
Acara makan malam berjalan dengan baik, istri Ang juga ikut bergabung untuk merayakan kesembuhan Lancelot namun anak-anak Ang tidak ikut karena takut pulang kemalaman sebab paginya anaknya Ang harus sekolah. Setelah selesai acara makan malam semua berkumpul di ruang tengah, mereka bersendau gurau bercerita boa An, terlihat sangat bahagia, nona An, semakin manja dengan Hanifah dan juga Lancelot.
Mereka bersantai sambil melakukan panggilan video call dengan Garnier, Garnier di seberang sana juga ikut merasakan betapa bahagianya ketika melihat Lancelot sudah diperbolehkan pulang ke rumah, terakir ketemu dengan Garnier dua bulan lalu disaat Lancelot baru terbangun dari tidurnya dan untuk merayakan ulang tahun nona An dan Hanifah. Karena Lancelot belum bisa duduk terlalu lama maka Lancelot undur diri untuk segera istirahat karena jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam, padahal biasnya jam sepuluh nona An sudah terbuai di alam mimpi lali ini malah masih segar menemani Lancelot.
"Aku mau istirahat dulu, dan aku rasa An, juga sudah waktunya untuk tidur," pamit Lancelot pada semuanya yang duduk di ruang tengah "Ayo An kita tidur." Lancelot mengajak nona An.
"Good night, oma, Good opa good night auntie, good night uncle." pamit nona An senang dengan bahasa inggris, di usianya yang baru tiga tahun walau cuma sedikit nona An juga sudah bisa berbahasa inggris.
"Kamu tidur dimana Lanc?" tanya nyonya Bisseling.
"Di kamar sebelah, setelah An tidu," sahut Lancelot
"Aku, mau tidul ma mama dan papa." celoteh nona An senang.
"Tapi An, An tidur sama mama, papa kan masih sakit jadi papa harus tidur sendiri." bujuk Lancelot.
"Saya rasa nona An, memang sangat merindukan tuan," ucap Hanifah.
"Baiklah, malam ini saja ya." ucap Lancelot.
"Yeah.... " Nona An sangat girang.
"Tuan, saya antar." Lancelot menawarkan bantuan.
__ADS_1
"Lagian kalian tidur juga tidak bertiga, ada suster bersama dengan kalian." seloroh Tuan Bisseling.
"Selamat malam semuanya." ucap Hanifah, Lancelot dan susternya.
Mereka meninggalkan ruangan tengah, Lancelot menuju lantai empat sedang Ang pamit pulang, tuan dan nyonya Bisseling masuk kamarnya, Dandruff menepati kamar tamu karena di minta untuk menginap beberapa malam.
"Mama rasanya lega sekali pa, hampir dua tahun Lancelot, terbaring kaku tidak berdaya di ranjang rumah sakit, semoga ini awal yang baik untuk kita semua." ucap nyonya Bisseling yang bersandar di bahu tuan Bisseling yang sudah berbaring di ranjang.
"Apalagi papa, bocah nakal itu tidak henti-hentinya bikin ulah, namun papa masih belum puas jika A ling belum mempertanggung jawabkan perbuatannya, dua tahun Lancelot kehilangan kesadarannya, sedangkan dia bisa hidup bahagia." ucap tuan Bisseling geram.
"Selagi A ling tidak berulah biarkan saja, yang terpenting bagi mama, sekarang Lancelot bisa sembuh dan bahagia hidup bersama Hanifah." jelas nyonya Bisseling.
Di saat nyonya Bisseling masih terus bercerita cerita ternyata tuan Bisseling sudah terbuai di alam mimpinya. Akhirnya nyonya Bisseling ikut memejamkan mata untuk istirahat menuju pulau mimpi.
Hanifah masih kepikiran tentang kata-kata Lancelot tadi siang, Hanifah tidak menyangka jika Lancelot, setelah sembuh Lancelot bisa berubah, nona An, Lancelot, dan suster tetap damai dengan alam mimpinya Hanifah tidak berani bergerak karena takut ketahuan.
Nona An tidur dalam pelukan Lancelot, Hanifah hanya bisa memandangi pemandangan yang ada di hadapannya. Karena Hanifah tidak bisa tidur dia membuka aplikasi berwarna biru dia berselancar ria, ternyata memang benar sebuah pepatah yang mengatakan sepanjang-panjangnya Halah masih panjang mulut manusia.
Hanifah membuka aplikasi biru tersebut dengan senang hati, dari aplikasi tersebut sudah Hanifah mendapat informasi, di aplikasi tersebut beredar berita tentang dirinya dan Lancelot, Hanifah sedikit terkejut tentang berita tersebut, untung saja namanya di samarkan dan tisak begitu jelas dari segi foto juga tidak nampak jelas.
Jam tujuh pagi Hanifah membangunkan nona An, hanya dalam dua kali panggilan nona An sudah bangun.
"Good morning my princess." sapa Hanifah lembut seperti biasanya, dan tentunya dengan hadiah ciuman pagi until nona An.
__ADS_1
"Good morning mama." sahut nona An masih belum bangun secara sempurna.
"Kalian sudah bangun?" tanya Lancelot masih baru membuka matanya karens mendengar suara berisik.
"Selamat pagi Tuan." sapa Hanifah sopan.
"Good, morning pa pa, wake up." Nona An, membangunkan Lancelot dengan menarik tangannya.
"Cium papa dulu baru papa bangun." Lancelot malah pura-pura merajuk pada nona An.
Nona An tanpa menunggu perintah dua kali dia langsung mencium Lancelot.
"Terima kasih my princess, sekarang Cium mama." Lancelot memerintah nona An untuk mencium Hanifah.
Pagi ini nona An, nampak bahagia sekali karena bangun tidur ada papa dan makanya yang menyambut, jika biasnya hanya Hanifah kali ini, selasa keluarga yang lengkap.
"Han, An sekolah berangkat jam berapa?" Lancelot ingin tahu jadwal berangkat nona An.
"Jam setengah sembilan kita berangkat tuan, dan sampai sana jam sembilan kurang sepuluh menit, jam sembilan nona An, sudah masuk kelas." jelas Hanifah.
"Baiklah, segeralah bersiap-siap aku akan ikut mengantar anakku ke sekolah, seharusnya di hari pertama sekolah aku yang mengantar, tapi nyatanya aku malah terbaring tidak berdaya." keluh Lancelot.
"Tuan, tidak apa-apa ikut mengantar nona An?" tanya Hanifah ragu.
__ADS_1
"Han, kamu tenang saja aku tidak apa-apa." sahut Lancelot meyakinkan.