
Hanifah mulai sudah terbiasa tinggal di kediaman keluarga Bisseling, semakin hari perlakuan tuan maupun nyonya Bisseling semakin menyejukkan hati, nyonya dan tuan Bisseling menganggap Hanifah sebagai bagian keluarganya. Alasan yang di berikan oleh keluarga Bisseling karena Hanifah yang menyusui nona An, berarti ada darah Hanifah yang mengalir dalam tubuh nona An, artinya ada darah Hanifah yang sudah menyatu dengan keluarga Bisseling.
Pekerjaan Hanifah dari dulu sampai sekarang tetap sama bahkan tuan dan nyonya Bisseling juga menyuruh koki special Lancelot untuk tetap masak buat Hanifah, di kediaman keluarga Bisseling, di kediaman keluarga Bisseling juga di sediakan dapur khusus buat Hanifah.
Semua pekerja di keluarga Bisseling juga sudah tahu tentang Hanifah, jadi semua pekerja di rumah keluarga Bisseling juga menghargai Hanifah sebagai mana para pekerja di rumah Lancelot. Bahkan beberapa pekerja di rumah keluarga Bisseling mereka sangat senang dengan hadirnya Hanifah dan nona An mereka menganggap Hanifah dan An, merupakan pembawa keberuntungan, sebab sejak adanya Hanifah dan nona An, tinggal bersama suasana hati tuan dan nyonya Bisseling semakin stabil dan bahagia, serta beberapa kali sudah memberikan bonus untuk pekerjanya padahal bukan waktunya untuk mendapatkan bonus.
Suasana hati dapat mempengaruhi pola pikir manusia seperti sekarang, tuan dan nyonya Bisseling walau selalu berada di dalam rumah mereka berdua tidak merasakan bosan. Jika sebelum An dan Hanifah tinggal tuan dan nyonya Bisseling Bisseling selalu mengahabiskan waktunya untuk jalan-jalan atau mengundang temannya datang ke rumah untuk sekedar makan atau main tamajok(mahjong).
"Rasanya senang sekali sudah hampir tiga minggu sama sekali tidak ada pesta di rumah ini, nikmat sekali bisa istirahat cukup." ucap pelayan satu di kediaman Bisseling.
"Iya, tuan dan nyonya besar banyak berubah, tidak lagi murung seperti dulu senang sekali bisa melihat mereka bahagia seperti sekarang, sayangnya tuan muda tidak mau menikah." ucap pelayan dua.
"Ya, padahal tuan dan nyonya besar ingin sekali melihat tuan muda Lanc, menikah sayangnya takdir tidak berpihak pada tuan muda Lanc." sahut pelayan satu lagi.
"Tadinya aku berpikir dengan hadirnya nona An, dan pengasuhnya akan merepotkan kita ternyata justru bagai Dewi keberuntungan." ucap pelayan dua.
"Benar sekali kata kalian, aku senang dalam kurun waktu belum ada sebulan sudah dapat bonus dua kali." sahut pelayan tiga yang baru bergabung di dapur.
Hanifah secara tidak sengaja mendengar pembicaraan dari para pekerja di rumah keluarga Bisseling, kebetulan Hanifah mau pergi ke dapur khusus buat dirinya untuk mengbil air minum. Para pelayan melihat Hanifah yang sedang lewat dengan ramah menyapa Hanifah, secara bersamaan.
"Nona, ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan tiga sopan.
"Tidak usah terima kasih kak, cuma mau ngambil air minum saja," sahut Hanifah sopan tentu dengan senyum ramahnya.
"Ada apa-apa Nona bisa minta bantuan ke kami," tambah pelayan dua sopan.
__ADS_1
"Terima kasih kak," sahut hanifah tetap sopan dan senyum ramah "Mari kak," Hanifah setelah mengambil air minum segera meninggalkan para pekerja yang sedang istirahat di dapur.
"Dia jarang sekali bicara tapi sangat sopan biar dia mendapat fasilitas penuh dari tuan muda maupun tuan dan nyonya besar dia sama sekali tidak sombong, pantas saja jika tuan muda tergila-gils padanya," ucap pelayan tiga.
"Hah! Beneran tuan muda jatuh cinta pada pengaruh nona An? Yang benar? Dari mana kaku tahu? Jangan mengada-ada." pelayan satu dan pelayan dua terkejut mendengar ucapan pelayan tiga.
"Hust... jangan kencang-kencang, aku secara tidak sengaja beberapa hari yang lalu mendengar tuan muda Lanc dan nyonya besar sedang melakukan video call, ya aku mendengar ucapan tuan muda Lanc yang mengadu pada nyonya Besar." cerita pelayan tiga bisik-bisik pada kedua temannya.
"Wajar, saja jika tuan muda jatuh cinta pada pengasuh nona An itu malah lebih baik jadi benar jika tuan muda bukan pecinta satu episies." sahut pelayan dua senang.
Para pekerja di rumah Bisseling mereka kembali melakukan pekerjaannya masing-masing tanpa ada yang mengeluh karena semua pekerja di beri tanggung jawab masing-masing.
Hanifah duduk di salah satu sudut kamar Lancelot dengan di temani oleh suster nona An sedang tidur nyonya Bisseling sedang pergi belanja untuk membeli kebutuhan dapur.
"Sus, capek?" tanya Hanifah pada susternya.
"Kenapa dengan kamar ini?" tanya Hanifah heran.
"Takut ada hantunya, eh kak misal tuam melamar kakak apa kakak mau?" tanya suster tiba-tiba.
"Tentu aku tolak sus." jawab Hanifah enteng.
"Kenapa? padahal tuan muda itu sempurna lo," sahut suster.
"Ya, kamu terima saja sus," sahut Hanifah tetap santai.
__ADS_1
"Dia ngelirik aku saja tidak kok suruh nerima, kalau nerima gaji ya tentu aku terima setiap bulan," sahut suster" Eh tapi kadang aku juga bermimpi di lamar tuan muda Lanc, aduh siapa yang gak mau jadi nyonya besar dan berdampingan dengan tuan muda Lancelot." ucap suster menerawang jauh sejauh planet pluto.
"Ya, udah kamu terima saja." sahut Hanifah tetap tenang dan penuh canda.
"Mimpi kali di lamar tuan muda Lanc, eh kak kenapa kak Hani, menikah tuan muda Lanc, apa alasannya?" tanya sustee penasaran..
"Tentu aku tolak wong tuan muda tidak melamar saya." kelakar Hanifah.
"Jika tuan muda Lanc, benar-benar melamar kamu bagaimana kak? Siapa sih yang tidak tahu jika tuan muda Lanc itu idaman wanita Hongkong," suster masih penasaran dengan jawaban dari Hanifah.
"Setiap orang memiliki kriteri sendiri-sendiri dan ada beberpa kriteria ku tidak ada pada tuan muda Lanc," sahut Hanifah santai."Yang paling tidak aku terima karena kami memiliki keyakinan yang berbeda, kecuali kalau kalau tuan muda itu memiliki keyakinan yang sama denganku." sahut Hanifah
"Beneran jika Lanc melamarmu bakal kamu terima, jika Lanc memiliki keyakinan yang sama denganmu Han?" tanya nyonya Bisseling yang baru saja masuk tanpa di sadari oleh suster maupun Hanifah.
"Eh, nyonya maaf tadi kami berdua hanya bercanda saja," sahut Hanifah dan suster gugup.
"Tidak mengapa kita juga perlu hiburan kok, menghibur diri itu juga penting," sahut nyonya Bisseling enteng "Han, Sus, nanti malam kita makan di luar saja, Sus malam ini kamu kembali setelah makan malam ya, tadi Aku juga sudah bilang ke Joyce agar menjemputmu setelah selesai malam," terang nyonya Bisseling.
"Baik, nyonya." sahut suster sopan.
"An, tidurnya pulas sekali." puji nyonya Bisseling.
"Iya, nyonya sudah hampir satu jam nona An bergerak saja tidak." sahut Hanifah.
"Nanti malam kita makan tidak jauh dari sini, karena Lanc, melarang kami membawa kalian terlalu jauh dari rumah." ucap nyonya Bisseling.
__ADS_1
"Iya, nyonya." sahut Hanifah.