
Jam enam petang semua sudah berkumpul di salah satu sudut taman yang ada di rumah Lancelot untuk barbecue tentunya di alam terbuka, beberapa pelayan di rumah Lancelot juga sudah stand by di depan tungku untuk memangang menu buat mereka yang ada di sana.Jenis makanan yang di panggang cukup banyak dan beraneka ragam mulai dari maianan yang berbahan daging, sampai sayur seperti jagung, kentang, wortel, jamur dan tentu sudah di bumbui menggunakan margarine, garam maupun bumbu lainnya.
Hanifah tidak ikut makan seperti yang lain karena dilarang oleh Lancelot, maka untuk makan malam Hanifah tetap menu seperti biasa, untuk makanan yang berbau daging Hanifah sama sekali tidak tertarik namun pas melihat jagung bakar sungguh membuat air liurnya menetes, ditambah ada ubi jepang dan ubi cilembu yang ikut dibakar benar-benar membuat Hanifah ingin segera menyantapnya namun sayang hal itu hanya sebuah mimpi bagi Hanifah.
Hanifah masih asyik dengan pekerjaannya yaitu menjaga nona An dengan ditemani oleh suster. Nyonya Ang begitu asyik dan sangat menikmati acara hari ini, nyonya Ang sangat senang bisa menggendong dan bercengkerama dengan nona An, nona An juga tidak begitu keberatan jika digendong oleh Nyonya Ang maupun yang lain tentunya hanya dengan durasi waktu yang pendek tidak lebih dari setengah jam.
"Rasanya kenyang sekali," ujar nyonya Ang.
"Ayo, Ang lanjutkan," ujar nyonya Bisseling.
"Tidak, terima kasih Nyonya, perutku sudah tidak muat," sahut Nyonya Ang, bersandar pada kursi yang ada di tanam.
Dua anak Ang asyik sendiri dengan dunianya, di bawah pengawasan pengasuhnya. Lancelot, Ang dan tuan Bisseling mereka juga asyik dengan percakapannya dan tentunya membahas dunia laki-laki dan sedikit membahas tentang dunia kerja.
"Nona An, sungguh cantik." puji Ang.
"Tentu Ang, anakku." Lancelot bangga pada dirinya.
"A ling, bagaimana dengan dia, aku dengar dia masih ada dendam denganmu, dan lagi dia akan kembali ke Hongkong, entah kapan belum pasti. " ungkap Ang.
"Ya, aku sudah tahu itu," jawan Lancelot.
"Hati-hati dengan A ling, dia wanita licik.'' Ang mengingatkan Lancelot.
"Tentu, aku sudah memperketat penjagaan untuk putriku." sahut Lancelot.
__ADS_1
"Itu lebih bagus, susah malam dan anak -anak juga sudah capek, sebaiknya kita pamit." ucap Ang.
"Tidak terasa sudah malam, perasaan baru saja kita bermain." seloroh tuan Bisseling.
Acara barbecue berjalan sangat lancar dan juga sangat menyenangkan, semua menikmati acara dengan penuh suka cita. Jam sepuluh malam Ang dan keluarga pamit pulang, tidak ada acara pesta sampai pagi karena Ang membawa dua putranya. Hanifah sudah kembalu ke kamar nona An, Hanifah membersihkan nona An, setelah nona An bersih Hanifah segera menidurkan nona An, begitu nona An sudah tertidur Hanifah masuk di kamarnya untuk beristirahat.
Hanifah untuk melepas rasa penat ya dia menghubungi Tatuk lewat panggilan video call sambil rebahan.
"Assalamu'alaikum, Han." sapa Tatuk di balik layar sambil rebahan.
"Wa'alaikum salam, Tuk, tumben sudah nangkring di kasur," seloroh Hanifah sambil rebahan juga.
"Alhamdulillah, hari ini mbokku makan di luar, jadi aman, para tuyul juga diajak aku bisa istirahat cepat hari ini," sahut Tatuk dengan perasaan bahagia "Tumben kamu Han, biasanya kaku juga tengah malam gitu baru telpon." ucap Tatuk lagi.
"Tumben apanya, biasa juga jam segini lihat sekarang sudah jam berapa?" oceh Hanifah.
"Ngimpi jika aku bisa libur Tuk, ini malah aturan di rumah ndoro juraganku bertambah ketat, kemanapun aku keluar harus di kawal, untuk saat ini Aku benar-benar bagai hidup di penjara." keluh Hanifah.
Tatuk bukannya prihatin namun malah tertawa terbahak-bahak" Hidupmu bagai di penjara tapikan penjara emas." seloroh Tatuk.
"Kok?" tanya Hanifah.
"Ya, iyalah bayangin aja tugas kamu hanya merawat tuyul satu itupun masih ada suster juga, majikanmu memang super kaya, pembantunya saja diberi dapur khusus, tempat tidurmu juga mewah, coba pembantu kaya aku, tidur di kamar yang sempit mau gerak saja sulit, kerjaan banyak." curhat Tatuk.
"Tapi kamu kan bisa libur setiap minggu Tuk, mimimal bisa bertemu sesama pekerja Indonesia dan bisa makan sambel serta makanan khas Indonesia tanpa sensor, kalau aku mana bisa, tadi saja aku ngiler lihat jagung bakar dan telo bakar, rasanya kaya orang ngidam tapi apalah daya, aku tidak dikasih hanya bisa ngeces dan mendelongop ria, Andai bisa kekuat dan libur aku akan beli bakso, beli rujak, beli soto, beli rawon." curhat Hanifah melupakan kejenuhannya.
__ADS_1
"Aku kalau gak ada sambel gak bisa makan Han, entahlah mungkin aku juga akan Strees bila berada di posisiamu, kebanyakan orang kaya memang banyak sekali aturannya, temanku bawa makanan dari luar juga tidak boleh harus makan makanan yang di sediakan oleh majikan, katanya kalau bawa makanan dari luar tidak higienis, jadi temanku ya agak mirip denganmu tapi parahan kamu Han." cerocos Tatuk.
"Ternyata ada temannya, tak kira aku saja." sahut Hanifah.
"Kita syukuri saja Han, yang penting tiap bulan gajian bisa kirim untuk keluarga, dan badan kita tetap sehat agar bisa melanjutkan perjuangan kita sebagai pahlawan keluarga." ucap Tatuk saling menyemangati.
"Kamu tadi makan Apa, Tuk?" tanya Hanifah.
"Biasa, aku tadi merdeka gak ada sang lopan ndoro juragan jadinya aku makan sambel bawang sama ikan asin, benar benar nikmat sekali Han," Tatuk malah memameri Hanifah.
"Ya, Allah tuk, kamu tega sekali, gak mau bagi-bagi, gak seneng aku, kamu pameri saja." rajuk Hanifah dengan wajah cemberut dan memelas.
Tatuk malah tertawa terbahak-bahak melihat ekpresi Hanifah yang begitu memelas.
"Sini-sini aku masakin buat kamu, kalau kamu libur aku masakin deh makanan kesukaanmu." hibur Tatuk.
"Aku tak ngimpi dulu Tuk, majikanki malah bilang jika anaknya belum dua tahun aku tidak boleh libur, jika Aku ingin bertemu dengan teman harus di antar majikan kaya dulu itu dan sekarang malah semakin ketat penjagannya." terang Hanifah.
"Wes, di syukuri ae Han, kita ikut orang ya harus ikut aturan majikan yang penting uang lembur lancar gajiam juga lancar, gak libur uang malah utuh, bulan ini saja aku harus ikat pinggnag kencang-kencang, Han, kamu tahu sendiri kan bagaimana keadaan keluargaku di kampung, masih dua kali libur uangku tinggal dua ratus dolar, wes aku libur di taman sebelah rumah saja, besok aku libur bontot oseng pare sama teri," curhat Tatuk.
"Kamu ada Bank Hongkong gak?" tanya Hanifah.
"Kenapa?" tanya Tatuk.
"Kalau ada rekening Bank Hongkong, besok aku transfer," ucap Hanifah.
__ADS_1
"Tidak usah, Han, aku sudah biasa kaya gini, lagian aku juga tidak punya rekening Bank Hongkong," tolak Tatuk.
Setelah bercengkerama selama satu jam Hanifah dan Tatuk mengakiri percakapannya di dalam telepon karena hari juga sudah larut.