
Lancelot menempati beberapa kamar dalam satu lantai, kedua orang tua Hanifah, menempati satu kamar, Hanifah dan nona An, satu kamar Lancelot satu kamar dengan Dandruff, sedangkan para tamu lainnya juga menempati kamar yang berbeda.
Orang tua Hanifah dibuat semakin takjub begitu masuk ke dalam kamarnya, sebuah kamar dengan fasilitas yang sangat luar biasa , sebuah kasur King size, TV, serta sofa besar berada di dalam kamar tersebut. Hanifah menemani kedua orang tuanya sedangkan Lancelot bersama dengan Dandruff dan tuan Setu Pon serta jajaran lainnya berada di salah satu ruangan, yang menjadi ruangan khusus buat Lancelot dan keluarga. Pasalnya Hotel tersebut juga merupakan Hotel milik Brown Group, sehingga Lancelot memiliki kamar khusus untuk pertemuan dengan relasinya.
"Semua serba mewah Han, bapak sedikit takut Han, bagaimana bapak bisa tidur." ucap Legi, bapaknya Hanifah.
"La yo Han, kamarnya besar sekali, dari tadi kok gak dengar suara adzan ya Han?" ujar Semi.
"Di sini gak ada yang namanya suara Adzan seperti di rumah Buk, untuk jadwal sholat ya harus lihat hp, yang adzan juga hp." jelas Hanifah "Ibuk sama bapak kok gak ngomong ke Hani jika mau ke sini," gerutu Hanifah manja.
"Kata, pak Setu Pon buat kejutan, kita di larang bilang-bilang, sebenarnya kami sudah menolak kaku kan tahu Han, ibuk takut naik peasawat." ucap Semi jujur.
__ADS_1
Nona An, dia asyik sendiri bermain dengan Legi, walau tidak begitu paham bahasanya nona An dan Legi sangat menikmati kebersamaannya, keduanya tidak ada kecanggungan sama sekali, bagai seorang kakek dengan cucunya.
"Jadi yang mengurus semua itu siapa Buk?" tanya Hanifah masih sangat penasaran.
"Semua ini pak Setu Pon yang menyiapkan Segalanya, Ibuk dan Bapakmu hanya berangkat saja, wong koper ya juga pak Setu Pon yang membelikannya, kata pak Setu Pon hadiah untuk kamu, katanya lagi kemungkinan kamu juga tidak bisa cuti ke Indonesia, makanya Bapak sama Ibuk di suruh datang ke sini, Bapak dan Ibuk juga sudah kangen dengan kamu Han, sudah hampir empat tahun kamu tidak pulang." ucap Semi, panjang lebar
"Rencana habis kontrak ini Han mau pulang dan tidak lagi bekerja di sini tapi Han, belum ingin berpisah dengan nona An, Buk, Han, menganggapnya seperti anak sendiri," jelas Hanifah pada ibunya, sedih.
"Iya, Buk, bila sudah ketemu jodohnya Han, pasti menikah lagi." ucap Hanifah jujur.
"Ibuk lega mendengarnya, usiamu itu sudah tidak muda lagi Han, dan almarhum suami dan anakmu juga sudah lebih dari seribu hari, Han, jika kamu mau menikah lagi juga sudah tidak apa-apa." tambah semi lagi lembut.
__ADS_1
"Pasti Han, pikirkan hal itu Buk." ucap Hanifah berusaha menenangkan kedua orang tuanya.
"Majikanmu itu kok sugih temen Han, ibuk sampai bingung bagaimana bisa hidup di rumah yang sangat besar seperti itu, kalau bersihinya gimana?" ujar semi heran.
"Pekerjanya banyak sekali kok, Buk aku saja sampai gak hafal nama para pekerjanya, yang aku tahu hanya tertentu saja, yang lain aku tidak kenal, lawong selama bekerja di sini Han, tidak boleh keluar sembarangan Buk, kemana-mana ya di kawal, di antar oleh sopir ya begitulah hidup Han, selama ini, sampai Hani mau ikut ke pengajian juga tidak sempat, lawong keluar kemanapun di antar oleh tuan Lanc, selain itu juga ada pengawal khusus." ujar Hanifah pada Semi, jujur.
"Bersyukur nduk bisa bertemu majikan yang sangat baik hatinya, kalau Majikanmu tidak baik gak mungkin to majikanmu ngundang kami datang kesini." ucap semi.
"Ya iya sih buk."
Hanifah menghabiskan waktunya bercengkerama dengan kedua orang tuanya, mereka sangat menikmati kebersamaannya untuk melepas rasa kangen yang sudah di ubun-ubun.
__ADS_1