Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 138


__ADS_3

Tidak ada yang tahu tentang rencana Lancelot yang ingin mengikrarkan diri menjadi seorang Muslim selain keluarganya. Semua keluarga Bisseling tidak ada yang keberatan dengan keputusan Lancelot, mereka malah mendukungnya.


"Han, nanti siang kamu ikut aku ke bandara, ada relasiku dari Indonesia datang." ucap Lancelot saat menyantap sarapan paginya di ruang makan.


"Tuan Dandruff apa tidak ada?" tanya Hanifah, karena sangat tidak masuk akal permintaan Lancelot, urusan kantor bukanlah ranahnya " Bukankah ini urusan bisnis kenapa saya harus ikut? Bukankah biasanya orang kantor yang menjemput?"


"Yang penting siapkan dirimu jam satu siangk kita berangkat ke bandara." tegas lanc".


"Baik tuan." jawab Hanifah pada akhirnya dia mengalah.


Sekarang Lancelot makan di meja dan menunya sama dengan Hanifah, karena Lancelot mulai mengkonsumsi makanan halal yang biasa di makan oleh Hanifah. Karena hari sabtu selesai sarapan mereka menghabiskan waktu di kamar untuk membantu nona An mengerjakan tugas dari sekolahan. Semenjak bangun dari komanya Lancelot jadi lebih perhatian dengan nona An. Mereka begitu asyik menikmati kebersamaannya sedangkan tuan dan nyonya Bisseling lebih memilih jalan-jalan, menikmati akhir pekannya.


"Tuan, jam satu kurang lima belas menit." Dandruff mengingatkan Lancelot.


"Kami segera turun."


Lancelot Hanifah dan nona An, segera turun, mereka menaiki mobil tesla terbaru yang berkapasitas besar. Hanya dalam waktu tiga puluh menit Lancelot Hanifah dan nona An, sudah sampai di pintu kedatangan bandara Hongkong.

__ADS_1


Mereka berdiri di pintu kedatangan menanti sang tamu datang, Hanifah masih tidak mengerti kenapa Lancelot mengajaknya menjemput relasinya, sebab selama Hanifah bekerja pada Lancelot, ini yang pertama kalinya dia diajak menjemput relasi kerjanya.


Lima menit sepuluh menit, hingga di menit ke lima belas Lancelot dan Dandruff melambaikan tangannya ketika melihat orang dengan memakai baju batik khas Indonesia.


Hanifah tidak begitu melihat dengan sempurna rombongan yang di sambut oleh Lancelot dan Dandruff, hingga ketika rombongan sudah dekat Hanifah baru menyadari siapa yang datang.


Hanifah diam terpaku, dia tidak pernah menyangka jika di dalam rombongan tersebut ada kedua orang tuanya.


"Ibuk...bapak!" seru Hanifah masih belum percaya akan pemandangan yang ada di hadapannya kali ini.


Hanifah tidak memperdulikan, keadan sekitar saking bahagianya dia sampai lupa jika sekarang berada di bandara. Hanifah segera memeluk kedua orang tuanya haru.


"Iya Han, kamu tidak mimpi." ucap Semi lembut.


"Bagaimana bapak sama ibuk bisa sampai sini, nanti ibuk tidur di mana? Terus siapa yang mengurus semua surat-surat ibuk, ibuk dan bapak tidak untuk kerjakan?" tanya Hanifah bertubi.


"Majikanmu yang mengundang kami kesini," jawab Lagi bapaknya Hanifah.

__ADS_1


"Benar tuan yang mengundang, apa tuan memperkerjakan orang tua saya?" tanya Hanifah masih dalam keadaan belum bisa menguasai emosinya.


Lancelot tersenyum mendapat cercaan pertanyaan Hanifah, Lancelot dapat melihat betapa khawatirnys Hanifah pada orang tuanya.


"Han, kita bicarakan di rumah kita pulang dulu." ucap Lancelot lembut.


"Tidak, tuan jawab saya, jika tuan memperkerjakan orang tua saya, sekarang juga saya akan bawa orang tua saya pulang Indonesia." Hanifah sedikit emosi.


"Han, tidak ada yang memperkerjakan bapak dan ibuk, majikanku mengundang kami, bukankah kamu tidak bisa cuti dalam waktu dekat." ucap semi nenirukan info dari utusan Lancelot.


"Nona, apa yang orang tua nona katakan itu benar, saya yang mendapat amanat dari tuan Lanc, untuk mengurus kedatangan orang tua nona." Setu Pon menjelaskan pada Hanifah.


"Han, sebaiknya kita pulang dulu apa kamu mau jika bakal ada berita yang lebih bagus lagi," ucap Lancelot.


"Berita apa?" tanya Hanifah sedikit mereda amarahnya.


"Mungkin pernikahan kita." ucap Lancelot percaya diri " Kita pulang dulu mama dan papa sudah menunggu kita di rumah."

__ADS_1


"Ibuk, bapak." sapa Lancelot pada kedua orang tua Hanifah" Jangan kaget Han, aku belajar dari kamu waktu telepon." ucap Lancelot yang mengetahui keterkejutan Hanifah ketika dia memanggil dengan sebutan ibuk dan bapak.


Lancelot menyalami kedua orang tua Hanifah dengan sopan, begitu pula kedua orang tua Hanifah juga membalas dengan sopan juga.


__ADS_2