Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 73


__ADS_3

Hanifah tetap menemani nona An di dalam kamar walau dengan tubuh yang kurang baik, Hanifah benar-benar tidak mau terlepas dari nona An karena kejadian semalam membuat Hanifah semakin ingin melindungi nona An. Lancelot setelah merasa baikan dia menuju kamar An untuk melihat dan memastikan nona An dan Hanifah, di dalam kamar Hanifah maupun nona An tidak menyadari jika Lancelot sudah berdiri di depan pintu dan mengamati mereka berdua yang sedang asyik bermain. Lancelot mengamati mereka berdua lebih dalam, Lancelot semakin bisa melihat dari dalam diri Hanifah akan jiwa keibuannya, bagaimana tidak disaat tubuhnya masih kurang sehat dia tetap menjaga, merawat dan menemani nona An, secara total, walau tidak semaksimal seperti hari biasanya. Nona An, begitu melihat Lancelot duluan ia berjalan menghampiri Lancelot, ini pertama kalinya nona An menghampiri Lancelot tanpa di panggil.


"Ma ma ma ma pa pa." oceh nona An dengan polosnya.


Mendapati nona An menghampirinya Lancelot dengan senyum kebahagiaan menyambut kedatangan nona An, apalagi nona An memanggil papa di sela-sela kata mama Lancelot, langsung memeluk nona An, penuh kasih. Hanifah yang melihat nona An meninggalkannya matanya mengikuti gerak tubuh nona An.


"Tuan, selamat pagi," sapa Hanifah sopan masih sama seperti biasanya.


"Pagi, Han." sahut Lancelot datar seperti biasa. "Anak papa pintar sekali." puji Lancelot.


Nona An sudah berada dalam gendongan Lancelot, Lancelot melangkahkan kakinya menuju tempat Hanifah duduk di atas matras. Hanifah ingin bertanya tentang keadaan Lancelot namun diurungkan Hanifah memilih bersikap biasa.


"Han, bagaimana dengan keadanmu?" Lancelot mengawali pembicaraannya.


"Baik, tuan." sahut hanifag tetap tenang.


"Maaf untuk semalam, terima kasih sudah melindungi putriku," ucap Lancelot yang memanggku nona An.

__ADS_1


"Sudah tanggung jawab saya untuk melindungi nona An," sahut Hanifah masih biasa.


"Han, jika ada yang ingin kamu tanyakan padaku tanyakan saja, aku akan menjawab jika aku bisa menjawabnya." Lancelot memberi kesempatan Hanifah untuk bertanya, Hanifah kelihatan biasa-biasa saja namun dari sorotan matanya Lancelot bisa menangkap jika ada hal yang mengganjal di hati Hanifah.


"Maaf tuan sebelumnya, maaf bukannya saya lancang, apa maksud dengan perkataan orang-orang semalam?" tanya Hanifah.


"Kata-kata yang mana?" Lancelot balik tanya.


"Siapa yang dimaksud dengan kekasih tuan? saya yang salah dengar atau saya yang kepedean?" tanya Hanifah masih berputar.


"Kenapa beberapa orang mengira saya kekasih tuan, apa maksud semua ini tuan, apa orang kaya memang semudah itu untuk mengklaim sesuatu, tanpa minta persetujuan dari yang bersangkutan." jelas Hanifah tenang dan dingin.


"Jika aku minta kamu untuk menjadi kekasihku apa kamu mau? apa kaku bersedia? tentu kamu tidak mau kan? itu sebabnya biarlah orang mau bilang apa biarlah mereka berasumsi sendiri, kenyatannya aku sering membawamu pergi bersama dengan anakku dan tanpa aku kasih tahu mereka sudah bisa menilai sendiri dari segi penampilanmu atau dari bagaimana cara keluargaku memperlakukanmu." jelas Lancelot sengaja tidak menjawab pada intinya.


"Saya tahu sebagai seorang pembantu, apa yang saya pakai memang jauh berbeda dari kebanyakan pembantu di luaran sana, bahkan di keluarga ini saya juga merasa diperlakukan secara berbeda, namun saya tetap sadar jika saya hanya seorang pembantu oh ya dan saya juga tidak ingin mengotori nama baik tuan dengan isu yang beredar di kalangan kolegan tuan, saya tegaskan sekali lagi tuan, jika keberadaan saya di sini murni hanya sebagai pengasuh nona An, tidak lebih dan tuan harus ingat kontrak saya hanya dua tahun." Hanifah berusaha menjelaskan pada Lancelot panjang lebar sebelum terjadi kesalahan lebih fatal.


"Jika kamu keberatan dengan isu yang beredar semalam aku minta maaf, namun aku juga tidak bisa membungkam pikiran mereka, apa maksud dengan mengotori nama baik keluargaku?" Lancelot berusaha mencerna kata-kata Hanifah, Lancelot sama sekali tudak pernah berpikir jika Hanifah bisa berpikir sejauh itu, jika kebanyakan wanita sangat ingin di klaim sebagai kekasih Lancelot namun sangat berbeda dengan Hanifah, Hanifah dengan terang-terangan malah keberatan dan menolak dengan tegas.

__ADS_1


"Begini tuan, saya tidak ingin ada isu jika saya itu kekasih tuan, bukankah itu suatu hal yang tidak baik, seorang bos besar dari brown group putra dari keluarga Bisseling sedang menjalin hubungan dengan pembantunya, atau akan beredar berita ternyata kekasih seorang tuan muda Lancelot pengasuh putrinya." oceh Hanifah sedikit kesal.


"Aku tidak keberatan dengan semua isu itu aku malah senang, biar hidupku lebih berwarna toh selama ini berita yang muncul hanya sebuah prestasi kinerja seorang tuan muda Lancelot, dan biar untuk menampik berita miring tentang asmaraku yang mengatakan jika aku penyuka sesama jenis, aku sendiri sudah kangen dengan berita asmaraku dimuat diberita elektronik maupun cetak seperti belasan tahun yang lalu, sepertinya kali ini akan lebih menyenangkan, sebab biasanya isu yang beredar tentang anak pengusaha, atau artis yang dekat denganku, jujur aku sangat ingin membaca dan mendengar tentang isu kita beredar di kalayak umum, soal kontrak kerja kamu selagi kamu bersedia menjaga dan mengasuh putriku selama itu aku akan mengontrakmu, namun aku yakin jika putriku sudah mengikatmu." ucap Lancelot santai penuh percaya diri sambil menemani nona An yang sedang bermain di matras.


Hanifah semakin kesal dengan pemaparan Lancelot "Baiklah jika memang tuan tidak keberatan dengan semua itu, aku rasa sangat menantang berarti saya harus pura-pura bersandiwara." ucap Hanifah kesal


"Aku tahu kamu bukan tipe orang yang bisa bersandiwara, dan aku juga tahu jika kamu memang benar-benar menolakku, lihat saja aku akan mendapatkanmu," ucap Lancelot penuh keyakinan.


"Gila, anda memang gila tuan" ucap Hanifah dingin.


"Ya, aku memang gila dan lebih gila lagi ketika aku mengetahui jika anakku lebih mengintai dan menyayangimu, kamu bisa menolakku, lalu bagaimana dengan cinta dari An, apa kamu bisa menolak cinta dari putriku." Lancelot berbicara penuh keyakinan "Satu tahun kita bersama berada dalam satu atap, bahkan pernah berada dalam satu kamar, apa yang tidak aku tahu tentang kamu Han, kamu tahu Han semua pekerja di rumah ini hanya kamu yang berani mengumpatku dengan kata gila."


"Terserah tuan berasumsi apa tentang saya, saya akan tetap bersikap professional Sebagaimana pekerja lainnya, menjaga, merawat dan mendidik nona An." tegas Hanifah tetap dingin.


"Aku tahu kamu pekerja yang sangat professional."


Lancelot dan Hanifah terlibat percakapan serius sampai beradu argumentsi baru kali ini, biasanya mereka hanya berbicara seperlunya, nona An dia asyik sendiri dengan dunianya sendiri, namun biar beradu argumentasi Hanifah dan Lancelot tetap sambil menemani nona An bermain. Nona An terlihat sangat bahagia bisa ditemani oleh orang tersayang Lancelot dan Hanifah, pasalnya seminggu hanya sekali Lancelot memiliki waktu untuk menemani putrinya, dan jika ada kepentingan ke luar negeri Lancelot malah tidak pulang sampai berminggu-minggu. Lancelot dan Hanifah walau terlibat percakapan penuh argumentasi mereka berdua tetap tenang tidak ada yang meluapkan emosi. Joyce dan suster mengurungkan niatnya yang tadinya mereka ingin membantu Hanifah untuk menjaga nona An, sebab sebelum masuk mereka mendengar jika Lancelot dan Hanifah sedang beradu argumentasi walau tidak keras namun dari kata-katanya sudah bisa ditebak, oleh siapapun yang mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2