena melihat kelucuan tingkah nona An, Lancelot benar-benar fokus pada nona An, Lancelot juga tidak lagi memperdulikan tentang gadgednya , berkali-kali ada panggilan atau pesan masuk Lancelot memilih mengabaikannya.


Bel kamar Hanifah berbunyi Lancelot segera menuju ke arah pintu untuk melihat, di depan pintu ada tuan Bisseling.


"Masuk, pa." Lancelot menyuruh tuan Bisseling untuk masuk.


"Dandruff, mencarimu dari tadi telpon tidak kamu hiraukan." ucap tuan Bisseling langsung masuk.


"Sengaja Lanc, tidak mau menerima panggilan dari siapapun Pa, tadi sudah aku kirim pesan padanya," sahut Lancelot santai.


"Ma ma ma ma." oceh nona An.


"Kung Kung." ulang tuan Bisseling lagi.


"Ma ma ma ma." oceh nona An.


Semua tertawa bersama-sama, sebuah moment yang sudah lama tidak di rasakan oleh keluarga Bisseling, selama beberapa tahun ini semua sudah sibuk dengan pekerjaan untuk menggapai sebuah pencapaian. Semenjak Lancelot menempuh pendidikan di luar negeri suasana seperti ini sudsh hilang, seperti setahun yang lalu di saat Lancelot akan membawa pulang nona An malah mendapat pertentangan keras dari orang tuanya.


Tangisan nona An baru menyadarkan mereka jika mereka belum makan siang, dari tadi hanya makan camilan yang telah di beli oleh Lancelot dari swalayan, nona An di samping lapar juga sudah ngantuk, dari tadi pagi nona An terus bermain dan tidak mau tidur.


Hanifah segera menggendong dan membersihkan nona An dan menenangkan nona An," Maaf, sekarang waktunya nona An, untuk minum ASI, nona juga sudah kelihatan ngantuk dan capek." ucap Hanifah.


"Baiklah kami keluar dulu." ucap Lancelot yang sudah paham maksud Hanifah.

__ADS_1


"Mama makan di sini saja sama Hani," ucap nyonya Bisseling.


"Baiklah."


Tuan Bisseling dan Lancelot pergi meninggalkan kamar Hanifah, Hanifah menyusui nona An, ditemani oleh nyonya Bisseling. Tiga puluh menit berlalu nona An selesai minum ASI langsung terlelap dalam mimpinya, Hanifah meletakkan nona An di atas kasur pelan-pelan, bersamaan dengan Hanifah menaruh nona An, Lancelot dan tuan Bisseling kembali ke kamar Hanifah mereka berdua sudah membawa dua kantong kresek berupa makanan. Pizza yang menjadi menu pilihan Lancelot dan tuan Bisseling.


"Han, ayo makan." bisik nyonya Bisseling pada Hanifah yang masih duduk di dekat nona An.


"Baik, nyonya." sahut Hanifah.


Hanifah pelan-pelan turun dari ranjang tempat nona An tidur, mereka menikmsti makan siangnya di kamar Hanifah , mereka berkumpul di ruang yang ada sofanya.


"Semua yang kami beli ini berbahan baku daging ayam, daging sapi, dan ikan laut." jelas Lancelot.


"Terima kasih, Tuan, Nyonya." ucap Hanifah sopan.


"Ayo, makan yang banyak Han," ucap tuan Bisseling ramah.


Hanifah mengangguk dan tersenyum sopan, Hanifah mengambil nasi yang ber bumbu kare dan juga sayap ayam goreng krispi.


"Han, apa rahasiamu memiliki tubuh ideal, padahal biasanya wanita yang menyusui itu mudah gemuk tapi kamu juga gak, gemuk cuma berisi gitu saja, dan kulitmu itu lo, tanpa perawatan salon juga sudah bagus." ujar nyonya Bisseling.


"Mungkin sudah dari sananya begini, nyonya, di keluarga saya tidak ada yang gemuk, untuk jenis kulit says juga tidak tahu sebab saya tidak memakai resep khusus setiap hari hanya pakai produk yang biasa di jual di pasaran tidak ada yang special." sahut Hanifah santai.


"Wajahmu itu lo, benar-benar bisa cerah dan menyenangkan, tidak bosan untuk di pandang." puji nyonya Bisseling lagi.


"Mungkin karena kulit saya yang sawo matang jadi berbeda dengan kalian semua." ucap Hanifah asal.


"Mungkin juga, tapi beneran lo Han, kulitmu itu benar-benar bagus." nyonya Bisseling tak hentinya-hentinya memuji kulit Hanifah.

__ADS_1


__ADS_2