
Hanifah sampai hari ini dia tidak pernah bercerita pada siapapun jika dia menjadi ibu susu dari anak majikannya, Hanifah takut akan menjadi fitnah jika sampai terdengar dikalangan umum. Hanifah masih terpikir dengan perkataan Tatuk tadi, bagaimana bisa Tatuk hidup dengan uang dua ratus dolar padahal masih dua kali libur iri kalau majiaknnya tepat waktu kasih gaji sedangkan majikan Tatuk sering molot saat kasih gaji alias majikannya pura-pura amnesia.
Mengingat tentang cerita dari tataju membuat hati Hanifah terenyuh, padahal menurut Tatuk, rumah majikanTatuk juga jauh dari tempat keramaian kalau mau keluar untuk beli makanan saat liburan ya harus naik mini bus untuk mencapai pasar dan pasti harus ada ongkos. Hanifah merasa bersyukur sekali walau tidak ada kebebasan seperti Tatuk dengan gaji tinggi namun tidak begitu ada waktu menggunakan paling hanya di transfer untuk kebutuhan kedua orang tuanya, dan di transfer untuk bakti sosial.
Dua jam Hanifah berusaha untuk memejam mata namun tetap tidak bisa masih kepikiran sahabat baiknya Tatuk, akhirnya Hanifah keluar saru kamau untuk mengecek keadaan nona An.
"Han." sapa langsung saat berpapasan di dekat kamar nona An.
"Selamat malam Tuan," sapa Hanifah sopan.
"Kamu ada masalah? barusan aku mendengar sepertinya kamu lagi dalam masalah " tanya Lancelot yang menghentikan langkahnya, sebenarnya bukan karena Lancelot mendengar pembicaraan Hanifah dengan Tatuk namun karena tanpa Hanifah sadari jika WhatsApp Hanifah sudah disadap oleh Lancelot.
"Sedikit," sahut Hanifah sedikit ragu.
"Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Lancelot mulai khawatir, walau tetap dengan wajah datarnya.
"Tuan, sebenarnya em... em... em.... " Hanifah ragu untuk mengutarakan maksud dan tujuannya.
__ADS_1
"Katakan Han, sebab aku tidak ingin konsentrasi kamu pecah saat menjaga putriku karena kamu ada masalah." perintah Lancelot tegas.
"Begini Tuan, sebenarnya besok saya ada perlu dengan teman saya sebentar saja, jika Tuan mengijinkan saya ingin bertemu dengan teman saya besok." Hanifah mengutarakan keinginannya ragu dan sedikit takut.
"Di mana dan jam berapa? Apa temanmu yang dulu itu?" tanya Lancelot.
"Iya Tuan temanku yang dulu itu, di mana ketemunya saya belum tahu Tuan karena tadi saya juga belum memberi kepastian, katanya teman saya libur hanya ada di dekat rumah majikannya, biasanya teman saya keluar dari rumah majikannya jam delapan pagi." jelas Hanifah panjang lebar.
"Baiklah, kamu bikin janji dulu dengan temanmu, besok siang sekitar jam dua belas kami antar tapi ingat hanya sebentar ya, seperti yang aku katakan beberapa hari yang lalu khususnya kamu tidak boleh berkeliaran di luar terlalu lama apalagi sendirian, sangat berbahaya, aku memperkermtat penjagaanmu karena aku ingin menjamin keselamatanmu." tegas Lancelot, mengulangi akan perintahnya beberapa hari yang lalu.
"Terima kasih Tuan, tidak lama hanya sebentar, dan saya akan segera ikut tuan kembali pulang." Hanifah langsung girang karena Lancelot mengijinkan untuk menemui Tatuk, Tatuk merupakan teman dan juga tetangganya saat di kampung, mereka bersahabat sejak kecil dan sudah seperti saudara sendiri mereka berdua saling memberi semangat dan saling menguatkan selalu ada dalam suka maupun duka.
"Terima kasih Tuan, sekali lagi saya ucapkan banyak terima kasih." ucap Hanifah girang, saking girangnya Hanifah langsung masuk kamar nona An, tanpa mengucapkan selamat malam dan selamat tidur pada Lancelot.
Lancelot memandangi Hanifah dengan menyunggingkan seulas senyum kekaguman pada Hanifah, padahal Hanifah telah meninggalkannya sendirian dengan wajah bahagianya hingga tubuh Hanifah hilang di balik pintu kamar nona An. Setelah tubuh Hanifah tidak terlihat Lancelot segera berjalan untuk menuju kamarnya sendiri untuk istirahat.
Di dalam kamarnya Lancelot segera membaringkan tubuhnya di atas ranjang, berkali-kali Lancelot memejamkan matanya namun tidak bisa terpejam yang ada malah Lancelot terbayang-bayang wajah Hanifah seharian ini, wajah yang sangat sederhana nan manis, walau hanya dengan make up tipis sudah membuat Lancelot terpana, apalagi bawaan Hanifah yang keibuan membuat Hanifah berbeda dari wanita lainnya di kata Lancelot. Hampir dua jam Lancelot berbaring namun hasilnya tetap sama wajah Hanifah seolah tetap menari-nari dengan riangnta di pelupuk mata Lancelot.
__ADS_1
"Gila... gila... gila." Lancelot mulai sedikit frustasi dengan otaknya yang tidak bisa lagi berpikir jeenih selalu mengingat setiap gerak gerik Hanifah seharian ini" Mama, kenapa juga kaku memelih Hani, untuk menjaga putriku dan kenapa juga mama dandani Hanifah sedemikian rupa." gumam Lancelot yang sudah mulai semakin frustasi.
Kekacauan hati Lancelot sebab Hanifah membuat Lancelot tidak bisa tertidur hingga jam lima pagi, Lancelot akirnya memutar ulang beberapa rekaman CCTV yang menampilkan kegiatan Hanifah hari ini, Lancelot tidak hanya sekali melihat rekaman CCTV tentang Hanifah namun berulang-ulang, hingga Lancelot benar-benar capek dan matanya menjadi lengket baru dimatikan hand phone-nya.
Pagi hari kegiatan di rumah Lancelot sedikit berbeda karena pagi-pagi sekali tuan dan nyonya Bisseling sudah bersiap-siap untuk kembali ke rumahnya sendiri setelah dua minggu nginap di rumah Lancelot.
"Han, aku pulang dulu, tolong jaga cucuku, besok aku datang lagi sebelum aku berangkat lusa, hari ini mau menata barang yang akan kami bawa besok lusa." jelas nyonya Bisseling menghampiri Hanifah yang sedang memanggku nona kecil di sofa kamar nona An, karena Hanifah ingin menyusui nona An.
"Kami, percaya padamu Han, kami akan meninggalkan negara Hongkong selama satu bulan, atau lebih seperti yang Nyonya katakan." jelas tuan Bisseling.
"Baik, Tuan, Nyonya." sahut Hanifah sopan.
"Cucu, nenek cantik sekali, sebentar lagi pasti bakal bersaing dengan nenek, eh... nenek bukan nenek, dengan siapa ya, bagaimana jika An bersaing dengan nona Hani saja kalian berdua sama-sama cantik dan imut." celetuk nyonya Bisseling dengan seulas senyum kebahagiaan.
"Ayo, Ma keburu siang, jangan ganggu Hani dan An." ajak tuan Bisseling.
"Baiklah, kaki pamit dulu." pamit nyonya Bisseling.
__ADS_1
"Hati-hati nyonya," sahut Hanifah sopan dan ramah" Hati-hati, kakek dan nenek," suara Hanifah menirukan suara bayi.
Nyonya Bisseling dan tuan Bisseling meninggalkan kamar nona An, sedang Hanifah langsung menyusui nona An, nona An nampak lahap menyedot ASI dato Hanifah. Setelah nona An, kenyang Hanifah segera segera membantu nona An, untuk mandi pagi, selesai mendandani nona An, Hanifah segera menghubungi Tatuk temannya. Hanifah menanyakan tentang lokasi libur Tatuk, dengan perasaan sangat senang Tatuk segera memberitahu letak tempatnya untuk menikmati liburannya hari ini, dan kebetulan hari ini Tatuk akan mengikuti pengajian di majelis yang lokasinya malah dekat dengan tempat tinggal Hanifah.