Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 77


__ADS_3

"Selamat siang tuan, ini makanan untuk Hani dan nona An, serta ini pakaian dan keperluan Hani dan nona An." ucap Joyce menyerahkan satu koper besar berisi pakaian Hanifah dan nona An.


"Terima kasih Joyce, sus kamu kembali pulang dengan Joyce bila aku panggil ke sini baru kamu kesini, aku dan mama yang akan menjaga nona An, kopernya biar di sini dulu nanti aku bawa sendiri ke kamar." ucap Lancelot.


"Baik Tuan," sahut suster senang.


"Tuan, bagaimana dengan makanan Hani, saya kirim atau gimana?" tanya Joyce.


"Soal makanan buat Hani, bisa aku handel, Joyce kalian lakukan tugas kalian saja di rumah seperti biasa jika aku tidak ada di rumah, Sus, kamu bisa cuti karena nona An, tidak ada di rumah." ucap Lancelot lagi.


"Baik tuan, terima kasih." sahut suster senang.


"Kalau begitu kami pamit pulang, Tuan permisi." Joyce dan suster pamit pulang.


"Kak Joyce, Sus terima kasih, maaf merepotkan." ucap Hanifah merasa tidak enak dengan Joyce dan yang lainnya.


"Sudah menjadi tugas kami Han, santai saja." ucap Joyce.


Joyce dan suster meninggalkan Lancelot dan Hanifah yang masih berada di ruang tengah, Joyce dan suster kembali ke rumah Lancelot dengam diantar oleh sopir khusus para pembantu yang ada di rumah Lancelot.


"Tuan, memang begitu ya kak, serba mendadak begini?" tanya suster penasaran.


"Dulu tidak seperti ini, namun akhir-akhir ini tuan sepertinya berubah, entahlah sus aku sendiri merasa aneh dengan sikap tuan." keluh Joyce yang duduk bersebelahan dengan suster.


"Seperti sekarang ngasih libur mendadak ke aku, kadang aku merasa kasihan sama Hani, dia kok betah sama sekali tidak libur, kalaupun keluar di bawah pengawasan tuan." ucap suster merasa sangat heran dengan Hanifah.


"Kamu merasa heran ya wajar saja, aku saja heran selama lebih dari sepuluh tahun aku bekerja pada tuan Lanc, hanya Hanifah yang tidak di perbolehkan ambil cuti, seperti yang kamu bilang keluar saja di bawah pengawasan tuan, kadang ya aku merasa wajar karena Hani, harus menyusui nona An, tapi jika dipikir jaman sekarang Asi-kan bisa di simpan dalan kulkas." jelas Joyce.


"Tepat sekali kak, maksud aku begitu, biar Hani refreshing gitu, tapi entahlah."


"Yang penting nikmati liburmu, kita nikmati pekerjaan kita masing-masing, padahal jika aku yabv di pisidu Hani, pasti aku sudah stres, nyatanya Hanifah tetap santai, tapi tadi aku lihat Hani seperti tidak suka gitu." ungkap Joyce.


"Ya, aku juga melihatnya, Hani seperti sangat kesal." tambah suster.

__ADS_1


Suster dan Joyce dalam perjalan tidak habis-habisnya membicarakan tentang Hanifah dan Lancelot, sang sopir juga tidak ketinggalan ikut nimbrung percakapan suster dan Joyce.


Hanifah dengan terpaksa dia ikut makan di satu meja dengan tuan serta nyonya Bisseling, juga Lancelot dan Dandruff, sedangkan nona An duduk di kursi kusus buat balita dekat Hanifah tentunya di apit oleh Lancelot dan Hanifah.


Mereka menikmati makan siang tanpa banyak bicara, Hanifah makan sambil menyuapi nona An sekali-kali, nona An di usianya yang baru satu tahun nona An, sudah mulai bisa menyendok makanan sendiri walau belum sempurna. Lancelot sekali- kali ikut membenahi cara makan nona An, nona An, nampak sangat menikmati menu yang ada di hadapannya sambil melantunkan ocehan khas bayi usia satu tahun.


"Rasanya, bahagia sekali bisa makan bersama seperti ini," ucap nyonya Bisseling bahagia "Lihatlah cucu oma juga sudah pinter bisa makan sendiri." nyonya Bisseling memuci kepintaran nona An dalam menyendok makanan.


"Terima kasih, oma An akan lebih giat lagi belajarnya." suara Hanifah mewakili nona An.


"Beberapa hari ini Lanc, akan makan di rumah ini, sebelum Lanc berangkat ke luar negeri, kali ini memang berbeda dan rasanya Lanc, sangat kangen dengan rumah ini." ungkap Lancelot.


"Kangen atau mau membuktikan tentang kata-katamu dulu?" tanya tuan Bisseling.


"Dua-duanya Pa." sahut Lancelot enteng.


"Bagus kalau begitu, papa dan mama tidak terlalu khawatir lagi dengan hidupmu, segera ajak ke pelamina jika sudah sama-sama cocok, jangan di tunda terlalu lama usismu sudah tidak muda lagi, usia empat puluh tahun masih bujang." cerocos tuan Bisseling.


"Terima kasih nyonya," sahut Hanifah sopan sambil menyuap makanannya sendiri.


"Sama-sama Han," sahut nyonya Bisseling "Lanc, Hanifah dan An, tidur di kamar mana? Biar di bersihkan oleh mereka " tanya nyonya Bisseling.


"Kamarku bersihkan Ma?" tanya Lancelot.


"Kamarmu selalu bersih dan rapi Lanc walau kamu tidak pernah menginap di sini ." jawab nyonya Bisseling.


"Sekarang, Lanc usahakan untuk bisa menginap di sini sesering mungkin." jawan Lancelot percaya diri "Kalau dulu tidak ada yang aku bawa sekarang ada yang aku bawa, jadi ya lebih berwarna dan menyenangkan ." sambung Lancelot.


"Itu sangat bagus sekali, mama tidak lagi kesepian." sahut nyonya Bisseling.


Hanifah tidak menimpali apapun pembicaraan mereka, Hanifah lebih fokus menjaga dan merawat nona An. Dandruff juga menjadi pendengar setia tanpa mau ikut menimpali.


"Cucu, opa pinter sekali." kini tuan Bisseling ikut memuji nona An.

__ADS_1


Nona An menghabiskan makanannya tidak tersisa, namun mejanya kotor dan berantakan , Hanifah membersihkan mulut nona An, dan juga meja kecil yang ada di tempat duduk nona An.


"Kami mau istirahat, Lanc segera bawa Hani dan An untuk istirahat, kelihatannya An sudah mulai mengantuk." ucap nyonya Bisseling.


"Beres, bos besar." gurau Lancelot.


Nyonya dan tuan Bisseling meninggalkan meja makan, Dandruff juga meninggalkan meja makan karena sudah selesai dan ada pekerjaan di luar kantor yang harus di selesaikannya. Meja makan yang ada di kediaman Bisseling hanya ada Lancelot, Hanifah dan nona An yang kekenyangan karens menghabiskan semua makanannya tadi.


"Han, ayo kita ke kamar aku tunjukkan kamar untukmu dan An." ajak Lancelot, dan Lancelot segera menggendong nona An.


"Baik tuan, biar saya kemasi alat makan milik nona," sahut Hanifah.


Hanifah mengemasi alat makan milik nona An, sedangkan mengajak nona An bersendau gurau.


"Tuan." sapa Hanifah.


"Ayo."


Lancelot mengajak nona An dan Hanifah untuk menuju kamar Lancelot yang ada di lantai empat, untuk menuju kamar Lancelot, Lancelot mengunakan lift yang ada di rumah keluarga Bisseling. Hanifah tidak banyak tanya karena Hanifah merasa sangat kesal dengan tingkah Lancelot.


"Han, hayo masuk!" ajak Lancelot begitu sudah membuka pintu kamar Lancelot.


"Baik tuan."


Hanifah masuk ke dalam kamar tersebut, kamar tersebut sangat rapi dan juga Harum, sebuah kamar yang sangat luas dengan interior dominan ke warna kesukaan laki-laki.


"Nanti malam kita tidur di sini." ucap Lancelot santai.


"Kita? Maksud tuan ?" tanya Hanifah terkejut saat mendengar kata kita yang keluar dari mulut Lancelot.


"Ya, kita bertiga tidur di sini, aku ingin An tidur sekamar denganku dan juga aku ingin An tidur di kamarku yang ada di rumah oma dan opanya." jelas Lancelot.


"Tapi tuan, lama-lama jantungku lepas dari tempatnya, terserah tuan saja bagaimana baiknya." protes Hanifah, dari raut wajahnya dapat terlihat betapa kesalnya Hanifah hari ini."

__ADS_1


__ADS_2