
Beberapa hari ini situasi hati Lancelot masih belum stabil, Lancelot berusaha untuk menghindari bertemu dengan Hanifah, kalaupun ingin bertemu dengan putrinya Lancelot memilih ketika anaknya bersama dengan susternya. Hari ini akhir pekan biasanya Lancelot menghabiskan waktu bersama dengan putrinya namun kali ini Lancelot memilih keluar sendiri dengan temannya dengan alasan ada undangan perayaan ulang tahun pernikahan temannya. Sedangkan Hanifah dan nona An, diajak jalan-jalan di mall oleh tuan dan nyonya Bisseling suster tentunya yang tidak pernah ketinggalan.
Lancelot menikmati harinya bersama dengan temannya, Lancelot dan temannya memilih melihat langsung lomba pacuan kuda di salah satu kota yang sangat populer, tempat yang secara rutin mengadakan lomba pacuan kuda yang ada di negara Hongkong .
"Tuan muda Lancelot apa ada yang membuat gunung es dalam hatimu meletus? Tidak biasanya kamu segelisah ini" tanya Ang dengan sedikit gurauan. Ang merupakan sahabatnya sejak di bangku kuliah mereka berdua sama-sama menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi di negera London, mereka berdua sama-sama berasal dari keluarga yang kaya raya, bedanya Ang yang memiliki nama lengkap Ang beng can telah menikah dan memiliki dua Putra, dan kedua Putra Ang sudah duduk di bangku sekolah dasar.
"Gunung es? Bukan meletus namun meleleh walau setetes" ungkap Lancelot tanpa sadar, sebenarnya Lancelot juga sudah paham maksud dari temannya itu, Lancelot terkenal laki-laki dingin anti perempuan sejak usia dua puluh lima tahun, hanya karena pengghinaan dari pacarnya dan pacarnya juga meninggalkan Lancelot.
"Aku dapat sinyal dari wajahmu ada kegelisahan dalam hatimu?" gurau Ang.
"Lihatlah pacuan kudanya sudah mulai dan aku rasa kali ini benar-benar seru dan menegangkan, jika Aku menang aku traktir kamu!" seru Lancelot mengalihkan pembicaraan Ang tentang.
"Cepat... Cepat... Cepat lari yang kencang semangat semangat lari lebih kencang!" seru Lancelot dan Ang bersamaan, begitu para kuda yang sedang berada di area pacuan mulai melangkah lari.
Lancelot dan Ang kini mereka larut dalam gegap gempita riuhnya dengan para penonton lainnya dalam tribun di lomba pacuan kuda, empat belas kuda lari dengan kecepatan tinggi mereka saling kejar-kejaran agar mendapatkan nomor satu. Ke empat belas kuda tersebut hanya dalam hitungam menit sudah menyelesaiakan lombanya. Tidak terasa Lancelot dan Ang menghabiskan waktu selama empat jam di bawah tribun untuk melihat langsung lomba pacuan kuda yang di laksanakan setiap dua kali dalam seminggu.
"Habis ini kamu kemana Lanc jika tidak ada acara bagaimana jika kita hot pot di rumahku, tadi istriku ngajak hot pot, jika iya biar aku kasih tahu istriku dan biar segera disiapkan" Ang, menawarkan makan malam di rumah Ang, Ang sengaja Berbuat seperti itu sebab Ang menangkap keanehan dalam diri Lancelot.
__ADS_1
"Baiklah, aku bersedia asal tidak merepotkan istrimu dan pelayanmu, sebab ini sudah jam lima sore, aku takut mereka tidak nutut waktunya." jelas Lancelot menyetujui namun juga ragu.
"Beres, aku segera kabari istriku jika kamu mau makan di rumahku." ucap Ang senang, sebab Ang berhasil membawa Lancelot pulang dan yang terpenting Ang tetap bisa makan malam bersama dengan keluarganya.
Ang, sangat antusias begitu Lancelot menyetujui ajakannya untuk makan malam di rumah Ang. Ang segera mengambil ponselnya, Ang segera mengabari istrinya memberitahu jika Lancelot bakal makan malam di rumahnya. Ternyata bukan hanya Ang yang akan mengundang teman, ternyata istrinya Ang juga mengundang temannya agar bisa menikmati hot pot bersama sama, istrinya Ang mengundang satu teman perempuannya.
"Lanc, istriku sudah setuju, jam tujuh harus sudah berada di rumah, kamu tahu sendirikan kebiasaan istriku." ucap Ang memberi tahu kan kebiasaan istrinya yang tidak suka kata terlambat.
"Beres, berarti sejam lagi kita harus segera menuju rumahmu." ucap Lancelot menyetujui ajakan Ang.
"Tumben, Tuan Lancelot keluar di akir pekan, satahuku tuan Lancelot semenjak menjadi papa tunggal tidak lagi kekuar di akir pekan," sindiran Ang penuh selidik.
"Lanc, dari mana kamu dapat Hani?" tanya Ang yang ingin memancing Lancelot.
"Dari salah satu agent, kusus pekerja dari luar negeri." sahut Lancelot jujur.
"Sungguh mengagumkan." Ang terang-terangan memuji Hanifah di depan Lancelot.
__ADS_1
"Ingat ada istrimu." kini Lancelot malah mengingatkan Ang tentang istrinya.
"Ada apa dengan istriku?" tanya Ang pura-pura tidak paham.
"Jangan pernah kau hianati wanita yang telah kamu perjuangkan." nasehat Lancelot pada Ang.
"Aku tidak sebodoh itu, Lanc." jawan Ang tenang.
"Lalu? Buat apa kamu memuji-Muji Hanifah? Bukankah itu hal yang tidak baik dilakukan oleh seorang laki-laki yang sudah beristri." Lancelot berubah bagai orang tua yang sedang mengomeli anaknya.
"Jadi menurutmu bagaimana?" tanya Ang ambigu.
"Menurutku kamu tidak pantas memuji Hanifah di hadapanku." jawan Lancelot serius.
"Yang menurut kamu pantas memuji Hanifah, apa hanya tuan muda Lancelot saja?" tanya Ang penuh selidik.
"Apa? Jangan mengada-ada kamu Ang, dan jangan menarik kesimpulan sendiri." jelas Lancelot.
__ADS_1
"Nanti setelah tante sepulang dari liburan akan Aku ajak tante untuk narik hatimu agar bisa jatuh ke tanah lalu aku pungut dan aku bungkus kado yang cantik dan akan aku kirimkan pada seorang yang sangat istimewa di hatimu." ejek Ang miris.