Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 49


__ADS_3

Jam sembilan malam mobil Garnier memasuki gerbang kediaman Garnier, di London Garnier memiliki rumah yang sangat mewah tidak kalah dengan rumah Lancelot, serta memiliki jumlah pekerja yang tidak jauh beda dengan pekerja di rumah Lancelot. Sesampainya di kediaman Garnier nyonya Bisseling dan tuan Bisseling langsung menuju kamarnya karena sudah larut semua penghuni di rumah Garnier sudah terlelap dalam tidurnya. Hanifah dan nona An menempati kamar yang biasanya di pakai untuk tamu, Hanifah dengan di bantu oleh Garnier dan salah satu asisten Garnier membongkar koper untuk keperluan nona An.


"Aku harap kalian bisa tidur, sebab besok pagi-pagi sekali kita akan melakukan survey hotel untuk acara keponakanku." ucap Garnier ramah.


"Baik, nyonya," sahut Hanifah sopan


"Kamu gak marah sama aku waktu itu-kan Han?" tanya Garnier pada Hanifah.


"Marah buat apa nyonya?" tanya Hanifah tidak paham arah pembicaraan Garnier.


"Waktu, aku ngakh kalau aku calon istri Lancelot," jelas Garnier.


"Oalah itu, tentu tidak nyonya, lagian buat apa saya marah," sahut Hanifah.


"Siapa tahu cemburu?" ucap Garnier berusaha memancing Hanifah.


"Cemburu? buat apa saya cemburu?" sahut Hanifah heran dengan pertanyaan Garnier.


"Baiklah, aku keluar dulu selamat istirahat, dan semoga kamu betah di sini, ada apa-apa kamar tuan-mu ada di sebelah kamarmu, kamarku dan mama ada di lantai atas, jadi ada apa-apa jangan sungkan untuk mengetuk kamar tuanmu, ok Hani." ucap Garnier sebelum meninggalkan kamar tamu yang di tempat oleh Hani dan nona An.


"Baik, nyonya selamat malam, selamat istirahat juga." sahut Hanifah sopan.


Garnier keluar dari kamar Hanifah dia menuju ruang tengah yang ada bar mini di mana suami Garnier dan Lancelot sedang meminum anggur merah.


"Lanc, jangan banyak minum, dan papa juga." nasehat Garnier.


"Cuma bersulang untuk menyambut kedatangan adikku paling cuma segelas tidak mengapa." sahut tuan Garnier suami Garnier.


"Jangan khawatir kak, aku tahu kalau aku harus ikut menjaga putriku." sahut Lancelot yang tahu maksud dari ucapan Garnier.


"Bagus kalau kamu mengerti, ngomong-ngomong, bagaimana bisa anakmu tidak bisa memanggil papa padamu, terus siapa yang mengajari anakmu memanggil mama pada Hani?" tanya Garnier mulai kepo.


"Soal panggilan, aku tidak tahu sejak pertama kali bisa ngomong yang keluar kata mama berkali kali kami ajari papa juga gak mau kalau mau bilang papa itupun seribu kali bilang mama satu kali bilang papa." jelas Lancelot sedikit lesu.


"Kamu keberatan?" tanya Garnier.

__ADS_1


"Tentu aku keberatan aku cemburu, aku ini papanya kak, tapi aku juga sadar selama ini dua puluh empat jam anaku bersama dengan Hani, jadi aku harus memgeyampingkan ke-egoisanku." jelas Lancelot.


"Syukurlah jika kamu sadar, apa kamu tertarik dengan Hani?" tanya Garnier penuh selidik.


"Tertarik, kakak-kan tahu sendiri bagaimana kehidupanku, aku sudah lama tidak tertarik dengan wanita."


"Yakin, apa karena A ling? Lanc, jangan kau siksa dirimu hanya demi wanita iblis itu, kamu berhak untuk bahagia kaku berhak menharungi kebahagiaan dengan keluargamu." nasehat Garnier berapi-api.


"A ling, siapa yang tidak tahu sepak terjang wanita itu, kamu jangan diam saja Lanc, kaku harus bisa melawannya." tuan Garnier ikut mengompori.


"Bukannya aku tidak mau melawan, bukannya aku pengecut, aku tidak tertarik dengan wanita, aku tidak mau ribet dengan wanita." tegas Lancelot.


"Faktanya sekarang kamu butuh wanita kan, untuk merawat anakmu dan kamu lihat sendiri anakmu sampai tidak mau minum susu formula, dia memilih minum ASI dari seorang wanita, itu artinya anakmu sangat membutuhkan seorang mama" ucap Garnier santai namun mengena.


"Lanc, ucapan kakak tertuamu itu benar, seorang anak pasti membutuhkan orang tua lengkap, pikirkan itu, kalau hatimu tidak tertarik dengan wanita lakukan demi anakmu, bukankah kamu sangat menginginkan keturunan yang berkwalitas, soal A ling, Hadapi." tuan Garnier ikut membenarkan ucapan istrinya " Kita ini semakin tua, tidak selamanya kuat." tambah tuan Garnier.


"Akan, aku pikirkan, tapi aku gak yakin apa dia mau denganku?" ucap Lancelot gamang.


"Hani?" tebak Garnier, sebenarnya bukan sebuah tebakan namun suatu pernyataan untuk meyakinkan.


"Sejak, kamu secara tidak sengaja memergokki Hani saat menyusui An, benarkan? Aku rasa Hani tidak buruk-buruk amat tinggal di poles sedikit saja sudah cantik, memang dia tidak putih dan tinggi bak model, namun cukup manis dan menyejukkan," puji Garnier.


"Sudah malam sebaiknya kita tidur, kira bahas lain lagi, yang penting untuk saat ini acara ulang tahun putriku berjalan lancar tidak ada yang mengacaukannya." ucap Lancelot.


"A ling bagaimana?" tanya tuan Garnier.


"Dari laporan Dandruff barusan dia mendarat di negara Hongkong, jika setelah ini A ling ngajak perang, aku siap untuk meladeninya." ucap Lancelot penuh keyakinan.


"Aku dukung, aku siap untuk membantumu, kelihatannya Hani memiliki kelebihan yang tidak kita ketahui." ucap tuan Garnier mengutarakan hasil analisanya.


"Aku, tahu terlalu sulit untuk menembus Hanifah, dia bukan wanita sembarangan, ternyata anakku sangat lihai dalam memilih orang." ucap Lancelot.


"Bagus jika kamu mengetahui, kita pikirkan lagi besok, sekarang sebaiknya kita istirahat saja."


Lancelot, Tuan Garnier dan Garnier membuyarkan diri dari bar mini yang ada di rumah Garnier, Tuan Garnier dan Garnier menuju kamarnya sendiri, sedangkan Lancelot memasuki kamarnya yang bersebelahan dengan kamar yang ditempari oleh Hanifah dan nona An.

__ADS_1


Malam merambat dengan pelannya seolah malah tidak merambat, Hanifah berkali-kali memejamkan mata namun tidak berhasil, Hanifah mau keluar dari kamar namun takut tidak berani kelyar takut tersesat karena rumah Garnier yang begitu sangat luas, malam semakin larut, dari dalam kamarnya Hanifah bisa melihat pemandangan taman yang ada di dekat kamarnya, banyak sekali bunga tertata rapi dan juga beraneka ragam jenis bunga. Berbalik dengan keadaan Hanifah, tidur nona An benar-benar lelap, sehingga tidak meropatakan Hanifah.


Pagi datang dengan santainya seolah tidak pernah memikirkan jika ada satu makluk manusia yang belum bisa memejamkan matanya di malam hari tadi. Hanifah dengan rasa tubuh yang pegal-pegal akhirnya segera mandi untuk menyegarakan tubuhnya, karena semalam semua sudah pesan jika pagi ini akan melakuakan survey hotel untuk pesta besok malam, serta akan mengajak nona An bermain di salah satu wahana terkenal di London.


Hanifah begitu selesai mandi dan tubuhnya terasa lebih segar, dia melaksakan tugas-tugasnya seperti biasa, tidak begitu lama nona An sudah bangun dari tidurnya, begitu nona An sudah bangun Hanifah segera memandikan nona An dan mendandaninya supaya lebih cantik dan segar.


Di ruang tengah kegaduhan terjadi akibat ulah kedua anak Garnier bersama orang tuanya beserta tuam dan nyonya Bisseling. Anak Garnier sangat antusias menyambut kedangan oma dan opanya. Anak Garnier memamerkan apa saja yang dimilikinya kepada tuan dan nyonya Bisseling dengan girang.


"Ayo, segera siap-siap!" seru Lancelot yang baru keluar dari kamarnya.


"Uncle,!" seru kedua anak Garnier dan langsung berhamburan menghampiri Lancelot.


"Ayo kita berangkat." ajak Lancelot girang.


"Hani belum keluar." ucap Garnier dan yang lainnya.


"Apa mereka sakit, kenapa belum keluar?" tanya Lancelot mulai sedikit cemas.


"Selamat pagi semuanya, maaf jika sudah lama menunggu, selamat pagi tuan, selamat pagi nyonya." sapa. Hanifah yang sudah rapi memakai baju dengan atasan blus dan bawahan kulot kain sepanjang betis dan pastinya penampilan rambutnya yang tidak pernah berubah, yaitu kucir kuda.


"Tidak mengapa, Han kamu sarapan dulu, biar ponaanku bersamaku." suruh Garnier pada Hanifah dan mengambil alih nona An dari gendongan Hanifah.


"Anakku biar bersamaku saja kak," pinta Lancelot pada Garnier.


"Baiklah, sudah sewajarnya kamu perhatian anakmu, sebab besok hari ulang tahunnya." ucap Garnier.


"Kami, sudah sarapan Han, kamu sarapan saja dulu." perintah nyonya Bisseling.


"Terima kasih, Tuan, nyonya," ucap Hanifah tetap sopan.


Hanifah menyantap menu makanannya tidak begitu berselera sebab semalam tidak bisa tidur sama sekali, dan akhirnya Hanifah tidak menghabiskan menu yang telah di sediakan oleh pekerja Garnier. Selesai sarapan Hanifah segera bergabung kembarku dengan yang lain di ruang tengah.


"Sudah, ayo berangkat keburu siang." ajak tuan Garnier.


Mereka semua meninggalkan kediaman Garnier dengan menggunakan dua mobil menuju hotel tempat diadakannya pesta ulang tahun nona An, satu mobil berisi tuan dan nyonya Bisseling dengan tuan Garnier yang menjadi sopirnya, mobil kedua Garnier sendiri yang menjadi sopir dengan Lancelot Hanifah dan nona An sebagai penumpang.

__ADS_1


__ADS_2