Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 150


__ADS_3

Pagi-pagi sekali semua penghuni villa sudah bangun sejak subuh tadi, tidak terkecuali Dandruff, tuan dan nyonya Bisseling, biarpun mereka tidak menjalankan ibadah sholat subuh namun mereka juga ikut terbangun di pagi buta. Mereka menikmati indahnya kabut pagi, jam lima pagi mereka memutuskan untuk jalan-jalan di area villa, ternyata bukan hanya Lancelot dan keluarga beberapa orang juga sedang melakuakan oleh raga pagi dengan jalan santai sambil menggerak-gerakan tubuhnya agar tidak kedingianan.


Tuan dan nyonya Bisseling sangat keheranan melihat aktifitas penduduk, pasalnya pagi-pagi buta sudah banyak warga yang berlalu lalang untuk melakukan aktifitasnya masing-masing. Tuan dan nyonya Bisseling bantaj bertanya pada Setu Pon, Setu Pon sangat antusias untuk menjelaskan tentang kebiasaan penduduk sekitar. Setelah selesai menikmati pagi yang indah mereka kembali ke villa, di dalam villa Hanifah dengan di temani oleh ibunya dan satu orang pekerja memasak menu sarapan untuk mereka semua.


Jam tujuh pagi menu sarapan pagi sudah terhidang di atas meja, Hanifah memasak menu seperti waktu di negara Hongkong dan juga beberapa menu khas Indonesia. Hanifah memasak mie goreng, bihun goreng tentu dengan bumbu dan cita rasa khas Indonesia.


"Harum sekali." nyonya Bisseling memuji menu yang asa di atas meja.


"Menu untuk sarapan sudah siap nyonya." Hanifah memberitahukan pada nyonya Bisseling.


"Kebetulan habis jalan-jalan sudah sangat lapar." ucap nyonya Bisseling.


"Sebaiknya kita segera sarapan, habis ini kita bisa segera mengantar Hani." ujar Lancelot "An, ada di mana Han?" tanya Lancelot.


"Nona An, belum bangun tuan," sahut Hanifah.


"Lah, bukannya tadi sudah bangun?" tanya Lancelot penasaran.


"Tadi nona An, kembali tidur lagi tuan, katanya masih ngantuk." jawan Hanifah.


"Jam delapan jika An, belum bangun panggil dia untuk bangun, agar nanti tidak kesiangan ke rumahmu." perintah Lancelot.


Hubungan antara Hanifah dan Lancelot tergolong aneh, keduanya bertingkah seolah tidak pernah terjadi apa-apa, sifat Hanifah yang begitu cuek dan dingin serta sifat Lancelot yang mudah berubah.

__ADS_1


Setelah mereka selesai cuci tangan mereka segera menyantap menu sarapan paginya, hanya nona An, yang masih terlelap dalam mimpinya


"Mie dan bihun gorengnya enak sekali, harum dan rasanya pas di lidah." tuan Bisseling memuji kelezatan mie goreng dan mie goreng.


"Coba." nyonya Bisseling mengambil bihun dan mie goreng dan langsung menyantapnya" Beneran lezat sekali." puji nyonya Bisseling.


Lancelot dan Dandruff yang penasaran akhirnya ikut menyendok bihun sama mie goreng tersebut.


"Apa kamu yang masak Han?" tebak Lancelot.


"Iya, tuan." sahut Hanifah.


"Sudah ku duga." ucap Lancelot tidak heran dengan hasil masakan Hanifah.


"Darimana kamu tahu jika ini yang masak Hani, atau kanu asal tebak Lanc." seloroh nyonya Bisseling.


"Han, kapan kamu masak bua anakku perasaan selama berada di rumahku kamu tidak pernah ke dapur untuk masak." ucap nyonya Bisseling penasaran.


"Jauh-jauh hari sebelum kita tinggal di rumah mama, hampir setiap kali aku pulang telat dan belum makan biasanya Hani, yang memasaknya untukku." Lancelot yang menjawab pertanyaan dari nyonya Bisseling, karena Lancelot tahu Hani rus j mungkin mau menjawab.


"Benar begitu Han?" tanta nyonya Bisseling pada Hanifah.


"I... i... iya nyonya." jawan Hanifah gugup.

__ADS_1


"Pantesan anakku sangat hafal dengan masakanmu, tidak rugi jika punya menantu seperti kamu." tambah nyonya Bisseling.


"Mama yang di bahas mantu terus, sudahlah kita selesaikan sarapankita, setelah itu kita bisa segera pergi ke rumah Hanifah, dan bisa bermain di kebon apel milik tuan Legi." ujar Tusn Bisseling.


Setelah mendapat teguran dari tuan Bisseling, mereka semua makab padi tidak bersuara semua fokys pada makanan yang telah tersedia di atas meja. Hanifah begitu menyelesaikan sarapannya di menuju kamar tempatnya istirahat, untuk membangunkan nona An. Hanifah selaku memiliki cara juru untuk memiliki nona An, terbangun. Tidak perlu drama nona An, segera bangun, begitu nona An bangun Hanifah segera membantu nona An, untuk membersihkan diri. Setelah nembersihkan diri Hanifah, membantu nona An untuk berganti baju, Hanifah mendandani nona An, begitu cantik dan juga menawan.


"Selamat pagi anak papa sudah selesai apa belum?" tanya Lancelot pada Hanifah dan Nona An.


"Papa selamat pagi, aku cantik." Nona An langsung memerkan di depan Lancelot.


"Ups, cantik sekali secantik mama Hani." puji Lancelot pada Hanifah.


"Tuan, saya temani nona An untuk makan pagi." pamit Hanifah pada Lancelot.


"Silakan, sebentar lagi kita berangkat ke rumahmu aku mau siap-siap dulu." jawab Lancelot.


"Da, papa." pamit nona An manja.


Hanifah membantu nona An untuk berjalan turun dari tangga lantai dua menuju lantai dasar, mereka berdua begitu sampai di meja makan Hanifah, segera membantu nona An untuk segera menyantap makan paginya.


"Ma dingin, sejuk," ucap nona An.


"Nona, pakai dulu jacketnya." Hanifah membantu nona An untuk memakai jaker dinginnya.

__ADS_1


Setelah semua siap, mereka semua berangkat menuju rumah orang tua Hanifah. Semua rombongan tidak ada yang tidak senang, Dandruff juga sangat menikmati perjalanan yang santai, jarak antara villa Lancelot dan rumah orang tua Hanifah hanya membutuhkan waktu kurang lebih lima belas menit dengan jarak tempuh mobil.


Dua mobil yang di tumpangi oleh rombongan Hanifah telah memasuki pekarangan rumah orang tua Hanifah. Biarpun orang tua Hanifah ikut dalam rombongan mereka namun rumah orang tua Hanifah tidak kosong, terbukti begitu mobil masuk pekarangan dari dalam rumah orang tua Hanifah keluar seorang wanita yang sepantaran ibunya Hanifah.


__ADS_2