Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 181


__ADS_3

Sepulang mengantar nona An, Lancelot melajukan mobilnya, menuju hotel tempat mereka biasa menginap, Hanifah tidak protes sama sekali, setelah memberikan mobilnya pada petugas keamanan Lancelot, segera ambil kunci di resepsionis, tanpa proses panjang Lancelot langsung bisa menggunakan kamar. Lancelot sama sekali tidak melepaskan genggaman jemari Hanifah. Jantung Hanifah sudah berpacu sangat cepat sekali tidak beraturan, setelah melewati lift, dan lorong hotel Lancelot membuka kamar yang biasa dia pakai menginap di saat ingin sendiri.


Kamar Lancelot sudah di hias sedemikian rupa, begitu indah dan harum. Se-buket bunga mawar putih telah menghiasi tempat tidur mereka, Hanifah sangat terpukau dengan apa yang ada di hadapannya hingga tidak bisa berkata apa-apa.


"I love you," Lancelot berjongkok dan memberikan se-bucket bunga pada Hanifah "Aku akan tetap menunggumu sampai mama benar-benar ikhlas, tapu hari ini papa ingin menikmatinys hanta berdua dengan mama." ucap Lancelot lembut penuh kasih.


Hanifah menerima bunga tersebut dengan perasaan haru dan berbunga-bunga Hanifah tak kuasa menahan haru sampai menitikan airmata.


"Ajari mama untuk menjadi istri yang baik, terima kasih Pa." ucap Hanifah.

__ADS_1


"Terima kasih, Ma kita jalani bersama, sekarang papa dan mama itu satu." ucap Lancelot.


Lancelot memeluk lembut Hanifah untaian doa telah di lafadkan oleh Lancelot sebelum mereka terlena dalam irama cinta halalnya, Hanifah dengan iklhas membalas pelukan lembut dari Lancelot, kedua wajahnya semakin dekat dan mengikis jarak di antara mereka. Getaran dawai sentuhan lembut dari keduanya membuat nafas keduanya memburu tidak beraturan. Tidak ada yang terucap diantara mereka hanya deru nafas yang lembut dan tidak beraturan memenuhi seisi ruangan Hotel tempat mereka menginap. Dinding Hotel serta seisi kamar tersebut menjadi saksi bisu bagi pasangan pengantin baru tersebut untuk meraih surga dunianya dalam melepas dahaganya yang sudah lama terpendam.


Mereka berdua begitu piawai dalam memainkan denting irama, mulai dari tempo nada yang begitu lembut sampai tempo nada yang sangat cepat, mereka berdua seolah tidak merasakan capek, maupun puas, semakin di mainkan iramanya semakin enak untuk dinikmati. Sepasang pengantin tersebut sudah terkapar tidak bertenaga, dengan keringat bercucuran setelah tenaganya habis di pakai untuk memainkan irama dalam lantunan cinta halalnya.


"Sebentar lagi, lima belas menit lagi badan mama capek sekali Pa," keluh Hanifah dengan suara parau terlihat sekali jika Hanifah sedang kecapek-an" Sekarang An, sudah di jemput mama apa belum ya?" tanya Hanifah yang masih memikirkan nona An.


"Mungkin sudah, sekarang sudah jam satu," sahut Lancelot lembut.

__ADS_1


"Tenaga papa kuat sekali, sampai ngos-ngosan mama dalam mengimbangi permainan tadi, apa seperti ini yang di namakan puber kedua." ucap langsung.


"Bukan hanya karena puber kedua tapi juga karena ibarat seorang musafir yang menahan dahaga di padang pasir telah menemukan sumber air, jadi minumnya di puas-puadik, dan jangan bilang karena usia kita terpaut jauh papa tidak lincah dalam memainkan dawai cinta kita. Usia boleh saja jauh terpaut namun tenaganya tentu tidak mau kalah, bayangin saja sudah puluhan tahun papa tidak berolah raga seperti ini, tentu stamina tetap fit, ayo mandi dan sholat tadi sudah aku pesankan makanan, dan papa suruh kirim jam dua." ucap Hanifah.


"Baiklah, mama mandi dulu, nanti juga keburu telat dhuhurnya." Hanifah bangkit dari berbaringnya, Hanifah merasakan sedikit nyeri di bagian tubuhnya, membuatnya harus sedikit pelan dan hati-hati dalam berjalan.


"Sini, papa bantu jalannya." Lancelot menawarkan diri untuk memapah Hanifah "Apa benar-benar sakit?" tanya Lancelot.


"Sedikit, ya mungkin juga karena belum terbiasa saja Pa." sahut Hanifah.

__ADS_1


__ADS_2