Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Pary 64


__ADS_3

Tatuk yang sedang melakukan tugasnya sebagai pembantu rumah tangga dia tidak membawa hand phone-nya, jadi ketika hand phone-nya menjerit jerit minta untuk di perhatikan Tatuk tidak tahu, sehingga panggilan Hanifah terabaikan. Hanifah yang berada di kamar mandi sedikit kesal, dengan ulah majikannya barusan dan juga kesal karena Tatuk telah mengabaikan panggilannya.


Akhirnya Hanifah menggunakan hand phone-nya untuk berselancar di dunia maya, Hanifah berusaha mencari tahu harga dari sebuah kalung yang diberikan oleh Lancelot barusan. Sebuah kalung bertabur berlian Hanifah sungguh sangat terkejut dengan harga yang tertera sebuah kalung dengan harga yang mencapai hampir setengah mm, benar-benar membuat Hanifah sangat terperangah dan tidak bisa berkata apa-apa, tanpa Hanifah sadari ternyata Hanifah berada di kamar mandi sudah lebih dari satu jam. Jam di hands phone-nya sudah menunjukkan pukul tiga pagi akhirnya Hanifah keluar dari kamar mandi, begitu keluar dari kamar mandi dilihatnya Lancelot masih terlelap dengan damainya. Hati Hanifah lega minimal selama berada di dalam kamar mandi tidak ada yang tahu, Hanifah meletakkan hand phone-nya di atas nakas dan membaringkan dirinya di atas ranjang sebelah nona An, sebelum memejamkan matanya Hanifah membelai lembut dan mencium nona An.


Nyonya Bisseling dan tun Bisseling kali ini juga merasakan sebuah liburan yang sangat berbeda dengan biasnya, jika biasanya hanya liburan berdua, kalaupun liburan di London dengan kedua anaknya semua terasa hampa apalagi sikap putrannya yang cenderung dingin. Kehadiran nona An, dan Hanifah benar-benar memutar balikkan keadaan putranya, siapa lagi putranya kalua buka Lancelot perjaka tua yang tidak mau menikah sekarang hatinya muaki terbelnggu oleh nona An, putrinya sendiri dan Hanifah sang pengasuh putrinya.


Nyonya Bisseling dan tuan Bisseling mereka duduk menikmati malam indahnya di balkon hotel sambil menikmati makanan dan minuman ringan, di bawah temaran sinar bulan dan bintang yang bertaburan di langit dan tidak lupa kerlap-kerlip lampu kota London yang berasal dari bangunan pencakar langit di sekitar hotel.


"Pa, bagaimana menurut pendapat papa tentang Hanifah?" nyonya Bisseling memancing sebuah pembicaraan dari tuan Bisseling.


"Bagaimana apanya?" tanya tuan Bisseling.

__ADS_1


"Bagaimana jika anak kita jatuh cinta pada Hanifah?" tanya nyonya Bisseling langsung pada intinya.


"Tidak, masalah." jawan tuan Bisseling enteng.


"Hanifah bukan dari kalangan berkelas," ucap nyonya Bisseling tidak melanjutkan.


"Papa rasa itu sangat unik, Lancelot yang keturunan Eropa, Cina menikah dengan wanita dari Asia tenggara, dan dari segi pendidikan Hanifah juga tidak main-main untuk ukuran seorang pelayan rumah, dia lulusan sastra inggris itupun didapat dari beasiswa, papa rasa itu sungguh perestasi yang sangat cemerlang dan lagi dia juga seorang pelatih salah satu perguruan karate di kotanya, ilmu bela diri yang dia miliki juga tidak diragukan, dan lagi Hani memiliki jiwa tanggung jawab yang tinggi, aku rasa tidak salah An, berada di bawah pengasuhan Hani." jelas tuan Bisseling yang tanpa di ketahui oleh siapapun ternyata tuan Bisseling telah menyelidiki pengasuh cucunya dengan detail.


"Sejak mama memilih Hani, untuk mengasuh An, sejak mama cerita jika mams pernah sedikit ada argumen dengannya waktu pertama kali bertemu." sahut tuan Bisseling santai sambil meminum, minuman duda yang ada di atas meja.


"Aku rasa papa benar-benar marah dengan keputusan Lancelot." ungkap nyonya Bisseling.

__ADS_1


"Pada awalnya ya Aku marah, tapi amarahku sedikit berkurang sejak melihat cucuku tumbuh menjadi anak yang lucu dan sehat dan mama bisa memilih seorang pengasuh yang tepat," sahut tuan Bisseling "Sekarang tinggal kita lihat bagaimana usahanya Lanc, dalam melukuhkan hati wanita itu, dan yang pasti bukan harta yang menjadi patokan Hani, Hani wanita yang sederhana kepribadiannya tidak jauh berbeda dengan Mama, samgat unik," tambah tuan Bisseling.


"Mama, juga merasakan hal yang sama, semoga mereka bisa hidup bersama selamanya, mama tidak bisa membayangkan bagaimana An, hidup tanpa Hani, pasalnya selama setahun ini, An sangat tergantung dengan Hani dan Putra kita sangat di sibukkan dengan pekerjaannya, yang mama hawatirkan serangan A ling, mama sangat khawatir jika A ling tiba-tiba menyerang Hani, sedang Hani tidak memiliki persiapan sama sekali." nyonya Bisseling mengungkapkan rasa kekhawatirannya.


"Putra kita sudah sangat dewasa, dia bisa menghandel semuanya apalagi A ling, Putra kita pasti bisa melindungi orang yang di sayanginya, dan kelihatannya Hanifah dan Lancelot memiliki ilmu bela diri yang seimbang jadi sangat mudah untuk menghadapi A ling, menurut info Hani, juga menguasai ilmu bela diri dari luar negeri, di balik penampilannya yang sangat sederhana dia menyimpan berlian, suatu kenyataan yang di luar dugaannku, jika suatu saat Lancelot mengabaikan Hani, papa akan memperkerjakan dia untuk mendampingi mama." pungkad tuan Bisseling.


"Kemampuan papa sebagai seorang informant memang tidak diragukan lagi, dengan senang hati aku akan menerima Hani, kali ini Lanc, benar-benar harus berjuang untuk mendapatkan hati Hani, apalagi Hani wanita yang taat pada agamanya, kita serahkan semua pada Tuhan, mama juga tidak menyangka jika Lancelot bakal jatuh cinta pada Hani, wanita yang berasal dari negara antah berantah." lanjut nyonya Bisseling.


Tuan dan nyonya Bisseling sangat antusias dalam membahas tentang Hanifah maupun tentang Lancelot sang Putra, hingga mereka tidak menyadari jika waktu bukan lagi malam namun sudah merambat hampir pagi. Rasa kantuk dan juga lelah menghampiri dua tubuh orang tua yang sudah dimakam oleh usia itu.


Kasur empuk, serta hadirnya orang yang sangat tulus mencintainya membuat nona An, selalu tertidur pulas sepanjang malam, jika biasanya tengah malam nona An, akan bangun dua sampai tiga kali semenjak Lancelot dan Hanifah tidur satu ruangan dengan nona An, membuat nona An, benar-benar nyaman dan baru bangun di waktu pagi itupun juga tidak terlalu pagi malah selalu bangun kesiangan dari hari bisanya.

__ADS_1


Pagi ini semua masih sama dengan kemarin semua yang berada di kamar Hanifah baru bangun di jam sembilan pagi, suatu hal yang sangat langka. Lancelot yang tidur hanya di sofa saja bisa nyaman dan bangun juga siang, malah Lancelot menyuruh Hanifah untul tidur lagi jika nona An, tidak bangun. Kali ini Lancelot setelah bangun langsung kembali ke kamarnya sendiri untuk membersihkan diri, sedangkan Hanifah juga melakukan aktifitasnya seperti biasa membantu nona An untuk mandi, dan juga merapikan kamarnya serta merapikan barang-barangnya karena hari ini akan kembali ke negara Hongkong. Setelah hampir dua jam Lancelot meninggalkan Hanifah dan nona An, dia baru kembali bersamaan dengan menu sarapannya datang. Mereka menimati menu sarapannya di kamar yang di tempat Hanifah, dengan penuh kebahagiaan, di usianya yang baru satu tahun Hanifah sudah mulai mengajari nona An untuk mandiri, seperti sekarang nona An mulai belajar makan sendiri.


__ADS_2