
"Apa ini tentang ancaman A ling." tebak tuan Bisseling datar.
"Ya, sekarang putriku dan Hanifah yang jadi incarannya." jelas Lancelot langsung pada topik utamanya.
"Kami sudah tahu sejak lama, itu sebabnya mama selalu mengingatkanmu untuk menjaga dan melindungi Hanifah dan putrimu, apalagi kami mau pergi ke Kanada, kamu yang harus bertanggung jawab penuh pada mereka berdua." ucap nyonya Bisseling tegas.
"Segera perketat penjagaan untuk Hani dan An, targetnya sekarang bukan kita saja tapi mereka berdua, karena A ling tahu Hanifah dan Putrimu bagian penting dalam keluarga kita, dan kamu tahu sendiri-kan sepak terjang mantan kekasihmu selama beberapa tahun ini, dia masih menyimpan dendam, karena dia gagal untuk mendapatkan harta kita, iblis betina itu tidak akan pernah berhenti untuk tidak mengganggumu, beruntung dulu kamu bisa lepas dari A ling, dan kamu tidak dibutakan oleh cinta palsunya, itu sebabnya dulu kami sangat menentang keras hubunganmu dengan A ling, " ucap tuan Bisseling penuh amarah.
Lancelot hanya diam terpekur mencerna setiap ucapan kedua orang tuanya, ya memang benar dengan ucapan kedua orang tua Lancelot belasan tahun yang lalu Lancelot dan A ling terlibat Asmara dan tanpa Lancelot ketahui jika A ling tidak benar-benar cinta pada Lancelot, A ling hanya ingin mengusai harta milik Bisseling, hingga pada saatu hari Lancelot memergoki sendiri pembicaraan A ling dengan pacarnya jika Lancelot hanya dijadikan alat saja untuk menguasai harta Bisseling, padahal Lancelot cinta mati pada A ling, sebab itu hingga saat ini Lancelot tidak percaya pada wanita dan Lancelot lebih memilih hidup tanpa wanita.
"Semua itu masa lalu, sekarang kita pikirkan keselamatan putriku dan Hanifah, alasan itu juga kenapa aku memilih rahim kontrak untuk melahirkan putriku, sebab aku tidak ingin A ling melukai wanita yang terlibat denganku." jawab Lancelot dingin.
"Kamu terlalu pengecut Lanc dalam menghadapi A ling, tapi saat ini kami percayakan pada kamu Lanc dan papa rasa, pilihanmu saat ini sangat tepat membiarkan anakmu di bawah asuhan Hanifah, dan faktanya tetap ada seorang wanita yang terlibat dalam hidupmu bukan." ucap tuan Bisseling.
"Mama yang memilih Hanifah untuk putriku, dan aku sadar, sekuat apapun aku menghindari berurusan dengsn wanita, nyatanya tetap ada wanita yang harus terlibat dalam hidupku, ku kira dengan menyewa rahim untuk mendapatkan keturunan bisa lebih aman nyatanya tidak, tetap ada dua nyawa yang harus aku lindungi." jawab Lancelot jujur dan gusar.
"Ternyata kamu terlalu bodoh untuk menilai seseorang, betapa pentingnya wanita dalam keluarga, kecuali jika kamu tidak ingin memiliki anak kamu tidak perlu terlibat dengan seorang wanita." sergah nyonya Bisseling.
"Bukannya aku bodoh tapi aku tidak mau terlalu ceroboh," elak Lancelot.
__ADS_1
"Sama saja," ucap tuan Bisseling sarkastis.
Mereka berempat bersama dengan Dandruff membahas rencana selanjutnya, mengatur strategi untuk menghalau A ling agar tidak bisa menyentuh Hanifah dan nona An. Hampir dua Jam Lancelot dan kedua orang tuanya serta Dandruff membahas strategi yang bagus agar tidak terkalahkan oleh A ling. Setelah selesai membahas strategi Lancelot menanggil Joyce untuk mengumpulkan pekerja yang ada di rumah Lancelot untuk berkumpul di ruangan seperti biasa, tidak terkecuali termasuk Hanifah dan suster. Setelah semua pekerja berkumpul Lancelot memberitahukan tentang peraturan baru di dalam rumahnya termasuk ketatnya pengawasan di dalam kediaman Lancelot. Sekiranya sudah mengerti Lancelot mengakhiri pertemuan dengan para pekerja di dalam rumahnya. Hanifah benar-benar tidak paham dengan gaya hidup orang kaya, selain tidak bebas juga penuh tekanan dan persaingan.
"Han, kamu bisa toh kontraknya hanya dua tahun, kamu bisa pergi." batin Hanifah dalam hati, sebagai orang yang terbiasa hidup bebas Hanifah mulai jengah dengan segala peraturan yang telah buat oleh Lancelot terutama tentang hidupnya, namun sebagai pekerja dia harus tetap patuh pada peraturan yang dibuat oleh tuannya.
Hari demi hari kehidupan Hanifah semakin diatur oleh Lancelot, dulunya Hanifah bermimpi bisa libur minimal sebulan sekali dan bisa mengikuti kegiatan keagamaan seperti pekerja lainnya, namun kini tinggal mimpi belaka yang tadinya dalam kontrak kerja bisa libur setiap minggu malah kini keadaan terbalik Kalaupun keluar harus bersama dengan sang majikan, namun Hanifah juga masih beruntung walau di bawah pengawasan yang sangat ketat minimal Hanifah masih bisa mengikuti kegiatan keagamaan secara virtual. Rumah mewah dan megah dengan segala fasilitas yang jauh lebih baik dari pada pekerja lainnya namun tetap tidak bisa membuat hati Hanifah nyaman justru membust Hanifah tidak nyaman.
"Han," sapa Lancelot yang menemui Hanifah di taman bersama dengan putrinya.
"Ya, Tuan," sahut Hanifah sopan.
"Baik, Tuan," sahut Hanifah singkat.
"Nanti biar mama yang membantumu untuk memilihkan pakaian yang pantas buat kamu," tambah Lancelot lagi.
"Baik, Tuan," jawab Hanifah lagi.
Selesai memberi tahu Hanifah Lancelot meninggalkan Hanifah yang sedang menemani nona An bermain di taman belakang rumah, di rumah Lancelot di desain ada taman kecil khusus untuk bermain putrinya, tentunya untuk saat ini nona An hanya berada di dalam gendongsn Hanifah atau sekedar di taruh di kereta bayi jalan di taman belakang untuk menghirup udara yang segar.
__ADS_1
Hanifah masih tidak begitu paham dengan ucapan Lancelot, padahal selama ini saja Hanifah dari segi pakaian sudah sangat berbeda dengan pekerja yang lain, bukan hanya pakaian dari semuanya Hanifah mendapatkan perlakuan yang sangat berbeda dab special, Hanifah selalu dituntut bersih dan rapi bahkan tangan Hanifah tidak boleh mencuci piring apalagi sampai memegang lap, dengan alasan Hanifah harus memegang nona An setiap saat, apalagi jika waktunya mau menyusui nona An, Hanifah wajib melakukan banyak ritual untuk memastikan jika tubuh dan tangan Hanifah bersih.
Setelah dari taman memberitahu Hanifah Lancelot menemui nyonya Bisseling yang sedang berada di dalam perpustakaan bersama dengan tuan Bisseling.
"Pa, Ma," sapa Lancelot pada kedua orang tuanya.
"Apa ada hal penting?" tanya nyonya Bisseling santai sambil tetap membaca buku.
"Besok Ang bersama anak dan istrinya mau datang kesini mereka ingin bermain dengan An." Lancelot memberitahukan tentang kedatangan sahabatnya.
"Bagus, lalu?" tanya nyonya Bisseling.
"Tolong, dandani Hani, dan putriku." pinta Lancelot.
"Baik, tapi jangan komplin dengan hasilnya, mama pasti me dandani Hani dan cucuku sesuai dengan seleraku." ucap nyonya Bisseling santai.
"Yang penting mereka cantik," pinta Lancelot.
"Jangan khawatir, mama akan medandani mereka berdua." ucap nyonya Bisseling.
__ADS_1