
Hanifah seperti biasa dia melangkah dengan pelan sekali agar nona An tidak terbangun, Hanifah mulai memegang handle pintu bukanya pintu, saat Hanifah membuka pintu Lancelot yang bersandar di pintu tersungkur ke belakang Hanifah dan Lancelot sama-sama terkejut.
"Maaf tuan." cicit Hanifah sangat terkejut mendapati Lancelot yang jatuh ke lantai karena tidak tahu jika Lancelot bersandar di daun pintu.
Wajah Lancelot langsung merah menahan malu dan tidak menjawab pertanyaan dari Hanifah.
"Kenapa tuan ada di sini?" tanya Hanifah gugup tanpa membantu Lancelot untuk berdiri.
"Aku... aku mau melihat An." cicit Lancelot bangun dengan sendirinya.
Lancelot dan Hanifah hanya saling pandang Hanifah merasa tidak enak sedang Lancelot merasa malu karena bisa terjatuh.
"Nona kecil baru tidur, saya permisi dulu selamat malam tuan," untuk menghindari kecanggungan Hanifah segera meninggalkan Lancelot yang masih berdiri di depan pintu kamar nona An.
Lancelot tidak menjawab sepatah katapun Lancelot masih tidak bisa mencerna apa yang barusan terjadi pada dirinya, Lancelot hanya melihat langkah Hanifah yang menjauh dari pandangannya dan sudah lenyap masuk ke kamarnya.
"Benar-benar gila bagaimana aku sampai tidak tahu dia mau membuka pintu." gerutu Lancelot berbicara sendirian.
Lancelot segera masuk ke kamar nona An, secara perlahan-lahan seperti biasa supaya nona An tidak terbangun. Lancelot berdiri di samping bok bayi di belainya Putri kecilnya yang sedang terbuai di alam mimpi.
"Anak manis, papa sangat merindukanmu, bagaimana kabarmu hari ini sayang." ucap Lancelot "Maaf papa tidak bisa mendampingimu hari ini, papa janji minggu depan papa akan menemani Putri papa seharian, An putriku papa yakin kamu mendapatkan kasih sayang dari cece Hani, eh bukan cece, enaknya kamu panggil apa sayang pada nona Hani?" Lancelot berceloteh sendiri lirih dengan senyum berbinar-binar menyimpan sebuah rasa yang sulit untuk dijabarkan.
Lancelot membelai dan memandangi wajah putrinya yang terlelap selama tiga puluh menit. Lancelot kembali ke luar setelah puas memandangi wajah putrinya, Lancelot kembali masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.
Tangisan nona An di pagi hari memekak telinga sehingga membuat Lancelot juga ikut terbangun, biasanya Lancelot baru bangun jam delapan pagi namun jam enam pagi Lancelot sudah ikut terbangun karena tangisan putrinya. Di dalam kamar nona An Hanifah dan susternya berusaha untuk menenangkannya namun tidak berhasil, Lancelot begitu bangun dengan masih memakai pakaian tidur dia menuju kamar nona An.
__ADS_1
"Apa yang terjadi dengan putriku, kenapa dia menangis kencang sekali apa putriku sedang sakit?" tanya Lancelot bertubi-tubi dengan wajah penuh kekawatiran.
"Nona kecil sedikit demam tuan." lapor suster sedang Hanifah tetap sibuk menggendong dan menenangkan nona An.
"Bagaimana anakku bisa sakit?" tanya Lancelot sudah sangat khawatir" bukankah semalam dia baik-baik saja, cepat panggilkan dokter." Lancelot menjadi panik.
"Semalam nona kecil baik-baik saja panasnya baru saja." suster yang memberi penjelasan.
"Cepat panggilkan dokter!" perintah Lancelot pada suster.
Tidak hanya Lancelot saja tuan dan nyonya Bisseling juga ikut terbangun karena kegaduhan yang di ciptakan oleh Putri tunggal Lancelot.
"Ada apa dengan cucuku?" nyonya Bisseling ikut panik.
"Nona kecil demam nyonya," jawab suster.
"Tolong tuan muda gendong nona kecil." perintah Hanifah pada Lancelot.
"Baiklah." Lancelot segera mengambil alih nona An.
Hanifah memberikan nona kecil pada Lancelot, Lancelot dengan penuh kehati-hatian menggendong nona kecil, sepuluh menit, dua puluh menit setelah hampir satu jam nona kecil berada dalam gendongan Lancelot nona kecil baru tenang, namun Hanifah harus tetap berada di dekat Lancelot, sedikit saja Hanifah menjauh dari Lancelot nona kecil kembali menangis. Setelah benar-benar tenang Lancelot menyerahkan kembali nona kecil pada Hanifah mamun nona kecil kembali rewel lagi begitu lepas dari gendongan hanifah, Lancelot kembali menggendong putrinya lagi, kini Hanifah harus pergi ke toilet karena ada hal yang harus dituntaskan di dalam toilet, selama Hanifah tidak ada di dekat Lancelot dan nona kecil, nona kecil kembali menangis dengan kencang sekali.
"Tidak biasanya cucuku begini, biasanya cukup digendong Hanifah saja sudah tenang," ujar nyonya Bisseling.
Karena hari masih petang dan belum waktunya bangun bagi pekerja yang lain maka yang heboh Lancelot sendiri, nyonya Bisseling dan yang bagian mengurus nona kecil.
__ADS_1
"Sus, kamu sudah menghubungi dokter Silk?" tanya Lancelot pada suster.
"Sudah tuan, tapi dokter Silk sekarang ada jadwal operasi ceasar karena ada yang melahirkan." jelas suster.
"Kapan dokter Silk kesini?" tanya Lancelot panik.
"Jika tidak ada masalah satu jam operasi selesai, namun jika ada masalah bisa sampai enam jam, tergantung situasi." jelas suster.
Mendengar penjelasan singkat dari suster Lancelot langsung tidak berdaya, Lancelot tidak pernah menyangka jika melahirkan harus berada di meja operasi dalam jangka waktu yang lama. Hari ini Lancelot memutuskan untuk tidak masuk kantor karena anaknya berulah tidak mau lepas dari gendongan Lancelot maupun Hanifah.
"Aku rasa anakmu merindukanmu Lanc, satu minggu ini aku lihat kamu sibuk tidak ada waktu untuk anakmu." jelas nyonya Bisseling.
"Bisa juga begitu nyonya." sahut Hanifah.
Lancelot hanya diam tidak menyahut, Lancelot sadar dalam satu minggu ini intensitas dengan anaknya banyak berkurang, dalam satu minggu ini Lancelot selalu pulang larut malam, di tambah akir pekan Lancelot memilih pergi sendiri dengan teman-temannya. Setelah dua jam dokter Silk telah sampai di rumah Lancelot, Joyce yang menyambut kedatangan dokter Silk langsung mengantar dokter Silk menuju kamar nona An.
"Salamat pagi semuanya, maaf menunggu lama karena saya ada jadwal operasi." sapa dokter Silk begitu sudah berada di kamar nona An.
"Terima kasih dokter sudah datang," sahut Lancelot yang tetap mendampingi putrinya dan Hanifah.
Dokter Silk segera memeriksa keadaan nona An, selain melakukan pemeriksaan pada nona An, dokter Silk juga melakuakan pemeriksaan pada Hanifah, serta mengorek si keterangan dari Hanifah maupun suster untuk mengetahui penyebab nona An demam dan terus menangis.
"Setelah saya periksa, nona An dalam keadaan baik-baik saja, tidak masalah yang berarti begitu juga nona Hani, dari segi asupan Asi tidak ada masalah, anak seusia nona An, mengalami demam secara tiba-tiba sudah hal biasa, bisa juga karena capek sebab nona An, sudah bisa mulai berlatih untuk beraktifitas." jelas dokter Silk panjang lebar.
"Tapi dari tadi tidak mau lepas dari papanya dan juga Hanifah." jelas nyonya Bisseling.
__ADS_1
"Maaf sebelumnya, di saat seperti ini yang dibutuhkan seorang anak sesuai nona An adalah kasih sayang dari kedua orang tuanya." jelas dokter Silk.