Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 188


__ADS_3

Pagi yang cerah, Hanifah dan Lancelot sudah terbangun sejak subuh, setelah subuh keduanya memutuskan untuk tidak tidur lagi, Lancelot mengajak Hanifah untuk menikmati sunrise dari kapal pesiar. Udara dingin pagi menusuk tulang, Lancelot tidak melepaskan sama sekali pelukannya pada Hanifah. Sedangkan nona An tetap tenang dengan dunia mimpinya. Lancelot semakin hari semakin menunjukkan kasih dan cintanya pada Hanifah. Deburan ombak saling kejar-kejaran, angin sepoi-sepoi menerjang tubuh mereka berdua, sedangkan beberapa kapal jurusan Macau juga sudah mulai melintas, dari kapal pesiar juga bisa melihat hilir-mudiknya kendaraan darat yang melintas di jembatan gantung yang menghubungkan dua pulau kecil di negara Hongkong.


"Pa, papa bahagia?" tanya Hanifah.


"Kenapa? Apa mama tidak bahagia?" Lancelot malah bertanya balik.


"Bahagia sangat bahagia sekali, namun ehm... ehmm." Hanifah tidak melanjutkan kembali ucapannya.


"Kenapa?" tanya Lancelot penasaran.


"Kenapa dulu papa mengontrak rahim dari orang yang tidak di kenal?" tanya Hanifah sedikit takut.


"Karena dulu aku belum ketemu Mama dan juga belum kepikiran untuk menikah bahkan sama sekali tidak pernah aku pikirkan, hingga pada suatu hari, aku dapat menemukan ketulusan cinta dari hati mama, dulu aku berpikir menikah itu ribet, nyatanya setelah satu bulan bersama mama, papa dapat merasakan betapa sangat berharganya seorang istri dalam hidupku." ucap Lancelot masih terus memeluk Hanifah, Hanifah juga semakin nyaman dalam pelukan Lancelot.


"Terima kasih Pa, sudah mejadikan mama seorang ratu, mama berharap kita bisa menua bersama, tidak pernah mama sangka jika mama akan tetap berada di negara ini, pantas saja dulu papa tidak mencari pengganti, seumpama aku tidak mau menikah dengan papa bagaimana?" tanya Hanifah.


"Aku paksa, mama." jawab Lancelot.


"Ma, pa!" seru nona An dari dalam kamar.

__ADS_1


"An, sudah bangun sebaiknya kita masuk dulu." ajak Hanifah.


Lancelot mengikuti instruksi Hanifah, Lancelot terus memeluk Hanifah seolah tidak mau lepas.


"Pa, lepasin ada An!" ucap Hanifah.


"An, harus terbiasa melihat jika papa dan mamanya sangat bahagia." jelas Lancelot.


"Anak mama sudah bangun sayang," sapa Hanifah lembut dan langsung naik di atas ranjang memeluk nona An yang masih berbaring malas.


"Papa, dan mama kemana sih." tanya nona An.


"Oh." sahut nona An singkat.


"Ayo sayang cuci muka sikat gigi, habis itu kita sarapan ok?" ucap Hanifah.


"Sebental ma, sebentaaaalllllll saja." pinta nona An.


"Baiklah, seorang Putri tidak boleh telat terlalu lama, tidak boleh lebih dari lima belas menit." gurau Hanifah.

__ADS_1


"Ayo, An kita jalan-jalan di kapal ini sekalian nanti kita berenang di atas kapal bagaimana?" tawar Lancelot.


"Mau... Mau...mau!" seru nona An langsung girang.


"Kalau begitu cepat bangun." perintah Lancelot.


"Sebental pa Sebental, sama mama aja boleh kok." ucap nona An yang tidak beraturan.


Lancelot mengalah pada nona An, mereka bertiga bergurau dan bercengkerama di atas kasur, walau mereka baru menikah namun karena sudah ada nona An, maka mereka lebih mirip satu kekuarga yang sedang melaksanakan liburan keluarga.


Surat kabar dan media elektronik sudah di penuhi berita tentang pesta pernikahan Lancelot dan Hanifah, yang sangat meriah. Seperti pagi ini majikan Tatuk yang melihat berita sedikit terkejut ketika mengetahui jika menantu sang milliader Hongkong ternyata pekerjanya yang berasal dari Indonesia. Majikan Tatuk langsung memanggil Tatuk yang sedang berada di dapur. Majikan Tatuk menunjukkan berita tersebut pada Tatuk, sedang Tatuk tidak begitu terkejut karena Tatuk sudah tahu sejak lama, bahkan Tatuk juga mendapat undangan untuk menghadiri pestanya tersebut namun karena Tatuk tidak berani pamit pada majikannya maka Tatuk tidak datang.


"Ma, sudah lama mama tidak bertemu dengan teman mama," ucap Lancelot.


"Iya, hari ini dia sebenarnya libur." jawab Hanifah.


"Biarkan dia ke sini, aku suruh Dandruff menjemputnya, di mana alamatnya?" tanya Lancelot antusias.


"Boleh!" Hanifah langsung menyetujuinya.

__ADS_1


Hanifah tanpa pikir panjang segera menghubungi Tatuk yang masih berada di rumah majikannya. Tatuk segera menyetujui tawaran Hanifah, karena semenjak dari bandara sampai sekarang mereka berdua juga belum pernah bertemu kembali.


__ADS_2