Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 66


__ADS_3

Sebuah mobil mewah anti peluru warna hitam telah terparkir di parkiran bandara, Lancelot, Hanifah serta nona An menuju perkiraan tersebut dengan pengawalan yang sangat ketat. Hanifah tidak merasa heran dengan semua ini karena selama bekerja pada Lancelot Hanifah selalu mengalami perlakuan yang sama. Namun kali ini Hanifah merasakan ada sesuatu yang berbeda, Hanifah merasa ada yang sedang mengikuti dan mengintainya namun Hanifah berusaha untuk tetap tenang dan juga tidak berani bertanya pada Lancelot. Sesampainya di mobil mereka segera masuk dengan Dandruff sebagai sopir dan dan satu orang bodyguard yang duduk di sebelah bangku kemudi, sedang Lancelot memilih duduk di belakang bersama dengan Hanifah dan nona An, beberapa mobil bodyguard Lancelot mengawal ada yang di depan dan juga ada yang di belakang.


"Han, jika ada suara tembakan segera menunduk, tolong peluk dan lindungi An." perintah Lancelot datar dan dingin.


"Baik, Tuan." Hanifah menjawab dengan dengan tenang dan juga tidak banyak tanya sebab sudah sejak lama Hanifah tahu jika nyawa nona An dalam bahaya, yang Hanifah tahu ada musuh Lancelot yang sedang menginginkan nyawa nona An, namun Hanifah tidak tahu persis siapa musuhnya Lancelot.


"Bagus, aku yakin kamu mampu melindungi An, dan aku tahu kamu berjiwa ksatria." ucap Lancelot lagi penuh keyakinan.


Mobil yang di tumpangi Lancelot meluncur dengan cepat, tidak ada pembicaraan diantara mereka Dandruff, tahu apa yang harus di lakukan, sebab sejak mobil mereka keluar dari bandara sudah ada yang mengintai namun bodyguard Lancelot masih bisa menghalaunya. Semua orang yang ada di dalam mobil nampak tenang tidak ada kecemasan yang berarti, termasuk Hanifah dan juga nona An. Di saat mobil melaju dengan kecepatan tinggi tiba-tiba ada sepeda motor dengan kecepatan tinggi berusaha untuk mendekatinya.


"Tuan, ada yang berusaha mendekati mobil kita." bodyguard itu mengingatkan Lancelot.


"Ya aku tahu, Han kita harus hati-hati," Lancelot mengingatkan Hanifah.


"Baik, Tuan." Hanifah tetap tenang dan memeluk nona An.


Di sebuah jalanan yang agak sepi pengemudi sepeda motor tersebut melepaskan tembakan pertamanya, namun tembakan tersebut mengenai kaca mobil saja dan tidak sampai tembus ke dalam. Dandruff tetap tenang berusaha menghindar dengan cara menambah kecepatan, serta meluncur kejalan raya yang penuh sesak kendaraan, sedang bodyguard Lancelot yang lain segera mengurus pengendara sepeda motor tersebut.


"Sialan, brengsek, bedebah." umpat pengendara sepeda motor tersebut kesal karena mobil yang di tumpangi Lancelot bisa lolos dengan mudah.

__ADS_1


"Kita sudah aman tuan, anak buah A ling sudah bisa kita ringkus." lapor bodyguard Lancelot.


"Bagus, suruh mereka untuk melepaskannya jika aku dan anakku sudah sampai rumah, aku suka sekali bermain-main dengan A ling." perintah Lancelot.


"Siap Tuan."


Mobil yang di tumpangi oleh Lancelot melaju dengan kecepatan sedang karena Dandruff memilih jalan raya yang penuh sesak dengan kendaraan umum maupun pribadi, dan tentu banyak polisi yang berkeliaran di jalan raya belum lagi CCTV di jalan raya yang selalu menyala. Dandruff menempuh jalur berputar untuk menghindari pertumpahan darah sebab di dalam mobil ada nyawa nona An dan Hanifah yang tidak berdosa, tidak berselang lama mobil yang di tumpangi Lancelot sudah memasuki gerbang mansionnya.


"Han, kamu segera bawa An, masuk ke dalam rumah dan jangan keluar rumah tanpa se-ijinku." perintah Lancelot tegas.


"Baik Taun."


Hanifah segera menggendong nona An masuk ke dalam rumah, sedang koper di bawa oleh pekerja lainnya, Lancelot langsung meninggalkan rumah setelah menurunkan Hanifah dan nona An di rumah. Mobil yang di tumpangi Lancelot melaju dengan kecepatan sedang menuju ke kantor Lancelot, di dalam mobil Lancelot mendial nomor A ling, tanpa menungu lama Lancelot sudah mendengar suara A ling di seberang telepon.


"Bagaimana, permainannya?, bermainlah dengan cerdik, kali ini Aku melepaskan orang suruhanmu karena anak dan kekasihku tidak terluka, namun jika kamu berani menyentuh mereka jangan harap aku akan melepaskanmu A ling." suara Lancelot tegas dan dingin.


"Dia, tidak pantas untuk menjadi kekasihmu, apalagi menyandang marha Bisseling, dia hanya layak menjadi seorang pelayan, dan aku pastikan hanya aku yang pantas berada di keluarga Bisseling." suara A ling tinggi penuh amarah dab masih dengan penuh percaya tinggi.


"Kenapa? Takut tersaingi, yang pasti kekasihku lebih segalanya darimu, dan for your information kamu terlalu kecil untuk bisa melawannya." ejek Lancelot percaya diri mulai membanggakan akan kemampuan Hanifah.

__ADS_1


"Aku pastikan kekasihmu dan anakmu akan berada dalam genggamanku." ucap A ling penuh amarah dan kesal.


Lancelot segera memutus panggilannya tanpa mau berdebat dengan A ling.


"Tuan, benar-benar terbukti nyata nona Hani, bukan wanita biasa dia sama sekali tidak takut mendengar tembakan tadi, dia tetap tenang sedikit gugup pun tidak, luar biasa." ucap Dandruff memuji sikap Hanifah barusan.


"Ya, aku tahu aku sama sekali tidak pernah menyangka Hani, yang kelihatan lembut namun dia memiliki sisi yang masih misterius," ucap Lancelot.


"Aku dengar tuan besar sudah menyelidiki tentang kehidupan nona Hani, sebelum bekerja di sini." jelas Dandruff.


Lancelot terkejut mendengar laporan dari Dandruff, Lancelot juga tidak pernah menyangka jika papanya mempunyai perhatian besar pada putrinya, "Sejak kapan papaku tahu?" tanya Lancelot penasaran.


"Saya kurang tahu pasti tuan," jawab Dandruff apa adanya.


"Kamu tahu detailnya?" tanya Lancelot pada Dandruff.


"Seperti yang saya bilang, saya kurang tahu pasti tuan, namun yang saya dengar dari tuan besar nona Hani, memiliki ilmu beladiri yang bagus, dan sebelumnya dia juga merupakan pengajar di sebuah perguruan bela diri di kotanya, bisa di katakan dia seorang master, karena sejak kecil nona Hani sudah mempelajari ilmu bela diri." jelas Dandruff panjang lebar.


"Ternyata hanya aku yang tidak begitu tahu tentang siapa pengasuh putriku." ucap Lancelot.

__ADS_1


"Jadi, sangat cocok jika nona An, di bawah pengasuhan nona Hani." tambah Dandruff.


Mobil yang ditumpangi oleh Lancelot sudah sampai di parkiran gedung pencakar langit, tempat kantor Lancelot berada. Lancelot sengaja turun di parkiran karena ingin lebih privasi, setelah memarkir mobilnya Lancelot Dandruff dan salah satu bodyguard-nya memasuki lift dan langsung menuju kantornya di lantai paling atas. Lancelot masuk ruangannya dengan diikuti oleh Dandruff dan bodyguardnya, sesampainya di kantor Lancelot segera menyalakan komputer dan memeriksa berkas yang telah tertata rapi di atas meja. Setelah Lancelot memberi perintah kepada Dandruff dan bodyguard, Dandruff dan bodyguardnya keluar dari ruangan Lancelot. Setelah kepergian Dandruff dan bodyguardnya Lancelot menghubungi papanya, Lancelot menanyakan tentang Hanifah pada tuan Bisseling langsung, tuan Bisseling dengan gamblang memberitahu Lancelot tentang siapa Hanifah, Lancelot mendengarkannya dengan seksama. Tuan Bisseling dari dulu sangat menyayangi keluarganya jadi siapapun yang berada di sekitarnya tidak luput dari penyidikannya. Lancelot tidak menyangka jika tuan Bisseling bakal melakukan penyidikan sampai di luar negeri, karena untuk pelayan di keluarga Bisseling hanya Hanifah yang berasal dari luar negara.


__ADS_2