
"Sopo buk?" tanya Legi bapaknya Hanifah yang baru keluar dari kamar mandi.
"Orang ngantar paket dari Han," jawab Semi sambil menaruh paketannya di atas meja.
"Yang di bilang Han, kemarin," ucap Legi.
"Iya," Semi langsung membuka isi paketan tersebut "Wah pak bajunya apik-apik di wadahi kotak, kotak e juga tebal bagus sekali," ucap Semi girang "Ada tas dan dompetnya juga lo pak kok apik-apik ngene!" seru Semi yang tidak tahu jika barang tersebut merupakan barang bermerek yang sudah terkenal di dunia.
"Iyo, e Buk, pasti mahal." ucap Legi mengamati barang kiriman Hanifah.
"Tadi kurirnya, pakai mobil bagus sekali dan pakaiannya juga bagus." ucap Semi, pasalnya ini pertama kalinya Hanifah mengirim paket dari Hongkong.
Legi memegang satu kotak kecil panjang "Yang ini apa ya Buk?"
"Buka en Pak, siapa tahu duwit!" canda Semi.
Legi menuruti perintah Semi dia membuka kotak tersebut Legi langsung membukakan mulutnya dan juga membuka mata lebar-lebar"Buk... Buk... Buk lihat uang Buk, arek kok sembrono, kenapa uang di paket gak di transfer saja," ucap Legi.
"Masa to pak?" semi ikut melihat tidak percaya "Astaqfirullah hal'adzim Han, kok sembrono sekali." ucap Semi juga terkejut "Banyak sekali sampai lima puluh juta, Han ini kerja apa to pak kok uangnya banyak sekali, apa anak kita berbuat yang tidak-tidak, yo opo ini pak" semi mulai merancau tidak karuan pikirannya langsung ke suatu hal yang tidak-tidak.
"Sebaiknya nanti malam kita tanya Han, baik-baik jangan sampai menyinggung perasaan anak kita Buk uangnya kita simpan dulu." nasehat Legi bijak.
"Iyo, Pak." tubuh Semi sudah keluar keringat dingin karena sangat khawatir terhadap Hanifah anak satu-satunya "Aku jadi khawatir Han, pak."
"Inshaallah Han, baik-baik saja, bapak juga heran dengan gaji Han, padahal setiap bulan seluruh gajinya sudah di kirim ke kita, bayangkan Buk para tetangga yang juga kerja di Hongkong tidak sampai setiap bulan kirim sampai hampir sepuluh juta seperti Han, kita doa-kan semoga rezeki Han, benar-benar halal dan berkah, kita jangan panik, dulu Buk," nasehat Legi.
"Aku tetep khawatir pak, semoga Han, tidak sampai khilap melakukan kesalahan yang fatal," ucap Semi masih gugup dan penuh ke khawatiran "Apa kita ini terlalu menunut pada Hani, to pak?" tanya Semi.
__ADS_1
"Ibuk, tenang dulu sebaiknya kita tanya Han, saja sekarang kita telpon saja Han, siapa tahu dia longgar kalau ibuk benar-benar khawatir." usul Legi.
Semi tanpa menjawab langsung mencari hand phone-nya, beberapa saat semi tidak menemukan hand phone-nya "Pak tahu HP?" tanya Semi yang lupa di mana menaruh Hand phone-nya.
"Bukannya masih di tas e Ibuk," sahut Legi.
Semi mengambil tas yang di taruh di kamarnya, begitu hand phone-nya ketemu Semi segera mendial nomor Hanifah.
Tut tut tut....
Sampai tiga kali dial baru di angkat oleh Hanifah.
"Assalamu'alaikum Buk, tumben siang-siang telpon ada masalah apa buk?" tanya Hanifah pasalnya Hanifah sudah berpesan pada keluarganya untuk tidak menelponnya di waktu siang.
"Wa'alaikum salam Han," suara Semi sedikit bergetar.
"Han, paketanmu sudah datang, tapi ada yang janggal kamu kok sembrono paketan kamu isi uang, jumlah ya juga banyak, apa kamu gak takut kena masalah," tutur Semi pelan.
"Sebentar, uang? buk Han cuma kirim baju tas sama dompet, gak ada uangnya, bagaimana ada uangnya, jangan-jangan salah kirim buk," kini Hanifah yang terkejut dengan penuturan Semi.
"Iyo, Han, tadi siang paketan darimu datang yang ngantar juga pakai mobil sangat bagus dan mengkilat, pskiannya juga rapi." jelas Semi lagi.
"Iyo, lo Han, bapak yo kaget pas buka kok uang sebanyak lima puluh juta, padahal aku sama ibukmu belum bilang ke kamu berapa yang harus di bayar, soale baru tadi pagi bapak sama ibukmu ketemu orag yang memiliki tanah, rencana nanti malam mau ngasih kabar ke kamu," tutur Legi jujur.
"Nduk, ibuk sama bapak tak takon, sebenarnya kamu itu kerja apa kok gajimu besar sekali, setelah tak hitung-hitung sama bapakmu gajimu itu kok gak sesuai dengan kontrak kerja?" tanya Semi pelan.
"Ibuk sama bapak jangan khawatir, Han, bekerja sama seperti yang lain, cuma yang Han, rawat anak yang tidak memki ibu dan majikan Han, memberi gaji di luar kontrak kerja yang tertera, majikan Han memberi gaji pada Han, di sana jam dengan pekerja lainnya yang penduduk lokal, bisa di katakan gaji Han mencapai empat kali lipat dari gaji normal," jelas Hanifah jujur.
__ADS_1
"Han, ibuk sama bapak percaya sama kamu, tolong jaga kepercayaan kami berdua, kami selalu berdoa untuk kamu, Han, soal uang tadi bagaimana ceritanya?" ujar Semi.
"Buk tolong tunjukan uangnyanya dan bungkus serta barang paketan yang datang, Han takut ada yang mau Berbuat jahat pada keluarga kita." pinta Hanifag pada ibunya.
"Pak, paketne tunjukkan ke Han," perintah Semi ke Legi.
"Han ini baju, tas, sama dompet, ini bukannya tulisanmu to Han, ini uangnya masih utuh." Legi menunjukan semua isu paketan lewat layar video call.
"Iya, semua barang itu memang majikan Han, yang beli untuk bapak sama ibuk, kertas e memang aku yang nulis alamatnya cuma bukan Han yang bungkus." Hanifah berkata jujur" Ada tulisan lain lagi gak buk dari ekpedisi mana?" tanya Hanifah juga diselimuti rasa bingung.
"Adanya ya cuma ini, Han gak ada tulisan lainnya." jawab Legi.
"Ibuk sama bapak simian saja dulu semuanya, coba saya tanya majikanku soale yang mau mengirim paket majikanku." jelas Hanifah jujur.
"Yo wes Han, kamu tunggu kabarnya, bapak sama ibuk benar-benar khawatir dan takut." ujar Legi jujur.
"Iya Pak , Buk, aku tutup dulu soalnya I j sambil momong, Assalamu'alaikum, " Hanifah mengakhiri panggilan video call nya dengan orang tuanya.
"Wa'alaikum salam." Semi juga menutup panggilan video callnya.
Kedua orang tua Hanifah segera menyimpan semua barang paketan yang baru datang tadi, sedangkan Hanifah di selimut sejuta tanya tentang uang yang ada di dalam paketannya, Hanifah, ingin menghubungi Lancelot namun takut jika mengganggu kerjanya pasalnya jam segini belum waktunya Lancelot untuk istirahat.
Mobil Pajero yang mereka tumpangi melesat meninggalkan desa tempat tinggal Hanifah, selama dalam perjalanan menuju Hotel Lancelot dan yang lainnya saling berbagi cerita maupun pengalaman, Lancelot maupun Dandruff sangat menikmati perjalanan tersebut, setelah menempuh perjalan hampir setengah jam mobil terparkir rapi di salah satu Resort ternama di tengah kota Malang, sebuah resort yang sangat mewah nan megah yang berada di pusat kota tersebut. Dandruff sengaja memilih resort tersebut karena letaknya yang sangat strategis mau ke mall maupun kuliner atau membeli oleh-oleh khas kota tersebut cukup dengan jalan kaki saja, belum lagi dengan suguhan pemandangan yang indah serta desain yang unik perpaduan dari etnik dan modern.
"Wow, luar biasa indahnya tidak kalah dengan di Bali," Lancelot memuji kemewahan resort tersebut "Kalau begini aku jadi kerasan, kayanya punya tempat tinggal di sini sangat menyenangkan." ucap Lancelot yang baru keluar dari mobil saat mau memasuki kawasan resort tersebut.
Mereka berempat menginap di resort tersebut, Lancelot dan Dandruff yang baru pertama kali berada di kota pelajar tersebut sangat kagum dan takjub, karena keindahan alam yang sangat memukau dan para pegawai resort yang sangat ramah. Lancelot dan Dandruff dengan ditemani Setu Pon dan sang sopir menikmati pemandangan sore di area resort.
__ADS_1