
Di tengah malam nona An, terbangun nona An mencari Hanifah, beruntung kamar mereka berdekatan jadi memudahkan Hanifah untuk bangun. Hanifah menidurkan kembali nona An, setelah nona An, tidur Hanifah kembali ke kamarnya bersama dengan ibunya. Pagi ini Hanifah merasakan sebuah kehidupan di kampung yang sebenarnya, Hanifah beraktifitas seperti biasa, Hanifah membantu ibunya untuk memasak para pekerja di kebun, kebetulan hari ini ada pekerja yang sedang membantunya untuk merawat kebun sayurnya.
Lancelot pagi-pagi sekali bangun dan melaksanakan sholat subuh di kediaman orang tua Hanifah. Setelah sholat subuh Lancelot tetap beada di dalam kamar menemani nona An, yang masih terlelap dalam mimpinya.
Hanifah walau sudah lama tidak masak, namun dia tetap cekatan dalam membantu ibunya, ibunya Hanifah menggoreng ikan mujaer, lengkap dengan sambel dan lalap until menu di bawa ke kebun.
Setelah semua masakannya matang dan siap, Hanifah mengantar makanannya ke kebon, yang letaknya tidak begitu jauh. Hanifah tetap luwes di saat pergi ke sawah dia masih saja seperto dulu tidak ada yang berubah dari segi penampilan dan juga tata kramanya saat berbicara dengan orang lain.
"Buk, setelah ini aku mau ke makam, dan setelah itu mau ke rumah mak e, temani ya buk." pinta Hanifah pada Semi.
"Iyo, tapi kamu mandi dan sarapan dulu, " sahut Semi, sambil menata menu sarapan di atas meja " Jangan lupa suapu dulu nona An, dan suruh tuanmu untuk sarapan." ucap Semi.
"Iya, Buk."
Hanifah memanggil Lancelot yang masih berada di dalam kamarnya, bermain denngan nona An. Lancelot tanpa menolak segera menuju meja makan di sana tidak ada siapa-siapa karena Legi sedang berada di kebun. Semi kembali sibuk dengan urusan dapur karena bekum selesai mencuci ya tadi, sedangkan Hanifah masih membantu nona An, untuk cuci muka dan gosok gigi.
__ADS_1
"Tuan, maaf setalah ini saya sama ibuk mau ke makam, setelah itu kita mau ke rumah mertua saya." ucap Hanifah setelah mereka selesai menyantap sarapannya.
"Apa, An kamu ajak?" tanya Lancelot
"Jika tuan tidak keberatan nona An, Alan saya ajak, siang baru kembali, bapak sedang di kebun, nanti ada keponakan yang menemani tuan." jelas Hanifah.
"Sebentar lagi Dandruff datang, kamu kesana naik apa?" tanya Lancelot.
"Nanti mau naik sepeda motor saja, sekalian mau jalan-jalan," ucap Hanifah.
"Dandruff sudah dalam perjalanan ke sini, kita ke sana bersama." ucap Lancelot.
"Tidak masalah."
Hanifah dengan di temani oleh Lancelot, Dandruff serta Semi, nona An, mereka menuju makam di kampung Hanifah. Hanifah menuju makam tempat peristirahatan anak dan suaminya sambil membawa bunga untuk di tabur di pusara. Hanifah berdua dengan khusuk, tetesan air mata tidak bisa di bendung lagi, Semi memeluk Hanifah dan menguatkan hatinya, apalagi ini pertama kalinya Hanifah ziarah ke makam anaknya, bayangan demi bayangan anaknya terkam jelas di kepalanya.
__ADS_1
Setelah selesai melafadkan doa Hanifah, meninggalkan makam suami dan anaknya, sepulang dari makam Hanifah menuju rumah mertuaanya yang jaraknya lumayan jauh, dari rumah Hanifah memerlukan waktu sekitar Lina belas menit dengan di tempuh mobil. Mobil yang di kebdarai Lancelot memasuki sebuah rumah sederhana namun sudah moderen. Hanifah dan rombongan turun dari mobil seorang wanita tua menyambutnya dengan gembira, wanita tua langsung memeluk Hanifah dan berderau air mata.
Pertemuan antara Hanifah dan ibu mertuaanya sangat menguras air mata, terlihat dari pancaran wajahnya betapa mertuaanya Hanifah sangat menyayangi Hanifah. Lancelot dan Dandruff ikut masuk setelah di persilakan masuk oleh empunya rumah.
Kaka ipar Hanifah, juga menyambutnya dengan antusias, mereka saling bercerita dan saling mengenal satu sana lain, hingga waktu masuk sholat dzuhur. Karena mertua Hanifah pemuki mushola di tempat tersebut sehingga semua wajib sholat berjamaah, tadinya mertua dan kakak ipar Hanifah tidak tahu jika Lancelot merupakan seorang mualaf. Setelah mendengar suara Adzan dan Lancelot meminta untuk ikut sholat barjamaah barulah mereka mengerti.
Bapak mertua Hanifah, menyambut Lancelot dengan sebuah senyum yang tidak bisa di paham oleh manusia awam. Kakak ipar dan bapak mertua Hanifah, dengan senang hati membantu Lancelot untuk menuju mushola.
Selesai sholat berjamaah mertua Hanifah mejamu tamunya penuh hormat dan sopan, karena tidak ada persiapan dan maka menu yang di sediajam juga seadanya, beruntung task Semi membawa lauk yang banyak jadi si tuan rumah tidak lagi bingung.
Acara pertemuan Hanifah dengan meertuanya, berjalan lancar bahkan Lancelot yang baru pertama kali bertemu dengan mertua Hanifah terlihat sangat akrab sekali, Hanifah dan Lancelot juga memberitahukan tentang rencana pernikahannya, di awal mertua perempuan sangat terkejut, namun tidak dengan bapak meertuanya, bapak merutuanya malah mendukungnya sepwnuh hati.
"Pak, Buk di rasa sudah cukup dan waktu sebentar lagi juga sore kami pamit dulu." pamit semi sopan.
"Terima kasih atas rawuhnya, tuan Lanc, tolong jaga Putri kami, inshaallah tidak lama lagi kamu sudah bisa jalan, aku percayakan Putri kami pada tuan, jangan lupa kabari kami jika kalian sudah menikah, menyegerakan pernikahan itu lebih baik, dari pada terlibat zina." pesan bapak mertua Hanifah pada Lancelot.
__ADS_1
"Inshaallah, akan saya tunaikan amanah bapak dan keluarga." sahut Lancelot percaya diri.
Setelah berpamitan dan saling melepas rindu Hanifah dan yang lainnya pergi meninggalkan kediaman mertua Hanifah, desain rumah mertua Hanifah lebih modern karena ada kaka ipar Hanifah yang menetap dan merawat meertuanya. Sekarang semua penghuni di rumah mertua Hanifah tidak ada anak kecil, sebab keponakannya baru lulus dari banku SLTP mereka segera di masukan ke dalam pesantren.