
Dandruff dengan bodyguard Lancelot lainnya setelah melakukan perjuangan keras akirnya sampai di lantai paling atas, mereka berlari naik melalui tangga darurat. Dengan nafas yang sudah ngos-ngosan Dandruff dan bodyguard lainnya segera mengunci lantai atas tersebut, Dandruff segera menghampiri Lancelot dan Hanifah yang sudah lebam-labam.
"Maaf Tuan kami terlambat," ucap Dandruff pada Lancelot dengan nafas masih ngos-ngosan.
Dandruff sangat terkejut ketika melihat pemandangan di hadapannya A ling dan para bodyguardnya terkapar tidak berdaya berlumuran darah, Hanifah sengaja lebih banyak menyerang ke kaki mereka untuk melumpuhkannya sehingga tulang kaki mereka patah dan retak. A ling juga mengalami patah tulang walau tidak parah, sehingga membuat A ling sulit bergerak.
"Han, bagaimana kamu?" Lancelot sangat menghawatirkan Hanifah karena wajah Hanifah memar terkena pukulan dari lawan tadi, sedang Lancelot sendiri juga mengalami luka lebam namun tidak sampai berdarah.
"Tidak apa-apa Tuan," sahut Hanifah masih tenang "Anak mama pintar, terima kasih sayang, nona An biar saya gendong tuan." pinta Hanifah dan segera meggendong kembali nona An.
"Nona bagaimana dengan anda, maaf kami terlambat." ucap Dandruff.
"Bereskan mereka," perintah Lancelot pada bodyguard "Dand, antar kami pulang dan panggilkan dokter agar datang kerumah." perintah Lancelot pada Dandruff.
"Bereskan mereka, tutup akses jangan sampai menjadi konsumsi publik." perintah Dandruff, tentu para bodyguard juga sudah paham dengan perintah dari Dandruff "Tuan, Silakan."
Lancelot, Hanifah, nona An dan juga Dandruff serta beberapa pengawal meninggalkan lokasi, disaat mereka mau manaiki lift Ang muncul dari dalam Lift.
"Kalian?" tanya Ang, heran sebab masih melihat Hanifah dah Lancelot hanya luka lebam biasa tidak ada darah segar yang mengalir.
"Kami baik-baik saja," sahut Lancelot.
"Biar aku urus A ling dan setelah itu aku kerumahmu." ucap Ang.
"Pulang dan istirahatlah," perintah Lancelot pada Ang" Aku dan Hani tidak apa-apa, besok saja kamu ke rumah, istrimu mana?" tanya Lancelot pada Ang.
"Ang, sudah aku antar pulang, dan aku kesini lagi." jawab Ang, dari wajah Ang dapat terlihat jika Ang sangat mengkhawatirkan Lancelot, Hanifah dan nona An, namun sekarang menjadi sangat lega karena melihat Hanifah, nona An dan Lancelot dalam keadaan sehat tidak cedera parah.
__ADS_1
"Aku mau pulang dan istirahat." ucap Lancelot.
"Baiklah, besok aku akan segera ke rumahmu." pungkas Ang me ngalah, karena Ang ingin sekali melihat dan mengejek A ling.
"Bagaimana nona A ling?" ejek Ang sinis.
"Sialan perempuan itu." umpat A ling penuh amarah karena bisa di kalah kan oleh Hanifah.
"Ini, masih permulaan, baru permulaan saja anak buahmu sudah patah tulang, kamu bisa menilai sendiri seberapa tangguh kekasih Lancelot." ucap Ang memperingatkan A ling.
"Aku masih belum puas." umpat A ling marah.
"Lampiaskan amarahmu nanti, jika tenagamu sudah pulih kembali, sekarang istirahatlah dan segera di obati agar kamu mempunyai kekuatan lagi untuk Melawan Hanifah, kekasih Lancelot." ejek Ang sinis.
Ang dengan para bodyguardnya Lancelot membawa A ling yang tidak bedaya untuk di kirim ke markas mereka, sendiri.
Dandruff membawa mobil dengan kecepatan tinggi untung sudah tengah malam jadi sangat memudahkan perjalannya, dari hotel menuju rumah Lancelot hanya memerlukan waktu lima belas menit saking cepatnya. Pekerja di rumah Lancelot belum ada yang tidur ketika mendapat kabar dari Dandruff jika Lancelot dan Hanifah telah di serang oleh komplotan A ling. Joyce menyambut mereka dengan perasaan khawatir apalagi melihat Lancelot dan Hanifah yang mengalami luka lebam di wajahnya.
"Bantu Hani, dan nona An, jangan hiraukan aku Joyce." perintah Lancelot.
"Baik tuan," sahut Joyce .
Joyce dengan dibantu oleh suster dan pekerja lainnya mereka mengantar nona An, dah Hanifah masuk ke kamar nona An, sebenarnya Joyce ingin mengantar Hanifah untuk masuk ke kamar Hanifah sendiri, namun Hanifah menolak karena Hanifah ingin berdekatan dengan nona An, Hanifah segera ganti baju setelah di bantu Joyce mengambilkan baju tidur Hanifah di dalam kamar Hanifah, tentu setelah membersihkan mukanya.
"Han." ucap Joyce bingung.
"Semua baik-baik saja kak, lihatlah nona An sedikitpun tidak tergores," ucap Hanifah yang menangkap betapa khawatirnya Joyce pada mereka.
__ADS_1
"Aku sangat khawatir dengan kalian, sungguh biadab wanita itu bisa-bisanya menyerang orang yang membawa anak kecil, beruntung nona An dan kamu sendiri juga tidak sampai teuka parah?" ucap Joyce lega.
"Semua karena pertolongan dari Tuhan, kak." sahut Hanifah merendah.
Lancelot dengan ditemani oleh Dandruff mereka berada di ruang kerja Lancelot, Lancelot tidak marah pada Dandruff karena Lancelot tahu akan kendala yang dialami oleh pasukannya.
"Tuan." sapa Dandruff ragu.
"Hani, aku tidak menyangka jika Hani bisa melumpuhkan musuh tidak lebih dari satu jam, baru kali ini Aku melihat Hani marah dan jika marah benar-benar ngeri," ucap Lancelot.
Lancelot menceritakan tentang kejadian barusan, Lancelot menceritakan dengan detail bagaimana Hanifah melumpuhkan musuh tadi, Dandruff mendengarkan secara seksama tentu dengan diiringi wajah penasaran yang mendalam seberapa hebatnya Hanifah barusan.
Dokter yang diminta oleh Lancelot sudah datang, dokter langsung memeriksa nona An dulu bagaimanapun untuk psikis nona An lebih penting, setelah selesai memeriksa nona An, dokter memeriksa Hanifah dan mengobati Hanifah. Selama dalam proses pengobatan, Hanifah sama sekali tidak mengeluh sakit sehingga memudahkan kinerja dokter. Selesai mengobati Hanifah dokter segera menuju ruangan di mana Lancelot dan Dandruff berada, dokter tidak banyak tanya karena dokter sudah paham betul apa yang telah terjadi, karena dokter sudah puluhan tahun bekerja menjadi dokter pribadi keluarga Bisseling.
"Dok bagaimanapun dengan Hani dan putriku?" tanya Lancelot penasaran dan perasaan penuh kekawatiran.
"Nona An, baik-baik, saja begitu pula tentang nona Hani, tidak ada yang perlu di khawatirkan, tidak ada luka dalam yang berarti dalam diri nona Hani." jelas dokter panjang lebar.
"Terima kasih dok," ucap Lancelot.
"Kalau begitu saya pamit dulu, tuan segera istirahat dan jangan lupa obat serta vitamin segera diminum." pesan dokter sebelum pergi meninggalkan Lancelot.
"Tuan, maaf tentang keteledoran kami tadi." Dandruff mengulangi ucapannya untuk meminta maaf.
"Tidak masalah yang penting urus A ling dan kembalikan A ling ke London, aku tidak sudi lagi bertemu dengan A ling." perintah Lancelot pada Dandruff.
"Siap tuan," sahut Dandruff.
__ADS_1
"Istirahatlah, aku juga mau istirahat jangan biarkan papa tahu, karena aku tidak ingin menganggu waktu berlibur mereka." pesan Lancelot sebelum bangkit berdiri yang ingin kembali masuk kedalam kamarnya sendiri.
Dandruff mengantar Lancelot untuk masuk kedalam kamar Lancelot sendiri, setelah Lancelot masuk kamar dan ganti baju serta dirasa tidak ada hal penting, Dandruff mengundurkan diri meningalkan Lancelot sendiri di kamar. Setelah Kepergian Dandruff Lancelot membaringkan diri untuk beristirahat karena sudah sangat larut serta tubuh Lancelot yang pegal-pegal membuat Lancelot langsung terpejam matanya.