
Lancelot dan Ang selesai menonton lomba pacuan kuda segera mengemudikan mobilnya membelah ramainya jalanan yang ada di negara Hongkong. Lalu lalang kendaraan memadati jalan raya gemerlap lampu kota menghiasi sepanjang jalan yang menuju ke tempat tinggal Ang perjalanan yang mereka tempuh juga tidak memerlukan waktu lama tiga puluh menit berlalu mobil ferrari hitam metalik milik Lancelot telah memasuki rumah yang begitu mewah walau tidak semewah milik Lancelot.
"Masuklah!" Ang mempersilahkan Lancelot masuk begitu Lancelot sudah memarkir dan turun dari mobilnya.
"Terima kasih." ucap Lancelot langsung mengukuti langkah Ang yang menuju ruang ruang tengah.
"Hai, apa kabar semuanya, bocah ganteng," sapa Lancelot pada dua bocah laki-laki yang tengah duduk di sofa ruang tengah.
"Hai, anak kecil yang ganteng," sapa Ang pada kedua Putranya yang sedang asyik dengan gadgednya, Ang ikut duduk di samping kedua anaknya.
"Hai, papa." jawab kedua bocah itu bersamaan.
"Bocah ganteng ayo beri salam pada paman," perintah Ang pada kedua putranya, kedua putranya langsung memberi salam sambil terus memainkan gadgednya.
"Hai, Paman." sapa kedua anak Ang.
"Hai, Lanc kalian sudah datang." sapa istri Ang yang baru masuk ke rumah.
"Hai, nyonya Ang." sapa Lancelot ramah seperti biasa.
"Oh ya kenalkan ini temanku baru pulang dari Canada, namanya Siu." nyonya Ang memperkenalkan Siu dengan Lanc, dan suaminya" Siu, ini suamiku tuan Ang dan ini temannya tuan Lancelot."
"Hai, apa kabar nona Siu, aku Ang," sapa Ang ramah sambil melambaikan tangan.
"Hai, apa kabar nona Siu, aku Lancelot, cukup panggil Lanc," Lancelot memperkenalkan diri pada Siu.
"Kalian, duduk dulu mau minum apa, sebentar lagi kita bisa mulai hot potnya." ujar Nyonya Ang aku cek di dapur dulu.
__ADS_1
Nyonya Ang meninggalkan Lancelot, Ang, Siu, dan kedua anaknya di ruang tengah. Lancelot, Ang dan Siu terlibat obrolan ringan saling berkenalan atau sekedar bercerita tentang kegiatan dan pekerjaan masing-masing. Siu yang ber profesi sebagai pebisnis dibidang kecantikan akan membuka salon kecantikan untuk pria dan wanita, tentunya dengan menyediakan perawatan, seperti facial dan lain-lain.
"Sudah siap ayo cuci tangan dan segera kesini." panggil nyonya Ang.
Mendengar panggilan dari nyonya Ang, salah satu pembantu nyonya Ang segera membanru kedua bocah itu untuk mencuci tangan, begitu luka Lancelot, Ang dan Siu, selesai mencuci tangan mereka bertiga menuju di sebuah taman kecil, yang berada di belakang yang terhubuung dengan dapur. Sebelum memulai maksn tidak lupa mereka saling ambil gambar untuk di inggah di media sosial. Di meja makan sudah terhidang berbagai macam sayur-mayur, daging segar, ikan Kaur segar, dan berbagai makanan es seperti, sosis, dumpling, dan sejrnisnya.
"Silakan, maaf di tempatku makannya tidak terlalu malam sebab jam sepuluh malam anak-anak harus tidur, sebab pagi mereka pergi ke sekolah." ucap nyonya Ang dengan senyum.
"Kamu banyak sekali berubah Ang." ujar Siu."Tapi memang dari dulu kamu keibuan." puji Siu.
"Kamu kan tahu sendiri Siu aku sudah anak-anak dari dulu,"jawab Nyonya Ang enteng.
"Aku terbalik dengan kamu Ang, aku tidak suka ribet dengan keluarga, aku ingin bebas yang penting aku punya uang, bisa ke mana-mana." ujar Siu jujur, ya siu usianya sudah tiga puluh lima tahun dan tidak memiliki keinginan untuk menikah, namun Siu di negara Kanada tinggal serumah dengan pacarnya.
"Ya, memang tidak menikah sangat menyenangkan, bedanya aku mempunyai anak tidak punya pacar," sahut Lancelot.
"Kalian berdua itu aneh, tapi aku rasa tuan Lancelot bakal menikah secepatnya." gurau Ang. Bagaimanapun Ang sudah paham akan Lancelot karena sudah lama bersahabat.
"Bagus, kalau begitu, jadi jika kalian bersama aku ada teman ngobrol dan kita bisa bermain bareng, apalagi sebentar lagi anakmu bisa diajak bermain, jujur aku gak yakin kamu mampu menjaga anakmu sendirian." tukas nyonya Ang.
"Kalau aku terus terang gak sanggup di suruh punya anak." Siu tetap pada pendiriannya.
"Yang penting bahagia, gitu aja lo Siu, gak usah terlalu banyak mikir." sergah Lancelot cepat.
"Ya, yang penting bahagia, setiap orangkan memiliki kebahagiaan dengan caranya sendiri." Ang menambahkan "Namun aku tetap yakin jika tuan Lancelot bakal menikah, lihat saja anaknya tuan Lancelot gak bakal mau pisah dengan Han, Han siapa namanya yang menyusui anakmu Lanc?." tanya Ang yang tidak tahu nama Hanifah.
"Emange kamu suhu apa? Kenapa ingin tahu namanya?" ucap Lancelot sedikit sensitif.
__ADS_1
"Apa perlu kita mencari dan bertanya pada tuan Guru, aku kenal sama kamu itu tidak sebentar, dua puluh tahun bayangkan saja, lihat saja baru juga tanya nama dia sudah sensitif banget," gurau Ang diiringi tawa.
"Sudah-sudah gak usah bahas pernikahan, oh ya tuan Lanc, bagaimana dengan An, comel sekali rasanya pingin punya anak perempuan." ucap Nyonya Ang.
"Sangat menggemaskan sekarang sudah tambah pinter, sehari saja tidak bertemu rasanya sudah bikin kangen." ucap Lancelot dengan tatapan penuh kejujuran.
"Yang menggemaskan dan yang ngangeni itu An, apa yang ngasuh An." potong Ang.
"Sudahlah pa, jangan godain Lanc saja, Hari ini jika kamu bawa pasti asyik aku bisa pinjam sebentar." ujar nyonya Ang.
"Datanglah kerumah, bagaimana jika minggu depan saja ganti main di rumahku." pinta Lancelot.
"Minggu depan, kayanya bisa deh, aku iri sama anakmu Lanc!" ujar Nyonya Ang.
"Kenapa?" tanya Lancelot penasaran.
"Anakmu bisa minum ASI dengan baik, dua anakku minum ASI hanya sampai dua bulan saja, setelah dua bulan ASI ku tidak keluar, kedua putraku sama, tubuhku tidak bisa memproduksi ASI, dengan baik, sedang kemarin aku pas ketemu Han, dia kelihatan segar dan kata nyonya Bisseling produksi ASInya sangat bagus sehingga anakmu menjadi anak yang sehat dan pertumbuhannya sangat bagus."nyonha Ang memaparkan apa yang pernah dia bicarakan dengan nyonya Bisseling tempo hari waktu acara seratus hari nona An.
Lancelot mendengar pemaparan dari nyonya Ang, wajahnya langsung memerah , karena dengan begitu Lancelot teringat kejadian beberapa hari yang lalu.
"Kamu kenapa tuan Lanc, wajahmu kok merah apa kamu sakit?" tanya Siu sedikit heran.
"Tidak, tidak apa-apa, paling kepanasan, kepedesan saja," jawab Lancelot berusaha menutupi kekacauan dalam hatinya.
"Kalau kepedesan, ganti mangkuk yang baru saja Lanc, biar aku ambilnya." ucap nyonya Ang, langsung bangkit berdiri.
"Tidak usah, aku sudah kenyang, sudah habis banyak." Lancelot melarang nyonya Ang yang mau mengambilkan mangkuk untuk dirinya.
__ADS_1
"Baiklah." nyonya Ang kembali duduk.