
Semakin hari Hanifah maupun Lancelot semakin bahagia, kemanjaan Lancelot semakin meningkat tidak jarang Lancelot dan nona An, saling bertengkar dan berakir saling ngambek. Seperti pagi ini antara Lancelot dan nona An, berebut untuk di antar Hanifah, Lancelot kekeh minta Hanifah untuk mengantarnya pergi ke kantor, sedangkan nona An, juga tidak mau kalah, tingkah mereka berdua semakin konyol seolah tidak mau jauh-jauh dari Hanifah. Di meja makan keduanya masih beradu argumentasi karena sifat antara nona An dan Lancelot mirip sekali sehingga sering membuat Hanifah, harus lebih banyak bersandar menghadapi suami dan anaknya.
"Jika kalian berdua masih terus bertengkar dan ngambek kalian berangkat bersama sopir saja tidak ada yang mama antar ok, mama mau bersantai di rumah." ucap Hanifah santai langsung berdiri meninggalkan meja makan menuju dapur.
"Mama, please !" seru Lancelot dan nona An, bersamaan dengan wajah memelas, mereka berdua tahu kalau sudah begitu artinya Hanifah, sudah mulai kesal.
"Bagaimana, masih mau bertengkar?" tanya Hanifah dari dalam dapur.
Joyce dan yang lainnya cekikikan di dapur mendengar dan melihat ulah sang majikan akir-akir ini.
"Sepuluh tahun lebih, saya bekerja pada tuan Lanc, baru kali ini saya melihat betapa manjanya tuan," celetuk Joyce "Ketulusan cinta kasih Nyonya pada mereka benar-benar luar biasa, bisa menaklukan gunung es dari kutub Utara, tadinya saya mengira jika tuan benar-benar tidak akan menikah ." tambah Joyce.
__ADS_1
"Terima kasih kak Joyce, semua karena takdir Tuhan, saya tinggal menjalani saja kak." sahut Hanifah ramah Hanifah tetap memanggil kakak pada semua para pekerjanya.
"Bagaimana, papa sayang dan Putri mana yang cantik ini?" tanya Hanifah begitu keluar dari dapur.
"An, nurut mama saja," sahut nona An, memelas dengan wajah tanpa dosanya.
"Papa juga nurut mama saja," sahut Lancelot mengalah.
"Yeahhhh, mama antar aku." sahut nona An girang.
"Tuan Putri, papa mengalah, tuan Putri tidak boleh membuat mama kesal, janji!" ucap Lancelot pada nona An sambil mengusap lembur kepala An.
__ADS_1
"Papa juga tidak boleh merebut mama dari tuan Putri." sahut nona An, dengan sangat polos.
"Sudah An, ayo berangkat pamit dan salim sama papa dulu!" perintah Hanifah pada nona An.
"Assalamu'alaikum Pa, An sayang papa." pamit nona An.
"Wa'alaikum salam, sayang papa juga sayang An dan juga mama." sahut Lancelot.
Bukan hanya nona An, yang bersalaman dan mencium tangan Lancelot, Hanifah juga melakukan hal serupa seperti yang nona An, lakukan. Lancelot pagi ke kantor dengan di antar sopir, Lancelot tidak bisa ikut mengantar nona An, pergi ke sekolah karena pagi-pagi sekali Lancelot, harus mrmimpin rapat di perusahaannya.
Hanifah mengantar nona An, ke sekolah dengan di antar oleh sopir, seperti biasa selama dalam perjalanan menuju sekolahannya Hanifah, selaku mengajak nona An, bercerita atau bernyanyi mengulang nyanyian yang di ajarkan oleh gurunya pada nona An. Begitu mobil sudah terparkir di dekat pintu gerbang, Hanifah menggandeng nona An, untuk masuk ke dalam kelasnya. Setelah mengantar nona An, sampai di kelasnya Hanifah kembali ke mobilnya tadi, tanpa sepengetahuan Hanifah, maupun sopirnya ada seseorang telah mengintai Hanifah. Hanifah yang memiliki feling yang tajam dia tidak segera kembali ke mobil, Hanifah, menelpon sopir dan mengingatkannya untuk lebih waspada. Selain telpon pada sopir Hanifah, juga mengirim pesan kepada beberapa bodyguardnya, tidak lupa Hanifah juga mengirim pesan ke Dandruff dan Lancelot.
__ADS_1