
Tahun ini merupakan pertama kalinya ulang tahun Hanifah, ada yang merayakannya, sebenarnya bukan tidak ada yang merayakannya namun karena Hanifah tidak suka jika acara ulang tahunnya dirayakan. Hanifah tipe orang yang tidak suka jika sesuatunya dibuat berlebihan, bagi Hanifah perayaan ulang tahun merupakan sesuatu yang berlebihan.
"Terima kasih," Hanifah tetap mengucapkan terima kasih dengan tulus pada mereka semua.
"Maaf mengganggu tidurmu, kelihatannya keponakanku senang sekali melihat mama Hani ulang tahu." celoteh Garnier menggoda nona An.
Mereka semua memakan kue ulang tahun Hanifah, Hanifah menyuapi nona An kue ulang tahun walau hanya sedikit sebagai syarat agar tertular keberuntungan yang dimiliki oleh yang berulang tahun. Mereka benar-benar menikmati acara tersebut, berhubung nona An, terbangun Lancelot Garnier dan nyonya Bisseling menemani Mereka beberapa saat, karena sudah sangat larut hingga satu l jam lebih nona An belum juga tidur akirnya nyonya Bisseling dan Garnier pamit untuk tidur.
"Berhubung tadi, Lanc yang membuat An menangis maka Lanc, harus bersedia menemani An sampai An tidur pulas." ucap nyonya Bisseling.
Hanifah mendengar penuturan dari nyonya Bisseling dia langsung melihat ke arah Lancelot.
"Setuju, kalau begitu, aku dan mama masuk kamar dulu, Han, jika kamu ngantuk tidur saja biar adikku yang ganteng ini yang jaga anaknya,." tambah Garnier.
"Tidak apa-apa nyonya, nona An biar saya saja yang jaga, Tuan, nyonya dan nona Garnier, silakan istirahat." tolak Hanifah sopan dan lembut.
"Hari ini hari ulang tahunmu, kami ingin meringankan pekerjaanmu, misal An bisa aku ajak ke kamarku aku ajak ke kamarku, berhubung An sudah sangat lengket denganmu, maka aku akan menemani An, waksu tidak sepenuhnya." sahut Lancelot "Aku tahu jika kamu merasa tidak enak hati, tapi aku ingin lebih dekat putriku," jelas Lancelot lagi.
Hanifah pasrah, toh menolak sudah pasti di tolak, Garnier dan nyonya Bisseling sudah kembali ke kamarnya, Sepeninggalan nyonya Bisseling dan Garnier Hanifah dan Lancelot menemani nona An bermain di kamar, dan lampu juga sudah diganti dengan lampu tidur agar nona An bisa kembali tidur dengan cepat. Nona An terlihat bahagia ditemani oleh Lancelot dan Hanifah, Lancelot tak henti-hentinya mengabaikan momen tersebut. Nona An setelah merasa lelah dan ngantuk akirnya nona An kembali tidur setelah di belai lembut oleh Hanifah dan juga Lancelot.
"Tuan, sebaiknya anda tidur di sini menemani nona, biar saya yang tidur di sofa," ucap Hanifah yang sudah mau beranjak turun dari ranjang.
"Kamu saja, yang di sini biar aku yang tidur di sofa, aku tidak ingin tidurmu tidak nyaman di hari ulang tahunmu, dan aku juga tidak ingin kamu sakit karena kedinginan, udara AC di depan terlalu dingin selimutnya juga kurang tebal tidak cocok untuk tibuhmu." ucap Lancelot dan Lancelot langsung turun dari ranjangnya.
"Tapi tuan,"Hanifah merasa tidak enak.
"Tidurlah, hari sudah sangat larut, selamat malam." perintah Lancelot.
"Terima kasih Tuan selamat malam." sahut Hanifah.
__ADS_1
Hanifah kembali berbaring di samping nona An seperti tadi, sedangkan Lancelot rebahaan di sofa depan, karena sofanya besar jadi masih muat untuk Lancelot tidu. Sebelum memejamkan mata Lancelot memutar ulang beberapa video tadi, Lancelot senyum-senyum sendiri begitu mengamati foto dan video ulang tahun Hanifah.
"Sungguh konyol jika aku tertarik padanya, padahal dia sama sekali tidak tertarik padaku," gumam Lancelot dalam hati sambil senyum-senyum sendiri mengingat kekonyolannya, apalagi banyak sekali foto dan video mereka bertiga, Hanifah Lancelot dan nona An "Memang benar kata orang wajah anakku kenapa bisa mirip sekali dengan Hanifah?"
Semakin lama Lancelot akirnya tertidur, Lancelot tidur di sofa dengan menggunakan selimut cadangan sedang Hanifah tetap nyenyak dengan nona An, di atas ranjang. Malam berganti begitu cepat, Hanifah bangun di jam tujuh pagi, segera mandi untuk membersihkan diri sedang nona An, masih terlelap dalam mimpinya begitu pula Lancelot juga masih menikmati mimpinya di atas sofa. Ketika Hanifah sedang mandi baru saja dapat separo dari luar terdengar suara tangis nona An yang baru bangun tudur. Lancelot yang mendengar tangisan nona An, segera bangun di hampirinya nona An yang masih berada di atas ranjang dan di gendongnya, namun karena tidak biasa bangun di tolong oleh Lancelot nona An tetap menangis mencari Hanifah dengan memanggil mama.
"Han!" seru Lancelot yang sudah mulai kuwalahan mengatasi nona An padahal baru lima belas menit.
"Ya, Tuan, sebentar saya keluar, sebentar sayang mama sebentar lagi keluar
." sahut Hanifah dari dalam kamar mandi, beruntung Hanifah sudah selesai mandinya tinggal memakai baju saja kerena tidak mungkin keluar dengan pakaian ala kadarnya.
"Dengar kata mama, mama sedang mandi sebentar lagi selesai, jangan menangis sayang." bujuk Lancelot sambil menggendong nona An.
Nona An seperti tidak menghiraukan ucapan dari Lancelot dia tetap menangis dan meronta, tidak begitu lama Hanifah sudah keluar dari kamar mandi tentu sudah rapi, segar, Harum walau tidak memakai make up Hanifah tetap kelihatan cantik, melihat Hanifah yang baru keluar dari kamar mandi membuat Lancelot semakin kagum pada kecantikan Hanifah yang natural.
"Tidak mengapa," sahut Lancelot sedikit gugup sambil memberikan nona An pada Hanifah "Kalau begitu aku ke kamar dulu, sebentar lagi aku kembali setelah sarapan nanti kita jalan-jalan siapkan kalian." perintah Lancelot.
"Baik, Tuan." sahut Hanifah santai sambil menenangkan nona An, nona An begitu berada dalam pelukan Hanifah langsung diam.
Lancelot segera meninggalkan kamar Hanifah menuju ke kamarnya sendiri, sesampainya di kamarnya Lancelot membaringkan diri di atas kasur, hati dan pikiran Lancelot menerawang jauh, apalagi akir-akir ini hati dan pikiran Lancelot tertuju pada Hanifah. Kehadiran Hanifah dalam kehidupan Lancelot benar-benar mampu memporak-porandakan benteng pertahanan Lancelot. Dari luar kamar Lancelot ada yang memencet bel, Lancelot segera bangkit dari ranjangnya dan segera membukakan pintu, di luar pintu ada nyonya Bisseling.
"Masuk Ma," perintah Lancelot lesu.
"Kamu belum siap, kamu sakit kok kelihatan lesu?" cecar nyonya Bisseling.
"Mungkin karena efek tidur di sofa semalam," sahut Lancelot asal.
"Kami, sudah siap tinggal menunggu kamu, sarapannya juga sudah datang, eh malah kamu belum mandi, bagaimana kamu bisa menjadi orang tua tunggal jika mengurus diri sendiri saja kamu tidak mampu, lihat anakmu sama Hani sudah cantik." cerocos nyonya Bisseling tiada henti.
__ADS_1
"Ya, aku tahu Hani sudah mandi sejak tadi pagi," sahut Lancelot sambil berjalan menuju kamar mandi.
"Cepetan mandinya!" perintah nyonya Bisseling.
"Ya, maka tunggu aku di kamar Hani, saja aku bakal cepat, dan jangan bilang ke siapa-siapa jika aku belum mandi." ucap Lancelot.
"Kenapa? takut gengsinya jatuh ?" ucap nyonya Bisseling asal nyeplos.
"Terserah mama." ucap Lancelot sudah berada di kamar mandi.
Nyonya Bisseling tetap duduk di kamar Lancelot menunggu Lancelot yang sedang mandi, setelah lima belas menit Lancelot sudah keluar dari kamar mandi, Lancelot segera ganti baju karena memang benar tidak terasa tadi Lancelot berbaring sudah satu jam.
"Ayo, Ma!" ajak Lancelot.
"Bagaimana tidurmu semalam?" nyonya Bisseling bukannya bangkit berdiri malah melontarkan sebuah pertanyaan pada Lancelot.
"Nyenyak," jawab Lancelot.
"Apa kamu benar-benar suka sama Hani?" tanya nyonya Bisseling langsung
"Sudahlah ma, jangan dibahas Hani itu hanya pekerjaku dia pengasuh dari anakku." jawab Lancelot berusaha menutup kegugupanya.
"Semakin hari mama dan papa amati kamu memperlakukan Hani itu sangat berbeda, dari cara kami memandang Hani, kami sudah tahu, apalagi kamu sampai berani mengakui di hadapan A ling, hingga membuat A ling marah, mama acungi jempol, ini baru keturunan Bisseling." ucap nyonya Bisseling panjang lebar.
"Soal, A ling bagaimana mama bisa tahu?" tanya Lancelot penasaran.
"Kita bahas lagi nanti, sekarang bukannya kamu ingin merayakan ulang tahun kekasihnu?" goda nyonya Bisseling pada putranya.
Lancelot tidak menjawab hanya mendesah dengan nafas berat, memang tidak mudah untuk bisa membohongi mamanya, Lancelot dan nyonya Bisseling berjalan beriringan menuju kamar Hanifah.
__ADS_1