
Hanifah selesai menelpon kedua orang tuanya dia langsung memejamkan matanya, sedang Semi masih rebahan di depan TV, menunggu Legi pulang, tidak sampai setengah jam Legi sudah masuk rumah dan memarkir motornya di dalam rumah. Setelah Legi ganti baju dan bersantai, Semi memberitahukan tentang apa yang telah disetujui oleh Hanifah, tentang pembayaran jual beli tanah.
Lancelot menghabiskan waktunya di malang selama empat hari, tadinya Lancelot berencana hanya dua hari saja namun keindahan alam di kota Malang membuat Lancelot betah untuk tinggal di kota Malang. Di kota Malang banyak sekali hal baru yang telah di pelajari oleh Lancelot, bahkan Lancelot juga menyempatkan diri untuk mengunjungi beberapa wisata terkenal yang ada di kota Malang. Setelah empat hari berada di kota Malang Lancelot dan Dandruff memutuskan untuk kembali ke Hongkong, Lancelot memilih penerbangan pagi agar siang bisa mendarat di negara Hongkong, Lancelot juga tidak memberitahukan kepulangannya pada siapapun termasuk Hanifah maupun nyonya Bisseling, Lancelot berencana untuk membuat kejutan buat keluarganya. Lancelot beserta rombongannya berangkat dari kota Malang pukul dua pagi, agar tidak telat sampai di bandara, mobil Pajero hitam itu menuju Bandara yang ada di Surabaya dengan kecepatan sedang.
Lancelot maupun Dandruff sangat menikmati pemandangan di luar melalui kaca jendela mobil, suasana malam hari di kota Malang sangat Indah dan lengang tidak terjadi banyak kemacetan sehingga hanya butuh waktu kurang lebih tiga jam mobil yang mereka tumpangi sudah berada di bandara. Sesampainya bandara Lancelot dan Dandruff segera check in, sedangkan Setu Pon dan sopirnya juga melanjutkan aktifitas masing-masing.
Jam satu siang pesawat yang ditumpangi oleh Lancelot dan Dandruff sudah mendarat sampai di Bandara Hongkong dengan selamat tiada halangan suatu apapun. Lancelot dan Dandruff sengaja naik taksi untuk menuju ke rumah kedua orang tuanya. Tidak sampai setengah jam taksi yang mereks berdua tumpangi sudah memasuki pintu gerbang kediaman Bisseling.
Hanifah maupun nyonya Bisseling tidak menyadari jika Lancelot susah berada di kediaman Bisseling, Hanifah dan nyonya Bisseling serta suster, mereka sedang berada di kamar Lancelot untuk bercengkerama karena nona An waktunya untuk tidur. Lancelot langsung menuju kamarnya yang berada di lantai empat, sedangkan Dandruff kembali ke rumahnya sendiri begitu selesai mengantar, dan memastikan jika Lancelot bakal selamat sampai di rumahnya.
"Selamat siang semuanya." sapa Lancelot yang sudah berdiri di pintu kamarnya sendiri.
Nyonya Bisseling serta Hanifah sangat terkejut saat tiba-tiba mendengar sapaan dari Lancelot, mereka menoleh ke arah pintu secara bersamaan.
"Tuan." sapa Hanifah yang masih dengan ketekejutannya.
"Lanc." sapa nyonya Bisseling juga masih dengan mimik terkejut.
"Putri mama ayo sini, papa sudah pulang ayo sambut papa." perintah Hanifah pada nona An.
Nona An mendengar panggilan dari Hanifah dia segera menghampiri Hanifah, nona An tidak langsung berjalan menuju Lancelot berdiri, malah memeluk erat Hanifah.
"Putri papa sudah tambah cantik saja, ayo sini peluk papa, papa sudah sangat rindu banget dengan Putri papa," Lancelot mencoba untuk merayu nona An, namun faktanya nona An tetap berada dalam pelukan Hanifah, malah meluknya sangat erat.
__ADS_1
"Cucu nenek yang cantik, ayo sambut papa," rayu nyonya Bisseling.
"Ayo, sayang sambut papa, peluk papa," perintah Hanifah pada nona An, namun nona An malah menggelengkan kepala dengan raut wajah cemberut.
Hanifah dengan telaten mengantar nona An hingga benar-benar mau menyambut Lancelot, walau dengan mimik kurang bersahabat, setelah dengan rayuan yang sangat penuh drama nona An, akirnya mau memeluk Lancelot. Lancelot sangat bahagia sekali bisa memeluk putrinya pasalnya sudah satu bulan tidak berjumpa dengan putrinya, selama memiliki anak kali ini pergi yang paling lama, biasanya Lancelot hanya pergi satu atau minggu saja.
Satu bulan tidak ada interaksi antara Lancelot dan putrinya membuat noa An tidak begitu dekat dengan Lancelot, nona An cenderung acuh pada Lancelot, nona An lebih dominant dekat dengan Hanifah.
"Papa ada oleh-oleh banyak sekali buat tuan Putri papa, oma, opa dan mama Hani, ayo kita buka hadiahnya," ajak Lancelot langsung menggendong nona An.
"Sus, tolong buka kopernya, pinnya tanggal lahir An," perintah Lancelot pada suster.
"Iya, Tuan." sahut suster, suster dengan cekatan dan dibantu Hanifah membuka koper besar tersebut.
"Tolong keluarkan semua isinya." perintah Lancelot yang masih menggendong nona An
"Ma ma ma mama," ucap nona An sudah mulai meronta minta untuk turun dari gendongan Lancelot, Lancelot menurunkan nona An dan menyerahkan pada Hanifah.
Nyonya Bisseling sangat terkejut dan juga heran akan perubahan pada putranya, satu koper penuh isinya pernak-pernik wanita, dan juga anak-anak, beberapa baju bercirak batik sangat mendominasi isi koper tersebut.
"Ini untuk mama dan papa, pakaian ini khas orang Bali, dan ini merupakan batik khas orang jawa, di Indonesia murah-murah untuk semua ini tidak sampai sepuluh ribu dolar." ucap Lancelot sambil menyerahkan empat bungkus pakaian pada nyonya Bisseling, lengkap dengan tas batik yang unik dan cantik.
Nyonya Bisseling sangat terharu dengan tingkah anaknya, kalau biasanya Lancelot akan memberi hadiah sesuai dengan keinginan nyonya Bisseling atau atas pilihan Garnier, karena Lancelot tidak bisa belanja untuk wanita maka kali ini sangat berbeda bagi Nyonya Bisseling, benar-benar sebuah kejutan yang luar biasa.
__ADS_1
"Ini, untuk tuan Putri papa cantik-kan," seru Lancelot memamerkan beberapa potong baju anak masih bernuansa batik, selain batik Lancelot juga membeli beberapa baju anak dengan model kebaya berbagai macam warna dan juga model.
"Terima kasih papa, ayo tuan Putri bilang thank you pada papa" Hanifah dan nyonya Bisseling mengajari nona An untuk mengicap terima kasih.
"Pa pa yu." ucap nona An.
"Cium papa." Hanifah dan nyonya Bisseling menyuruh nona An untuk mencium Lancelot.
Semua orang di kamar Lancelot merasa bahagia hanya tuan Bisseling tidak merasakan hal itu karens tuan Bisseling sedang berada di kantor. Suster juga mendapatkan hadiah baju namun dengan model yang berbeda, model yang sesuai dengan Karakter sang suster, dan yang terakir Lancelot mengeluarkan beberapa bungkus pakaian family couple.
"Yang ini untuk mama Hani, An kasih ini untuk mama." Lancelot menyerahkan Sari bungkus pakaian pada nona An agar di serahkan pada Hanifah, nona An tanpa di perintah untuk kedua kalinya dengan senang hati walau belum bisa membawa dengan benar nona An, melangkah sedikit berlari menuju tempat Hanifah berada dan menyerahkan pada Hanifah.
"Ma ma ma ma." ucap nona An, sangat gembira.
Hanifah menyambut dengan senang hati, Hanifah mengucapkan terima jadih dan juga mencium nona An, nona An setelah menyerahkan pada Hanifah dia kembali pada Lancelot, nona An mengambil lagi bungkusan dan di serahkan pada Hanifah, tanpa di suruh walau yang di ambil asal. Tingkah nona An, membuat semua orang tertawa Lancelot dan nyonya Bisseling tidak berhenti untuk terus tertawa dan memuji nona An.
"An, kamu pintar sekali lihat masa cuma mama Hani, yang kamu kasih bagi dong sama oma sini." goda nyonya Bisseling pada nona An.
"No no no." sahut nona An, percaya diri.
"Sini, papa juga mau dong An." kini ganti Lancelot yang menggoda nona An.
"No no no." sahut nona An lagi bagian sedikit ketus.
__ADS_1
Di dalam kamar Lancelot semua tertawa bahagia dengan ulah nona An, yang menunjukkan batapa sayangnya nona An pada Hanifah.