Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 79


__ADS_3

Hanifah menuruti perintah Lancelot, dia tidak jadi pergi mereka bertiga kini bermain bersama di kamar Lancelot, pancaran sebuah kebahagiaan terlihat di wajah mereka bertiga, nona An sangat bahagia sekali, tertawa berteriak lari ke sana sini. Tuan dan nyonya Bisseling yang mendengar suara gaduh di kamar Lancelot. Kamar di lantai empat itu yang biasanya sunyi senyap hari ini berubah sangat ramai bagai pasar malam.


Setelah dua jam mereka bermain nona An sudah mulai kelelahan, nona An datang dan memeluk Hanifah " Ma ma ma." celoteh hanifah dengan wajah capeknya.


"Sayang, capek ya, kalau begitu sini duduk sama mama." ucap Hanifah lembut penuh kasih langsung memeluk nona An "Tuan baju dan keperluan nona An, di taruh mana?" tanya Hanifah pada Lancelot.


Lancelot bangkit dari duduknya "Ayo aku kasih tahu." Lancelot mengajak Hanifah.


"Iya tuan." Hanifah yang tadinya duduk kini juga ikut berdiri sambil menggendong nova An.


"Sayang dini gendong Papa, kasihan mama capek." Lancelot merayu nona An agar mau di gendong.


Nona An menggelengkan kepala dan menpererat pekannya pada Hanifah," No no no no." jawan nona An.


"Anak, Papa ternyata sudah mulai pintar bahasa inggris ya." ucap Lancelot penuh pujian.


Lancelot berjalan menuju sebuah pintu yang ada di kamar Lancelot.


"Han, semua baju dan peralatanmu taruh sini, ini kamar khusus untuk menyimpan baju-bajuku namun sekarang kosong, karena aku sudah punya rumah sendiri kalaupun masih ada bajunya, juga tidak banyak." jelas Lancelot sambil menunjukkan isi ruangan tersebut.

__ADS_1


Di dalam ruangan yang Lancelot masuk semua terisi dari beberapa lemari dengan ukuran besar, saat Lancelot membuka dan menunjukan pada Hanifah, nyata lemari tersebut memang banyak yang kosong. Lancelot selain membuka dan menunjukan lemari baju Lancelot juga menunjukan beberapa barang kesukaannya pada Hanifah, serta menunjukkan beberapa ruangan yang berada gandeng dengan kamar Lancelot , selama di dalam kamar tidak henti-hentinya Lancelot bercerita tentang masa lalunya walau tidak banyak.


Nona An sangat senang ketika di ajak Lancelot masuk dan berada di dalam ruangan tersebut, Hanifah tidak menyangka ternyata di balik tembok ada sebuah ruangan khusus, hanifah sangat takjub melihat semua yang ada di dalam kamar Lancelot.


"Tuan, berapa lama saya dan nona An, tinggal di sini?" tanya Hanifah meberanikan diri.


"Kali ini Aku di luar negeri kurang lebih satu bulan karena ada dua negara yang harus aku kunjugi segera." jawab Lancelot jujur "Jadi selama aku berada di luar negeri kamu dan An tanggung jawab mama dan papa." jelas Lancelot lagi.


"Baik, tuan jika begitu saya akan minta tolong sopir untuk mengantar saya pulang buat mengambil keperluan yang lain." ucap Hanifah.


"Baik, besok aku antar kamu pulang ambil barang." ucap Lancelot tegas.


Lancelot duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya sendiri untuk menemani Hanifah dan nona An, Lancelot seolah tidak mau jauh dari Hanifah dan nona An. Hanifah walau sedikit tidak enak dia tetap melakukan kewajibannya sebagai seorang pembantu rumah tangga tanpa protes. Hanifah segera menyusui nona An dan membelainya seperti biasa hingga nona An tertidur. Setelah nona An tidur Hanifah juga segera memejamkan matanya tanpa peduli dengan keberadaan Lancelot yang sedang duduk di sofa.


Lancelot duduk di sofa sambil memainkan komputernya, setalah sudah sangat larut Lancelot memilih untuk tidur, Lancelot membaringkan tubuhnya di sebelah nona An tentu dengan jarak agak jauh agar tidak e mengganggu tidur Hanifah dan nona An. Sebelum memejamkan matanya Lancelot memandangi wajah Hanifah dan nona An secara bergantian sampai matanya terpejam dan terbuai dalam mimpi.


Beberapa hari ini Lancelot menghabiskan waktunya berada di rumah orang tuanya, Lancelot sama sekali tidak pergi ke kantor, semua pekerjaan kantor di lakukan dari rumah orang tuanya, padahal dia ada jadwal melakukan tinjauan pekerjaan ke luar negeri beberapa hari lagi. Setelah sekian tahun baru kali ini waktu terlama Lancelot berada di rumah orang tuanya, tuan dan nyonya Bisseling Bisseling merasa aneh dengan sikap anak lelakinya itu.


"Lanc, jam berapa besok kamu berangkat?" tanya nyonya Bisseling.

__ADS_1


"Besok saya melakukan penerbangan sore," jawan Lancelot.


"Baiklah."


"Besok aku ingin An dan Hani mengantar sampai bandara." ucap Lancelot.


"Baik, besok tinggal bilang ke Dandruff, setelah mengantar kamu ke bandara dan suruh antar balik Hani sampai rumah." ucap nyonya Bisseling.


"Maksud aku begitu Ma ." sahut Lancelot.


Dari pagi Lancelot sudah sangat heboh padahal ini bukan pertama kali pergi ke luar negeri entah apa sebabnya Lancelot bersikap tidak seperti biasanya. Beberapa jam sebelum penerbangan Lancelot dengan di dampingi oleh Hanifah dan nona An menuju bandara tentu dengan di sopiri okeh Dandruff, selama dalam perjalanan Lancelot memeluk dan memanggku nona An. Nona An kali ink sedikit rewel, tidak sampai memakan waktu lama mereka sudah berada di area bandara, setelah memarkir mobilnya semua turun dari mobil, engab posisi masih Lancelot yang menggendong nona An, sedangkan Dandruff mendorong troli yang berisi kopernya Lancelot.


Lancelot segera check in karena sudah masuk waktu untuk chek ini, setelah Lancelot chek in dengan tetap minta di antar oleh Hanifah dan An Lancelot menuju pintu imigrasi sesampainya di depan pintu imigrasi Lancelot menyerahkan nona An, pada Hanifah.


"Han, sekali lagi titip An, dia nyawaku jaga dia, sayangi dia, dan aku mencintaimu sebagaimana aku mencintai putriku, An jaga mama Hani." ucap Lancelot lirih lalu mencium pipi nona An dan langsung masuk ke dalam pintu imigrasi tanpa menunggu jawaban dari Hanifah.


Hanifah yang mendengar ucapan Lancelot hanya diam mematung dan tidak bisa berkata apa-apa, Hanifah tidak begitu percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Lancelot padabya barusan, walau dari sinar matanya memancarkan sebuah kesungguhan namun Hanifah teroa belum bisa percaya. Hanifah ingat jika dalam satu tahun ini bekerja pada Lancelot isu yang beradar di kalangan pekerja bahwa Lancelot tidak mau menjalin hubungan dengan wanita apalagi sampai menikahinya itu sebabnya Lancelot memilih mengontrak rahim dari wanita yang tidak dia kenal dan juga tidak di ketahui.


"Nona, ayo pulang." ajak Dandruff pada Hanifah yang masih tetap bergeming di tempatnya.

__ADS_1


Lancelot setelah selesai urusan imigrasi dia menoleh ke arah Hanifah dengan menyuguhkan seulas senyum penuh kebahagiaan.


__ADS_2