Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 22


__ADS_3

"Han, ada masalah?" Lancelot memanggil Hanifah dari balik pintu kamar Hanifah sambil mengetuk pintu kamar Hanifah.


Mendengar suara Lancelot Hanifah langsung menuju pintu dan membuka pintu kamarnya, di depan kamar Hanifah, Lancelot sudah berdiri menanti Hanifah untuk membukakan pintu untuknya.


"Kamu belum tidur Han?" tanya Lancelot .


"Belum tuan, tadi habis makan tidak boleh langsung tidur." jawab Hanifah apa adanya.


"Sudah satu jam, berarti kamu sudah boleh tidur, segera tidur jangan begadang, oh ya aku tidak melarangmu melakukan panggilan telpon di tengah malam, tapi ingat kamu disini kerja, lakukan panggilan telpon seperlunya, dan seingatku kamu kan tidak punya suami-kan jadi aku rasa tidak begitu penting melakukan panggilan telpon kalau tidak ada hubungan keluarga." perintah Lancelot, Lancelot langsung pergi meninggalkan kamar Hanifah tanpa mendengar alasan dari Hanifah.


Hanifah kembali masuk ke kamarnya dengan perasaan yang tidak menentu, antara kesal serta tidak paham arah pembicaraan Lancelot barusan, padahal Hanifah tersuk pekerjanya yang jarang melakukan panggilan telpon, kalau teguran untuk segera istirahat sudah sering dia dapat dari Lancelot, namun teguran melakukan panggilan telepon baru kali ini, apalagi Hanifah jarang menggunakan hand phone Hanifah fokus pada nona An,


Pagi ini di rumah Lancelot terasa sepi semua pekerja di rumah Lancelot sedang libur di rumah yang sudah terbangun hanya Hanifah saja, sedang penghuni lainnya masih terlelap dalam mimpinya termasuk nona An, pagi-pagi sekali Hanifah sudah merasa lapar karena tidak ada orang Hanifah memanggang roti sendiri di dapur kecilnya sambil menikmati secangkir kopi, sambil menikmati sarapan Hanifah masih kepikiran tentang teguran Lancelot semalam.


"Baru menggunakan telpon sebentar saja sudah ditegur, rasanya jenuh juga." gumam Hanifah dalam hati.


Setelah empat bulan bekerja dan tidak pernah libur Hanifah mulai merasakan yang namanya jenuh apalagi semakin hari Lancelot semakin membatasi gerak-gerik Hanifah di rumah. Hanifah di larang melakukan tugas lainnya selain mengurus nona An, bahkan untuk mengurus nona An, Hanifah masih didampingi oleh suster dan juga nyonya Bisseling. Hanifah setelah menghabiskan sarapannya dia juga membersihkan sendiri peralatan bekas makannya. Jam delapan pagi keadaan rumah masih sama sepi, Hanifah menuju kamar nona An takut nona An, bangun sebab seen tar lagu waktunya nona An minum ASI.


"Han, dari mana?" ternyata Lancelot sudah berada di kamar nona An, padahal nona An belum bangun.

__ADS_1


"Selamat pagi tuan." sapa Hanifah karena terkejut dengan kehadiran Lancelot yang pagi-pagi buta, biasanya Lancelot tidak bangun sepagi ini.


"Kamu dari mana Han?" Lancelot mengulangi pertanyaannya tadi, karena Hanifah belum menjawab.


"Dari sarapan di dapur tuan," jawab Hanifah jujur.


"Sarapanmu sekarang dalam perjalanan kemari sepuluh menit lagi sampai, nanti siang kita makan siang di luar dan setelah kita semua bangun kamu harus siap-siap sebab kita mau ngajak An, jalan-jalan, dan lagi kamu dan An harus dandan yang cantik, aku tidak mau kamu tidak cantik, dikira aku tidak bisa merawat dan menghargai pekerjaku." perintah Lancelot pada Hanifah.


"Baik Tuan," jawab Hanifah.


"Biasanya jam berapa putriku bangun?" tanya Lancelot yang berdiri di dekat bok putrinya.


"Semalam jam berapa kamu tidur? lain kali tidur jangan terlalu larut, aku tidak ingin kamu sakit, sebab ada putriku yang membutuhkan asupan gisi lewat tubuhmu." jelas Lancelot.


"Semalam langsung tidur, Tuan, saya akan jaga kesahatan tuan." jawab Hanifah, dengan perasaan sedikit ragu dan takut Hanifah mengutarakan keinginannya untuk libur "Tuan, apa boleh saya bil libur untuk bertemu dengan teman saya sebentar saja, saya usahakan saya pergi setelah saya menyusui nona An dan akan kembali jika waktunya menyusui nona An, atau saya stock ASI taruh di dalam kulkas, teman saya akan datang di daerah dekat sini tidak jauh dari area rumah ini."


"Sekarang apa temanmu sedang libur?" Lancelot tidak menjawab malah bertanya pada Hanifah.


"Hari ini teman saya sedang libur tuan," jawab Hanifah jujur.

__ADS_1


"Apa yang dilakukan oleh temanmu di kala libur?" tanya Lancelot lagi.


"Teman saya biasanya mengikuti pengajian rutin tuan, namun ada kakanya teman saya jalan-jalan, seperti sekarang teman saya sedang belanja di pasar tradisional Sham shui po," jelas Hanifah.


"Temanmu bekerja di negara ini sudah berapa lama?" tanya Lancelot lagi.


"Sudah dua tahun lebih tuan, sekarang kontrak kedua disatu majikan." jawab Hanifah, walau hatinya menyimpan pertanyaan tentang detailnya pertanyaan Lancelot.


"Selama dua tahun ini Aku tidak bisa mengijinkanmu untuk libur, namun jika kamu ingin bertemu dengan temanmu aku bisa antar dan tentunya waktunya tidak boleh terlalu lama, nanti siang aku antar kamu bertemu dengan temanmu, ingat hanya sebentar." jelas Lancelot.


Hanifah tidak bisa menjawab penasaran Lancelot, Hanifah terus berpikir bagaimana bisa bertemu dan ngobrol santai dengan temannya sedang majikannya mengutitnya bagai seorang polisi yang sedang mengawak tahanannya.


"Bagaimana Han?" tanya Lancelot karena Hanifah tidak kunjung menjawab.


"Baik Tuan." akhirnya Hanifah menyetujuinya, minimal Hanifah bisa menghirup sesuatu yang berbeda dari kesehariannya selama kurun waktu empat bulan ini.


"Baiklah, setelah putriku bangun segera siap-siap, oh ya kabari temanmu aku antar kamu bertemu dengannya di Sham shui po, soal jam aku belum bisa menastikan." perintah Lancelot lalu pergi meninggalkan Hanifah dan putrinya.


"Terima kasih, Tuan." walau kebahagiaan Hanifah belum sepenuhnya, minimal bisa bertemu dengan temannya.

__ADS_1


Nona An, kini sudah bangun karena saatnya untuk minum ASI, Hanifah segera membantu nona An untuk cuci muka dan mengganti diapers-nya sebelum menyusuinya.


__ADS_2