Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 165


__ADS_3

Nyonya bisseling asyik ngobrol dengan Semi, keduanya terlibat percakapan ringan, walau dengan bahasa yang sekenanya dan semampunya, kadang mereka berdua hanya tersenyum ketika tidak saling paham pada arah pembicaraan. Jam satu siang semua acara telah usai dan para tamu undangan serta kerabat juga sudah meninggalkan tempat resepsi. Setelah acara selesai Hanifah segera mengganti bajunya dengan di bantu penata make up kamarnya, begitu juga Lancelot juga di bantu oleh penata rias dalam melepas jarik tapih(selendang), sebagai orang luar negeri dan tidak pernah memakai jarik tentu kebingungan dalam melepasnya.


Selesai berganti pakaian dan membersihkan diri, ini pertama kalinya Lancelot menjadi imam sholat bagi Hanifah dan nona An. Setelah selesai sholat dalam doanya Lancelot maupun Hanifah tak henti hentinya mengucap kata syukur atas nikmat yang melimpah.


"Alhamdulillah." kata pertama yang di ucapkan oleh Lancelot "Terima kasih kamu sudah bersedia menjadi mama untuk An, dan mau mendampingiku, terima kasih sayang." ucap Lancelot saat Hanifah bersalaman dan mencium tangan Lancelot.


Mendapat perlakuan santun dan manis dari Hanifah membuat Lancelot benar-benar terharu, bahagia dan juga menambah tenang di jiwanya. Tidak ada kata sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka berdua yang ada hanya ucapan rasa syukur yang tiada tara.


Setelah melakukan sholatdhihur semua istirahat sebentar untuk persiapan resepsi nanti sore. Begitu juga Hanifah memilih beristirahat di kamar bersama dengan nona An dan Lancelot. Hanifah seperti biasanya dia menidurkan nona An, karena jam sudah menunjukkan pukul dua siang yang artinya sudah waktunya nona An untuk tidur siang.


"Tuan, sejak kapan tuan sembuh total?" tanya Hanifah berusaha memecah keheningan antara mereka berdua karena nona An sudah terlelap dalam mimpinya.


"Lima hari lalu, sengaja aku tidak memberitahumu karena aku ingin memberi kejutan di hari pernikahan kita," ucap Lancelot dengan senyum penuh kebahagiaan "Bagaimana An, selama di sini apa dia merepotkanmu?" tanya Lancelot.

__ADS_1


"Nona, baik-baik saja dia bahkan sangat bahagia sekali, katanya dia tidak mau kembali ke Hongkong." ucap Hanifah masih kaku.


"Seminggu lagi dia harus masuk sekolah, dan sebelum masuk ada pertemuan wali murid, jadi kita harus kembali ke Hongkong empat hari lagi." jelas Lancelot.


"Ya saya Tuan." sahut Hanifah.


"Sampai kapan kamu akan tetap memanggil tuan padaku sayang." ucap Lancelot.


"Baiklah, aku tidak akan memaksamu untuk mengubah panggilan." ucap Lancelot mengalah.


"Saya, ngantuk mau tidur sebentar sebab, habis ini masih ada resepsi dan kita harus berdiri menerima tamu, mulai habis asyar sampai sekitar jam sepuluh." jelas Hanifah.


"Apa?" seru Lancelot tidak percaya.

__ADS_1


"Iya, sebenarnya tadinya kami hanya ingin membuat resepsi siang saja, karena orang tua punya alasan sendiri akhirnya kami membuat resepsi satu hari full," jelas Hanifah.


"Aku kira perayaan di sini simpel ternyata, sangat njlimet, kita tidur saja aku sendiri juga ngantuk, saking gugupnya aku sampai tidak bisa tidur satu malam penuh, badanku pegel-pegel semua." sahut Lancelot jujur, langsung memejamkan matanya.


"Saya kira tuan tidak akan gugup, ternyata sampai pucat pasi seperti vampire yang kekurangan darah." goda Hanifah.


"Bukan lagi gugup, nyawa ini seperti mau copot dari raga ini, Mah, kayanya bagus juga kita panggil mama, papa." usul Lancelot.


"Ehmmm... boleh juga, toh usia kita juga tidak muda lagi." ucap Hanifah enteng.


"Nyindir aku nih, biar tua begini banyak yang antri juga." ucap Lancelot percaya diri.


"Saking banyak yang antri sampai bingung, yang di pilih, eh yang di pooh malah bukan yang antri." ucap Hanifah lagi.

__ADS_1


__ADS_2