
Garnier walau sudah pernah mempunyai anak namun Garnier tetap tidak bisa menenangkan kerewelan anak Lancelot, padahal baru lima belas menit menjaga anak Lancelot namun Garnier sudah angkat tangan namun karena Garnier lagi akting maka Garnier berlagak pintar, hampir tiga puluh menit anak Lancelot berada di bawah asuhan Garnier namun semakin rewel, Hanifah dan suster berusaha untuk meminta nona kecil dari Garnier dan ingin menenangkan nona kecilnya namun Garnier tetap ngotot ingin merawatnya sendiri anak Lancelot, Joyce yang melihat tingkah nona mudanya hanya geleng-geleng kepala.
"Buat apa coba nona ngerjain Hani." gumam Joyce dalam hati.
Lancelot yang berada di kantor setelah rapat dia membuka laptopnya yang telah terhubung oleh CCTV rumahnya, Lancelot langsung memutar yang tepat di kamar Putrinya, Lancelot dari awal memutar dan langsung geleng-geleng kepala melihat tingkah kakaknya dari dalam monitor. Tanpa pikir panjang Lancelot menelpon Garnier lewat hand phone pribadi Garnier namun di acuhkan oleh Garnier, Lancelot tidak hilang akal dia akhirnya menelpon Joyce.
"Selamat pagi tuan." sapa Joyce begitu menerima panggilan dari Lancelot.
"Joyce, tolong kasihkan kakak, penting." perintah Lancelot.
"Ya, tuan." Joyce segera memberikan hand phone-nya pada Garnier.
"Nyonya, ada telpon dari tuan." Joyce masih mengikuti akting Garnier.
"Ya Joyce, katakan pada tuan aku telpon balik saja, papamu ternyata sudah kangen juga sama mama, anak manis mama telpon papa dulu ya." Garnier masih dengan aktingnya. "Han tolong jaga putriku dulu, aku mau telpon tuan sebentar." Garnier langsung menyerahkan anak Lancelot pada Hanifah, Hanifah menerima dengan senang hati.
Nona kecil begitu berada di dalam gendongan Hanifah langsung diam tidak bersuara. Sedangkan Garnier tersenyum saat mengetahui reaksi keponakannya, sebagai seorang ibu Garnier paham akan reaksi yang di tunjukkan oleh keponakannya. Garnier segera melangkah menuju taman belakang untuk menelpon balik adiknya.
Tut tut tut
"Halo Lanc." sapa Garnier di balik telpon.
"Kak...! kamu apakan anakku !" teriak Lancelot langsung merusak gendang telinga Garnier, sedang Garnier yang mendengar teriakan adiknya bukannya marah malah tersenyum dan menjauhkannya hand phone-nya dari telinga Garnier.
"Kenapa harus teriak-teriak sih Lanc, bikin telinga budek saja, kalem kenapa?" omel Garnier santai.
"Apasih tujuan kakak kesini?" ucap Lancelot kesal di balik telpon.
"Mau menghadiri pesta ponakanku." jawab Garnier santai.
"Tapi apa yang kakak lakukan? bajunya anakku bagaimana kak?" tanya Lancelot.
"Yang aku lakukan menyiapkan baju untuk keponakanku dan ibunya yang paling cantik, oh ya bajunya masih di kamarmu, ya nunggu kamu pulang dulu dong baru aku coba in buat mereka." jawab Garnier santai" Cepetan pulang, mama sebentar lagi juga akan ke sini, punya anak jangan ditinggal kerja terus," Garnier malah mengomeli Lancelot, padahal niat hati Lancelot ingin mengomeli kakaknya malah keadaan terbalik.
__ADS_1
"Ya, makan siang aku pulang, tolong bilang ke Joyce untuk menyiapkan makan siang bersama." pesan Lancelot pada Garnier.
"Beres, bos."
"Ya."
Lancelot langsung menutup telponnya dengan wajah sedikit kesal, sedangkan Garnier tersenyum senang karena bisa mengerjai adiknya. Selepas menelpon Lancelot, Garnier menuju ruang baca yang ada di rumah Lancelot sambil menunggu mamanya dan adiknya. Hanifah mengajak nona mudanya bermain di taman belakang rumah, sedangkan suster sedang merapikan kamar nona muda. Nyonya Bisseling yang baru sampai rumah Lancelot menghampiri Hanifah yang sedang bercengkerama dengan nona kecil di sebuah gazebo yang ada di taman belakang.
"Cucu nenek!" seru nyonya Bisseling senang kali ini nyonya Bisseling datng bersamaan dengan Lancelot yang baru pulang dari kantor.
"Selamat siang nyonya, selamat siang tuan." sapa Hanifah sopan seperti biasa tidak ada yang berbeda.
"Han, Nier kemana?" tanya nyonya Bisseling.
"Tadi katanya mau menata baju-bajunya di kamar tuan." jelas Hanifah.
Lancelot dan nyonya Bisseling hanya geleng-geleng kepala, tidak pernah teepikir oleh nyonya Bisseling jika Garnier bakal membuat ulah sangat heboh seperti ini, maksud dan tujuan ta apa juga tidak ada yang tahu.
"Nier, tadi bilang apa padamu Han?" nyonya Bisseling bertanya pagi.
"Kamu sudah makan siang apa belum Han?" Lancelot bertanya pada Hanifah.
"Sudah tuan." jawab Hanifah.
"Kalau begitu kita makan dulu saja Ma, habis makan baru mencoba bajunya." ajak Garnier pada nyonya Bisseling.
Lancelot dan nyonya Bisseling tidak pernah terpikirkan dengan ide konyol Garnier, yang tergolong absurd. Di rumah Lancelot hanya Hanifah dan suster yang tidak tahu jika Garnier kakak Lancelot. Setelah meninggalkan Hanifah dan nona kecil, nyonya Bisseling segera di ruang makan untuk mengecek menu yang sudah tersedia sedangkan Lancelot segera menuju ruang bacanya, seban Lancelot sudah hafal dengan kelakun kakaknya jika berada di rumahnya.
"Kak, ayo makan!" panggil Lancelot pada Garnier.
"Ya, sebentar, mama mana?, Lanc kamu apa bareng dengan mama?" tanya Hanifah penasaran.
"Ya, tadi bareng soale aku yang jemput mama, tolonglah mbak jangan berulah lagi, apasih tujuan kakak pakai ngaku-ngaku segala jika kakakau nikah denganku." gerutu Lancelot kesal dan tidak terima dengan fitnah yang telah di sebar oleh kakanya.
__ADS_1
"Iseng saja." jawab Garnier mulai menutup buku-bukunya.
Lancelot, Garnier dan nyonya Bisseling menyantap makan siangnya secara bersama-sama, sedangkan tuan Bisseling memilih sibuk dengan kegiatannya tentang perusahaan. Selama dalam acara makan siang mereka bertiga sangat menikmati menu yang telah di sediakan oleh Klear, sebuah menu khas orang Hongkong.
"Kenapa Hanifah tidak ajak makan bareng kita?" tanya Garnier.
"Menu buat kita makan dan menu buat Hanifah berbeda, menu buat Hanifah khusus, karena banyak makanan yang tidak sama dengan kita, karena Hanifah seorang Muslimah." jelas Lancelot.
"Ohh." Garnier beroh ria padahal dia juga tidak paham dengan apa yang di maksud oleh Lancelot.
Selesai makam siang mereka bertiga menuju kamar Lancelot untuk melihat dan mencoba baju hasil desain Garnier. Baju untuk tuan Bisseling dan nyonya Bisseling sudah di taruh di rumah nyonya Bisseling, sedangkan yang di bawa oleh Lancelot kemarin hanya baju buat Lancelot, putrinya dan Hanifah. Lancelot sangat puas dengan hasil desain kakaknya setelah selesai mencoba bajunya. Selesai mencoba bajunya sendiri Lancelot tidak sabar ingin melihat putrinya mencoba bajunya, Garnier dengan di ikuti oleh nyonya Bisseling dan Lancelot membawa bajunya ke kamar bayinya Lancelot. Garnier segera memakaikan baju pada pada anak Lancelot, semua yang melihat nona muda sangat senang, apalagi Lancelot dia sangat kagum dengan putrinya sendiri.
"Han, ini baju buat kamu pakai lusa!" Garnier menyodorkan dres panjang dan berlengan panjang sesuai dengan pesan nyonya Bisseling dengan warna senada dengan yang lainnya dan pastinya dengan desain yang nyaman untuk ibu menyusui.
"Buat saya nyonya?" Hanifah terkejut tidak langsung menerimanya karena baju itu sangat bagus elegan dari segi harga juga mahal.
"Iya buat kamu Han." nyonya Bisseling meyakinkan.
"Ya, kamu harus memakainya lusa, seban aku tidak ingin orang yang dekat dengan anakku berdandan dekil, dan nanti kak Nier yang akan membantumu dandan." jelas Lancelot.
"Baik Tuan, apa kak Nier yang tuan maksud akan kesini untuk membantu saya?" tanya Hanifah polos.
"Tentu." jawab Garnier.
"Nier itu anak sulungku, dia kakaknya Lancelot." tambah nyonya Bisseling.
"Baik nyonya." hanya itu yang keluar dari mulut Hanifah tanpa menaruh curiga.
"Han, kamu coba dulu bajunya jika kurang pas bisa aku perbaiki." perintah Garnier pada Hanifah.
Hanifah menuruti perintah Garnier, dia langsung menuju kamar mandi untuk mengganti dan mencoba baju dari Garnier.
"Sempurna." Garnier sangat puas melihat bajunya sangat pas buat Hanifah "Garnier meneliti setiap detail gaunnya" Bagaimana Ma? cantikkan?" tanya Garnier dengan senyum puas.
__ADS_1
"Terima kasih kak." ucap Lancelot kagum dengan karya Garnier.