
Mereka semua ikut turun ke pekarangan orang tua Hanifah, mereka sangat antusias bisa menikmati alam bebas, saking bahagianya mereka sampai tidak terasa jika waktu sudah siang sekali, suara Adzan dhuhur dari masjid kampung sudah terdengar itu artinya semua harus menghentikan aktifitasnya sejenak.
Semua yang sedang menikmati indahnya pekarangan sekarang kembali masuk rumah, semua segera membersihkan diri. Setelah membersihkan diri mereka segera melaksanakan sholat dhuhur berjamaah di rumah Legi, karena jika pergi ke Masjid atau ke mushola waktunya tidak cukup. Setelah selesai melaksanakan sholat berjamaah mereja semua menikmati hidangan makan siang yang telah di sajikan oleh keluarga Hanifah. Menu yang sangat sederhana beruntung ada tetangga Hanifah yang pernah bekerja di negara Hongkong, jadi orang tua Hanifahenibta bantuan padanya untuk memasak menu yang sesuai dengan lidah orang Hongkong. Tim telor, Tim ikan, ayam goreng ungkep, beberapa oseng sayur serta satu ekor bebek panggang ful bumbu khas Indonesia.
Selesai makan siang nona An terasa ngantuk, Hanifah segera membawanya masuk ke dalam kamarnya sendiri, beruntung spring bad di kamar Hanifah sudah di ganti yang baru, sesuai permintaan Hanifah beberapa hari lalu, mengingat keluarga Bisseling mau ikut kembali ke tanah air. Begitu nona An sudah tidur, Hanifah juga malah ikut tertidur sambil memeluk nona An.
Nyonya Bisseling dan tuan Bisseling, Lancelot, Dandruff serta Setu Pon mereka masih berkumpul di rumah depan dengan di temani oleh kedua orang tua Hanifah, meraka duduk santai sambil bercerita banyak hal. Lancelot melihat beberapa foto Hanifah yang telah bertengger cantik di dinding rumah kedua orang tuanya. Di tembok tersebut juga masih terpampang foto pernikahan Hanifah, dengan almarhum suaminya, serta di temple juga foto tentang Hanifah dan almarhum Putranya.
"Anak, Hani sangat ganteng dan imut." Lancelot memuji foto anak Hanifah.
"Iya tuan, sayangnya dia tidak berumur panjang seperti bapaknya, padahal kami sudah berusaha untuk mengibatinya, namun semua rusak asa hasil, Allah lebih sayang ke anak itu, tuan." sahut Semi.
Lancelot tidak bisa menimpali ucapan Semi tentang anaknya Hanifah, dari mata semi sangat terlihat betapa hari orang tua itu sangat terluka. Setelah satu jam Hanifah dan nona An, tertidur akirnya Hanifah sudah bangun, namun tidak dengan nona An, nona An masih terlelap di alam nimpinya.
"Sudah bangun Han?" tanya semi begitu melihat keluar dari kamarnya.
"Ibuk." sahut Hanifah masih menguap.
"Cuci, muka dan duduklah bersama kami ada hal penting yang ingin di sampaikan oleh tuan Lancelot dan orang tuanya pada kamu." ucap semi lembut pada Hanifah.
__ADS_1
"Baik, Buk." Hanifah segera menuju kamarandi untuk membersihkan diri, mencuci muka agar terlihat lebih segar.
"Tuan nyonya, apapun nanti keputusan Hani, semoga tidak membuat tuan dan nyonya kecewa," ucap Legi berhati-hati.
"Tidak mengapa tuan, yang terpenting kami sudah berusaha mengutarakan niat bail kami." ucap Lancelot sopan dan hormat.
Tidak begitu lama Hanifah sudah kembali di rumah depan dengan wajah yang lebih segar walau hanya cuci muka saja.
"Han, duduklah di sini!" perintah Legi pada Hanifah.
Hanifah tidak menjawab, dia langsung duduk di dekat kedua orang tuanya.
"Iya, pak." jawab Hanifah sopan.
"Silakan tuan dan nyonya bertanya sendiri pada yang bersangkutan." ucap Legi halus.
"Han, kedatanganku dan orang tuaku kemari, ada hal penting yang ingin kamu sampaikan ke kamu dan orang tuamu secara resmi." ucap Lancelot ambil jeda, mendengar penjelasan Lancelot hati Hanifah berdebar kencang tidak karuan, tidak seperti biasanya.
"Silakan Tuan." ucap Hanifah pelan.
__ADS_1
"Han, hari ini aku melamar kamu secara resmi, Han bersediakah kamu menikah denganku, bersediakah kamu untuk mendalingiku menjadi ibu dari anak-anakku." ucap Lancelot dengan hati berdebar kencang walau sudah berusaha setenang mungkin.
Suasana henning sesaat tidak ada yang bersuara sedikitpun, Hanifah juga tidak bisa menjawab seprti biasanya, jika biasanya Hanifah bisa menolak dengan tegas tanpa berpikir panjang, namun kali ini mulut Hanifah terkunci untuk menolak lamaran dari Lancelot, yang ada malah sebuah anggukan tanda setuju.
"Alhamdulillah." Lancelot langsung mengucap syukur.
"Terima kasih Tuhan!" seru nyonya Bisseling bahagia, bulan hanya nyonya Bisseling tuan Bisseling tak kalah bahagia pasalnya di usinya yang sudah lebih di atas kepala empat dan dalam keadaan belum sehat benar, Lancelot malah dipertemukan jodohnya.
Sebuah lamaran tanpa ada persiapan yang matang, sengaja Lancelot dan keluarganya tidak melakukan persiapan yang berarti mengingat selama ini Hanifah selalu menolak lamaran Lancelot dengan tegas, bahkan disaat nyonya Bisseling melamarkan untuk anaknya juga di tolak oleh Hanifah dengan tegas. Begitu mendapat anggukan tanda seruju Lancelot langsung mengeluarkan cincin bertabur berlian dari dalam tasnya. Lancelot walau bekum bisa berjalan dengan baik dia berusaha mendekati Hanifah tanpa bantuan siapun, dengan di sasaksikan oleh orang tua kedua belas pihak Lancelot menyempatkan cincin tunangan di jari manis Hanifah.
"Han, terima kasih untuk semuanya, bantu aku untuo bisa memantaskam diri bersanding dengan kamu." pinta Lancelot tulus.
"Inshaallah Tuan." sahut Hanifah singkat.
Setelah menyempatkan cincin di jadi manis Hanifah, Lancelot kembali ke tempat duduknya semula, Hanifah masih terdiam dia sendiri bekum sepenuhhya sadar dengan semua kejadian barusan.
"Bagaimana jika pernikahannya kita lakukan secepatnya," usul nyonya Bisseling.
"Kita tanya dulu dengan yang bersangkutan, kalau Lanc pasti senang namun semuanya harus melalui proses yang panjang bukan, tentunya berlairan dengan administrasi mengingat kita ini menikah beda negara." jelas Lancelot pada nyonya Bisseling.
__ADS_1
"Soal administrasi serahkan pada saya Tuan, saya akan berusaha untuk mengurus secepatnya." ucap Dandruff memberi dukungan penuh pada pernikahan tuannya.