Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 90


__ADS_3

Dandruff, Lancelot dengan di dampingi orang suruhan pihak kontraktor mereka berada di Bandara yang ada di pulau Bali, setelah melakukan penerbangan selama kurang lebih satu jam pesawat yang di tumpangi oleh Lancelot dan dua kawan lainnya telah mendarat dengan selamat di bandara Internasional yang berada di kota Surabaya. Mereka bertiga setelah keluar dari pesawat dan selasai pengecekan dokumen, mereja langsung menuju bagasi untuk mengambil bagasi. Selesai mengambil bagasi mereka segera keluar, di pintu kedatangan sudah ada sopir yang menjemputnya tentunya orang suruhan pihak kontraktor. Mereka bertiga langsung menuju kota Malang, dengan naik mobil Pajero sports dengan fasilitas lengkap, karena kota Batu merupakan pegunungan maka harus pintar dalam memilih mobil yang cocok untuk meliuk dan naik turun pegunungan, apalagi ada beberapa jalan titik ektrem.


Mobil Pajero meluncur dengan mulus sopir memilih jalan tol untuk menyingkat waktu, dari sisi jalan tol kanan dan kiri jalan di suguhi pemandangan yang sangat cantik pemandangan pegunungan yang menjulang tinggi, serta hamparan hijaunya hutan belantara yang sangat luas bagai karpet yang membentang di tengah lapangan, udaranya juga tidak panas malah cenderung sejuk, di tambah mendung yang berwarna biru membuat pemandangan semakin Indah dan lengkap.


"Pemandangan di kota ini sangat cantik sekali, semuanya masih terlihat alami seolah tidak ada yang namanya bangunan yang menjulang tinggi," ujar Lancelot mengagumi keindahan kota Malang.


"Kalau di kota ini bangunan yang tinggi hanya hotel tuan, semua rumah mayoritas hanya satu lantai Kalaupun ada yang dua lantai itu jarang sekali." sahut utusan dari pihak kontraktor.


"Oh ya saya lupa dari tadi Aku belum tahu namamu?" ujar Dandruff.


"Nama saya Setu Pon, cukup di panggil Setu atau Pon," sahut Setu sopan.


"Nama yang cukup singkat dan unik, apa ini asli nama orang Indonesia?" tanya Lancelot penasaran.


"Iya, Tuan nama khas orang Indonesia dan khususnya orang jawa." sahut Setu Pon lagi.


"Tuan Pon, saya rasa saya lebih mudah memanggil dengan sebutan tusn Pon, saja," ucap Lancelot.


"Saya rasa juga begitu Tuan Pon lebih mudah, kita langsung ke alamat ini saja namanya ba pak Lige garis miring ibu Sime," ucap Lancelot membaca nama dan alamat yang di berikan oleh Hanifah secara terbata-bata.


Pon dan sopir merasa aneh dengan nama yang di sebutkan oleh Lancelot tadi.


"Maaf tuan namanya cukup aneh, benar namanya begitu?" tanya Setu Pon penasaran.

__ADS_1


"Ini coba lihat." Lancelot memberikan menunjukan tulisan yang tertera di hand phone-nya.


Setu Pon membaca nama dan alamat yang disodorkan oleh Lancelot.


"Yang benar bacanya bapak Legi dan ibu Semi, Tuan, mungkin Tuan terbiasa dengan ejaan inggris jadi sedikit terbalik," jelas Setu Pon.


"Siapa bapak Le gi dan ibu Se mi, benar begitu?" tanya Lancelot.


"Benar tuan," sahut Setu Pon.


"Oh begitu bacanya, terlalu sulit, orang Indonesia itu berbicara bahasa asing lancar dan juga pas, saya lancar bahasa inggris karena saya sekolah di London, tapi untuk mengucapkan bahasa Indonesia saya sangat kesulitan." Lancelot mengakuinya dengan jujur.


"Beberapa rekan kerja saya yang dari luar negeri juga bilang begitu Tuan, entah kenapa saya sendiri tidak tahu, apa sebabnya," ucap Setu Pon.


"Saya, hanya bisa bahasa Jawa, bahasa Sasak karena saya tinggal dan bekerja di Bali serta beberapa bahasa daerah lainnya seperti bahasa Osing serta bahasa Madura, tentunya bahasa Indonesia yang menjadi bahasa ibu pertiwi kami." jelas Setu Pon.


"Itu bahasa negara mana?" tanya Lancelot penasaran karena baru pertama kali mendengar beberapa bahasa yang di sebutkan oleh Setu Pon.


"Semua itu bahasa daerah yang ada di negara Indonesia karena negara Indonesia sangat luas dan setiap daerah mempunyai bahasa masing-masing." jelas Setu Pon.


Lancelot dan Dandruff manggut-manggut mendengar penuturan dari Setu Pon.


"Tuan Pon, menguasai berapa bahasa dari negara asing, menurut bos tuan, Tuan selain bahasa Inggris dan Kantonis Tuan juga menguasai bahasa lainnya?" tanya Lancelot penasaran.

__ADS_1


"Tidak banyak Tuan, saya hanya bisa bahasa Inggris, bahasa Kantonis, Bahasa Mandarin, bahasa Jepang, bahasa Arab serta bahasa Belanda, sekarang lagi mempelajari bahasa Korea," jawab Setu Pon jujur.


"So amazing, pantas kamu menjadi kepercayaan tuanmu," puji Lancelot sangat salut.


"Semua ini tuntutan pekerjaan Tuan, jadi saya berusaha untuk semaksimal mungkin supaya bos dan rekan kerja bos saya puas dengan hasil kerja saya." jelas Setu Pon sopan.


"Kinerja yang sangat luar biasa, saya benar-benar salut dengan prestasi anda Tuan Pon," Lancelot memuji Setu Pon.


"Terima kasih Tuan, semua berkat berkah dari doa kedua orang tua saya dan juga istri saya," sahut Setu Pon lagi.


"Apa masih Jauh?" tanya Lancelot karena dari tadi belum juga sampai.


"Kurang lebih satu jam lagi tuan, karena jarak dari desa Singosari menuju kota Batu kurang lebih memakan waktu satu jam," jelas Setu Pon.


Di pinggir jalan Lancelot melihat banyak sekali pedagang kaki lima yang memamerkan barang dagangannya dan mayoritas buah apel dan ubi di sepanjang jalan kota malang.


"Pantas kalau kita ini di sebut kota apel, dari tadi banyak kita temui pedagang buah apel," seru Dandruff.


"Ya, tuan udaranya yang sejuk sangat cocok untuk menanam buah apel, selain apel juga ada banyak sekali sayuran, nanti bila sudah masuk di desanya mbak Hani, di sana bakal banyak sekali hamparan sayuran di pinggir jalan, selain sayur di sana bunganya juga cantik-cantik," jelas Setu Pon.


Mobil Pajero yang di tumpangi oleh Lancelot dan rombongan sudah mulai memasuki kawasan jalanan berkelok serta naik turun di kota batu, kelokan serta tanjakan di kota batu yang menuju desa tempat tinggal Hanifah sungguh sangat ekstrim. Lancelot dan Dandruff sungguh menikmati perjalanan tersebut selain ektrim mereka masih di suguhi dengan indahnya pemandangan kanan dan kiri jalan, kanan tebing kiri kurang pemandangan yang jarang di temui di negara Hongkong, kalaupun ada buksn tebing dan hutan belantara namun lebih ke bangunan yang menjulang tinggi.


Banyaknya pohon beringin, trembesi juga mendominasi pemandangan di bagi jalan, selain pohon tersebut juga banyak sekali tanaman bunga yang berjajar Indah di pinggir jalan seperti, bunga Mawar , bunga Krisan , bunga Anyelir, bunga Anggrek dan masih banyak lagi bunga lainnya yang tertanam rapi sehingga menambah keindahan kota Batu. Setelah melewati beberapa belokan dan tanjakan mobil Pajero tersebut memasuki kawasan desa tempat tinggal kedua orang tua Hanifah, suasana di desa tempat tinggal Hanifah masih sangat asri, udarabya juga mulai sejuk karena suhu udara berada di angka sembilan belas derajat Celsius.

__ADS_1


__ADS_2