
"Nasap itu hubungan pertalian darah, karena anak yang lahir tanpa pernikahan itu nasapnya pada ibunya, dan saya juga khawatir terjadi pernikahan sedarah sebab tidak pernah tahu siapa ibunya, saya rasa itu sangat merugikan bagi sang anak, karena jika anak turun kita menikah dengan saudara sedarah bisa berakibat fatal sungguh kasihan anaknya." jawab Hanifah secara sederhana.
"Awalnya aku dan papanya tidak tahu tentang langkah yang diambil Lancelot, ya itulah bodohnya anakku, terus terang kami tidak pernah berpikir tentang perkawinan sedarah seperti yang kamu paparkan, kamu hebat Han, bisa berpikir sejauh itu," nyonya Bisseling memuji cara berpikir Hanifah "Kalaupun kami menentang tentang rahim kontrak yang dipilih oleh Lancelot, yang jadi acuan kami bukan masalah perkawinan sedarah namun lebih ke garis keturunan atau silsilah." terang nyonya Bisseling.
"Soal perkawinan sedarah sedikit banyak saya pernah mempelajarinya nyonya, walau pengetahuan saya masih dangkal," ucap Hanifah.
"Kami pernah memancing Lancelot untuk mencari dan menemui ibu kandung cucuku namun Lanc, tidak mau mengingkari syarat perjanjian yang telah di sepakat mereka berdua, aku sendiri berpikir betapa konyolnya keputusan yang telah diambil oleh Lanc," ucap nyonya Bisseling "Han, aku minta tetaplah menjaga dan merawat cucuku, soal kontrak kerja kamu jangan khawatir Lanc, pasti sudah memikirkannya bagi putraku sekarang adalah kebahagiaan An," pungkas Nyonya Bisseling.
"Selagi saya masih mampu saya akan menjaga dan merawat nona An, Nyonya saya sendiri tidak tega membiarkan nona An, diasuh oleh orang yang tidak tepat, ya saya sadar saya juga bukan orang yang tepat buat nona An, saya bisa di samping noja An hanya sebuah kebetulan saja," ucap Hanifah hati-hati.
"Aku rasa bukan sebuah kebetulan tapi memang An, yang memintamu untuk menjadi ibunya." ucap Lancelot dengan senyum indahnya "Coba kamu pikir selama satu minggu sebekum masuk rumah Lanc, An bisa minum susu formula namun begitu masuk rumah , dan mencium ada Asi dalam rumah papanya dia langsung menolak susu formula, An menangis menjerit masih ku ingat setahun yang lalu ketika An tidak mau minum susu formula di gendong siapapun tidak mau hanya danganmu dua bisa tenang, jadi jangan bilang satu kebetulan tapi memang An sudah memilihmu untuk selaku berada di samping An." jelas nyonya Bisseling panjang lebar.
"Bukannya saya tidak mau merawat dan menjaga nona An, ada masanya saya harus berumah tangga kembali bagaimanaoun orang tua saya tetap memimpikan anaknya bahagia bersama dengan keluarga pada umumnya." jelas Hanifah.
"Setelah menikah kamu bisa tetap bekerja di sini dan kamu bisa bawa suamimu untuj bekerja di sini, bereskan." usul nyonya Bisseling.
__ADS_1
"Keinginan saya jika saya menikah saya tidak akan meninggalkan keluarga saya cita-cita saya itu cukup sederhana menjadi ibu rumah tangga seutuhnya, menjaga, merawat dan mendidik anak kami sendiri." jelas Hanifah.
"Apa yang kamu ucapkan itu sesuai dengan kriteria putraku dulu, dia selalu bermimpi memiliki istri yang selalu di rumah bukan berarti mengekang istrinya, tapi dalam artian dia ingin memiliki istri yang tidak mengenal dunia malam, seorang yang istri yang benar-benar mencintainya dengan tulus bukan karena harta semata." ucap nyonya Bisseling.
"Saya rasa itu sebuah impian normal bagi seorang laki-laki dan di tempat saya hal semacam itu sudah normal karena mayoritas orang di kampungku tidak mengenal dunia malam, namun saya juga tidak tahu tentang orang luar negeri karena setiap daerah pasti memiliki budaya sendiri-sendiri." jawab Hanifah sekenanya.
"Kamu pernah menyentuh alkohol dalam artian meminumnya?" tanya nyonya Bisseling.
"Sampai saat ini saya tidak pernah minum barang tersebut karena di agama saya di larang meminum alkohol," jawab Hanifah jujur.
"Iya Nyonya tuan Lanc, juga berpesan begitu pada saya, sebenarnya saya mau bertanya tentang A ling, maaf jika saya lancang dan beberapa hari ini terus menghahtui pikiran saya, kenapa A ling sekali menghancurkan tuan? apa nyonya tahu hal itu?" tanya Hanifah yang ingin tahu jawaban dari nyonya.
"Dendam, A ling tidak ingin melihat Lancelot bisa bahagia dengan wanita lain, apalagi A ling telah gagal mendapatkan Lancelot jadi dia pasti akan menghancurkan wanita manapun yang bersedia hidup dan menikah dengan Lancelot," jelas nyonya Bisseling garis besarnya saja" Aku juga ada pertanyaan untukmu Han, apa kamu bersedia menjadi ibu dari An?" tanya Bisseling penuh harap.
Hanifah terkejut untuk yang ketiga kalinya setelah mendengar pertanyaan dari nyonya Bisseling, bahkan kali ini wajah terkejut Hanifah tidak bisa di sembunyikan lagi.
__ADS_1
"Kamu tidak usah menjawab sekarang toh kontrak kerjamu masih lama Han, tenang saja," ucap nyonya Bisseling tenang.
Hanifah mengangguk, seiring dengan berjalannya waktu nona An bangun dari tidurnya, Hanifah dan nyonya Bisseling segera menghampiri nona An bersamaan. Nona An memilih memeluk Hanifah dari pada nyonya Bisseling, nona An menggelayut manja pada Hanifah dengan sabar dan iklas Hanifah menuruti kemauam nona An.
"Anak mama sudah bangun ya?" ucap hanifah sambil membelai lbut nona An yang berada dalam pangkuannya.
"Bahagianya aku jika memiliki menantu dan cucu." keluh Nyonya Bisseling "Keinginan ku terbesar diusiaku yang tidak muda lagi ini aku ingin melihat Lanc, menikah dan bahagia dengan keluarga kecilnya, namun entah kapan?" keluh nyonya Bisseling.
"Semoga suatu saat tuan berubah pikiran dan mau memikirkan untuk berumah tangga." sahut Hanifah sekenanya.
"Semoga."
Hanifah, nona An dan nyonya Bisseling berada di kamar Lancelot, beberapa mainan nona An juga di bawakan oleh pekerja Lancelot. Pancaran sebuah kebahagiaan terlihat nyata dari gurat senyum nyonya Bisseling, nyonya Bisseling tidak henti-hentinya terus mengajak nona An bermain, begitu juga nona An, menyambut sangat baik tehadap nyonya Bisseling.
Kamar Lancelot yang beberapa tahun ini sangat sunyi nan hampa, sekarang terdengar suara gaduh dari seorang anak kecil, kamar itu sekarang seperti memberi kehidupan baru pada keluarga Bisseling. Jika biasanya semua yang ada di kamar Lancelot diam membisu tanpa mau bersuara, dan tidak peduli sekarang semua menjerit bahagia, seolah ikut bermain dengan nona An. Nyonya Bisseling saking bahagianya dia mengosongkan semua jadwal kegiatannya selama Lancelot berada di luar negeri.
__ADS_1
Hari beranjak sore nyonya Bisseling mengajak Hanifah dan nona An untuk bermain di taman belakang rumah, nyonya Bisseling dengan senang hati menunjukan beberapa bagian rumahnya, walau hampir satu minggu Hanifah tinggal di keluaga Bisseling namun Hanifah bekum hafal betul tentang keadaan rumah keluarga Bisseling.