
Lancelot menepati janjinya jam tujuh petang Lancelot sudah sampai di rumahnya, sesampainya di rumah Lancelot segera membersihkan diri, lalu makan malam, setelah selesai makan malam Lancelot membawa putrinya masuk ke dalam kamar Lancelot sendiri, kali ini Lancelot bermain sendiri dengan putrinya tanpa adanya Hanifah maupun suster.
Hanifah menikmati makan malamnya dengan santai pikirnya mumpung nona An, lagi bermain dengan Lancelot di kamarnya, sepuluh menit, dua puluh menit tiga puluh menit semua masih aman namun dimenit ke empat puluh lima suara tangis nona An mulai terdengar semakin jelas. Hanifah begitu mendengar suara nona An menangis langsung bangkit berdiri dari tempat duduknya, Hanifah segera melangkah ingin menuju kamar Lancelot berniat ingin menolong nona An, namun baru mau naik ke tangga Lancelot sudah menggendong nona An menuruni tangga.
"Tuan, Ada apa dengan nona An?" tanya Hanifah.
"Takut dengan papanya." suara nyonya Bisseling yang baru datang.
"Mama, malam-malam datang ke sini, tumben, Bukan takut sama aku Ma, tapi dia kangen dengan Hani, atau mungkin dia lapar." sergah Lancelot membuat alasan.
"Selamat malam nyonya," sapa Hanifah sopan.
"Selamat malam, Han." sahut nyonya Bisseling tak kalah ramah.
Hanifah segera mengambil alih nona An dari gendongan Lancelot kedalam gendongannya, Hanifah segera meninggalkan nyonya Bisseling dan juga Lancelot yang masih berdiri di dekat tangga.
"Mama kesini dengan siapa, kenapa tidak memberi tahuku, tahu gitu tadi kita makan malam bersama." ucap Lancelot.
__ADS_1
"Aku sudah kangen dengan cucuku sudah lama tidak kesini sekalian mau merencanakan acara ulang tahun buat cucuku." ucap nyonya Bisseling santai.
"Bagaimana dengan papa?" tanya Lancelot.
"Kamu tahu sendiri papa sudah mulai sibuk dengan hobinya, nanti bakal nyusul kemari." ucap nyonya Bisseling santai.
"Mama nginep?" tanya Lancelot.
"Mama tidak nginep, lagian aku sudah percayakan cucuku pada Hani, jika ngandalin kamu saja, anakmu gak bakal cukup kasih sayang Lanc." sarkas nyonya Bisseling.
"Ma, Lanc banyak kerjaan." bantah Lancelot.
"Mama...."
"Kita bicara di ruang kerjamu Lanc, aku gak mau ada orang yang mendengar pembicaraan kita." perintah nyonya Bisseling pada Lancelot.
Lancelot tanpa membantah mengikuti perintah nyonya Bisseling, nyonya Bisseling dan Lancelot masuk ke ruang kerja, mereka berdua sama-sama duduk di sofa.
__ADS_1
"Hal, penting apa yang membuat Mama malam-malam datang ke sini tanpa pemberitahuan." ucap Lancelot santai.
"Tidak ada yang penting, mama hanya ingin mempersiapkan pesta ulang tahun buat cucuku An," ucap nyonya Bisseling santai.
"Aku juga sudah memikirkannya, dan acara akan Aku buat sesederhana mungkin."
"Kenapa, tidak di sesederhana mungkin?" tanya nyonya Bisseling
"A ling, mengancam keselamatan An, dan Hani, aku tidak ingin mengorbankan mereka," jelas Lancelot.
"Mama, juga berpikir begitu," ucap nyonya Bisseling.
"Mama sudah tahu?" tanya Lancelot.
"Tentu mama dan papa tahu hal itu, namun mama punya rencana untuk merayakan ulang tahun An, di London." usul nyonya Bisseling bikin Lancelot melongo.
"Apa, Ma? di London?" tanya Lancelot terkejut dengan usul nyonya Bisseling.
__ADS_1
"Ya, di London, bukankah A ling akan kembali ke Hongkong jadi kita bisa menghindari pertumpahan darah di acara ulang tahun An, mama sudah berusaha menyiapkan alibi, kita tetap nengadakan acara ulang tahun di sini, untuk memgecoh A ling, kita tinggal bilang ke Garnier, dan tentu A ling tidak akan menyangka kalau sebenarnya kita malah masuk ke kandannya A ling." jelas nyonya Bisseling.
"Ide yang cukup cemerlang, Ma, Lanc, setuju." Lancelot menyetujui usulan nyonya Bisseling, ya memang terlihat sedikit konyol, bukan nyonya Bisseling kalau tidak bisa membuat ide konyol yang mencengankan.