Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 169


__ADS_3

Lancelot setelah selesai membersihkan diri, dia langsung menuju ranjang, Lancelot duduk di tepi ranjang dekat Hanifah yang sudah terlelap sambil memeluk nona An, sedangkan nona An terlihat begitu damai menikmati pelukan dari Hanifah. Hati Lancelot sangat damai ketika melihat kedua wanita yang sangat di cintanya sudah terlelap dalam mimpinya. Lancelot sengaja memberi waktu pada Hanifah, Lancelot sadar jika sebenarnya Hanifah mau dinikahi karena alasan nona An. Lancelot dengan lembut membelai jenuh Hanifah dan juga nona An, sebuah kecupan manis di daratkan oleh Lancelot pada kening Hanifah, namun karena Hanifah sudah sangat capek sehingga dua tidak merasakan apapun.


"Sebelum aku mengenal kamu, aku tidak pernah merasakan gejolak seperti ini Han, semakin aku bisa dekat dengan kamu membuat hatiku semakin tenang dan nyaman, aku selalu berdoa semoga kita bisa menjalani rumah tangga ini dengan iklas dan mendapat Ridho dari Allah, istirahatlah sayang," ucap Lancelot lirih sambil membelai lembut wajah Hanifah.


Lancelot mengalami rasa capek yang kuat biasa sehingga dia, juga menuju posisinya Lancelot tidur di sebelah nona An, Lancelot membaringkan diri di sebelah nons An, sambil tangannya memeluk kedua wanita yang sudah terbuai di alam mimpinya, Lancelot tersenyum sambil menikmati betapa teduhnya wajah Hanifah yang terlelap dalam mimpinya, tidak terasa Lancelot sendiri juga sudah terbuai dengan alam mimpinya.


Suara Adzan subuh berkumandang, Hanifah, segera membuka matanya, setelah benar-benar bangun Hanifah baru sadar jika semalam dia tertidur, bareng nona An, seperti biasanya ya karena selama bertahun-tahun Hanifah selalu tertidur jika sedang menidurkan nona An.


"Astaqfirullah hal'adzim, semoga suamiku tidak marah." gumam Hanifah dalam hati setelah sadar jika dia sudah ganti status menjadi istri.


Tidak berselang lama nona An, juga ikut terbangun satu bulan di Indonesia mbuay nona An juga ikut bangun pagi hari di kala subuh.


"Mama." panggil nona An pada Hanifah.


"Iya, sayang ayo bangun mau ikut sholat kan?" tanya Hanifah padahal memang biasanya nona juga ikut berjamaah dengannya.


"Pa, bangun ayo bangun." Nona An menggoyang-goyangkan tubuh Lancelot.


Lancelot mendapat goyangan dari tangan mungil nona An, mau tisak mau Lancelot membuka matanya.


"Anak papa sudah bangun rupannya," sahut Lancelot masih belum sadar betul.


"Sudah subuh tuan." ucap Hanifah.


"Iya, ayo segera sholat." Lancelot langsung duduk "An, mau sholat barens papa?" tanya Lancelot.

__ADS_1


"Tentu pa," sahut nona An senang, Lancelot mengusap lembut kepala nona An.


"Anak mama ayo kita ambil air wudhu dulu, habis itu gantian papa." ajak Hanifah pada nona An, seperti biasa nona An, tidak membantah, dia langsung memurut perintah daei Hanifah.


Hanifah seperti biasa melakukan tugasnya dalam mengurus nona An, sebagaimana tugas seorang ibu pada anaknya. Selesai berwudhu Hanifah memakaikan mukena untuk nona An, lalu memakai mukenanya sendiri mereka duduk di sajadah sambil menunggu Lancelot datang.


Selesai sholat subuh mereka bertiga bercengkerama di atas kasur, nona Ash terlihat sangat bahagia sekali.


"Tuan, maag semalam saya saya tertidur." ucap hanifaha lirih.


"Kenapa, bukankah kita sama-sama capek, tidak ada yang perlu di maafkan." sahut Lancelot santai.


"Ya, iya sih soalnya selama ini saya selalu tidur dengan nona An, dan selalunya ikut tertidur," ucap Hanifah "Tuan tidak marahkan semalam saya belum melakukan kewajiban saya sebagai istri tuan?" tanya Hanifah lirih.


"Ma, kita menikah untuk menyatukan dua hati, papa sadar dengan semua ini, siapa bilang mama belum melaksanakan kewajiban sebagai seorang istri, justru mama sudah melakukan kewajiban bukan hanya sekedar tugas istri tapi mama sudah menjadi seorang mama yang Sholehah untuk An, papa yang menjadi papa kandungnya saja belum bisa Berbuat seperti yang mama lakukan untuk anak kita." ucap Lancelot lembut sambil membelai lembut kepala Hanifah.


"Ayo sini mama keloni." ucap Hanifah langsung mengambil posisi tidur mirung dan langsung mengeloni nona An.


"Ayo, papa juga pingin ngeloni anak papa ini." Lancelot juga ambil posisi berbaring memeluk nona An.


"Ah, papa, aku aku mama saja." nona An menyingkirkan tangan Lancelot dari tubuhnya.


"Kalau An, gak mau ya gak masalah, papa keloni mama saja." goda Lancelot.


"Mama hanya untuk An, Bukan untuk papa."protes nona An.

__ADS_1


"Baiklah, papa mengalah papa mau tidur saja." ucap Lancelot.


"Sayang anak mama ayo kalau mau tidur, kita tidur bersama lagi OK, ayo pejalan matanya." perintah Hanifah.


Nona langsung memejamkan matanya sambil tangannya memeluk tubuh Hanifah, tudak berapa lama nona An Sudan kembali tidur lagi, seteakga nona An, tidur Hanifah turun dari ranjang.


"Tuan, tidurlah lagi temani nona An." pinta Hanifah.


"Kamu mau kemana ma?" tanya Lancelot.


"Saya mau bantu bersih-bersih rumah." pamit Hanifah.


Lancelot langsung bangkit berdiri menghampiri Hanifah yang masih duduk di tepi ranjang.


"Mumpung An, masih tidur aku mau pinjam mamanya sebentar saja." Lancelot sudah memeluk Hanifah.


Hanifah diam, terpaku kaku seperti kanebo, tanpa bersuara maupun bergerak.


"Kamu takut, jangan khawatir aku tidak akan memaksamu, aku tahu kamu takut mengganggu tidur An, aku hanya ingin memelukmu sebentar saja." pinta Lancelot lembut dan mencium lembut pipi Hanifah.


"Maaf, tuan." cicit Hanifah menunduk malu, mukanya Hanifah juga sudah merah padam.


"Apa yang akan kamu lakukan di luar?" tanya Lancelot.


"Merapikan rumah, pasti bangak sampah berserakan menata peralatan masak, untuk di kembalikan pada penyewa." jelas Hanifah.

__ADS_1


"Aku bantu bairkan An, tidur sendiri." ucap Lancelot.


__ADS_2