
"Han, kamu tahu apa alasan Lanc, datang dan mengantar paketan kerumah orang tuamu?" tanya nyonya Bisseling.
"Tidak nyonya, saya tidak tahu sama sekali." jawab Hanifah jujur.
"Apa kamu tidak bisa menangkap betapa Lancelot, sangat mencintaimu Han?" tanya nyonya Bisseling.
Hanifah diam sesaat, dia tidak langsung menjawab.
"Han." panggil nyonya Bisseling karena tidak mendapat respon dari Hanifah.
"Iya, nyonya." sahut Hanifah berusaha tenang.
"Apa kamu punya rencana untuk menikah lagi?" tanya nyonya Bisseling mengalihkan pembicaraan.
"Untuk saat ini saya belum berpikir kesana nyonya," jawab Hanifah jujur.
"Kenapa? kamu cantik masih muda tentu banyak laki-laki yang menginginkan wanita seperti kamu." ucap nyonya Bisseling.
"Untuk saat ini saya belum bisa meninggalkan nona An, nyonya," sahut Hanifah.
__ADS_1
Mendengar jawaban dari Hanifah nyonya Bisseling sedikit lega, minimal masih ada kesempatan untuk menjadikan Hanifah sebagai menantu di keluarga Bisseling.
"Sebab, tentu kamu punya alasan yang kuat dong, tidak mungkin kamu tidak punya alasan kenapa kamu tidak tega meninggalkan An, cucuku." pancing nyonya Bisseling.
"Begini nyonya, bagaimana saya bisa meninggalkan nona An, sedangkan sekarang tuan Lanc, juga belum sepenuhnya sembuh, tidak mungkin saya meninggalkan nona An dalam situasi seperti ini, saya tidak ingin nona An, bersedih ya sebenarbya says juga yakin jika nyonya dan tuan besar sangat mampu memberikan kasih sayang pada nona An, namun entahlah saya belum sanggup untuk beoisah dengan nona An." ucap Hanifah jujur
"Bagaimana kriteria laki-laki yang ingin kamu nikahi?" tanya nyonya Bisseling, mengalihkan pembicaraan lagi.
"Cukup sederhana nyonya, tentunya seiman, bisa menjadi imam untuk saya dan anak-anak saya, bisa membawa kami selamat dunia maupun akhirat." ucap Hanifah jujur.
"Misal orang itu kaya harta dunia, dia tidak seiman dengan kamu, bagaimana apa kamu mau menikah dengan lelaki yang kaya akan harta tadi?" tanya nyonya Bisseling penasaran akan jawaban Hanifah.
"Kenapa? padahal banyak sekali wanita ingin menikah dengan lelaki yang kaya raya? Eh kamu malah menolak, Apa alasanmu menolak lelaki kaya raya tadi?" tanya nyonya Bisseling semakin penasaran.
"Karena saya tidak ingin rugi dunia maupun akhirat nyonya." sahut Hanifah berapi -api.
"Maksud kamu?" nyonya Bisseling terus mencari mengejar jawaban dari Hanifah.
"Maksud saya, biar di dunia saya tidak kaya yang penting di akhirat saya kaya Nyonya, lagian hidup di dunia itu cuma sebentar saja, jika tidak gunakan untuk kebaikan rugi nyonya." ucap Hanifah santai.
__ADS_1
"Benar juga, apa yang kamu katakan." nyonya Bisseling membenarkan ucapan Hanifah barusan" Mijetnya susah Han, kamu istirahat saja, duduk temaniku mumpung An, bekum bangun." pinta nyonya Bisseling pada Hanifah.
"Bagaimana nyonya sufah baikan?" tanya Hanifah pada nyonya Bisseling.
"Sudah baikan, terima kasih Han, lusa ulang tahun An dan kamu, kami sudah menyiapkan pesta untuk An dan kamu acaranya cukup sederhana karena Lancelot belum pulih benar, Garnier besok terbang ke Hongkong, untuk merayakam ulang tahun kalian." ucap nyonya Bisseling.
"Nyonya, perayaan ulang tahun itu hukumnya apa, wajib?" tanya Hanifah.
"Wajib bagi yang mewajibkan, dari dulu kekuarga kami selalu merayakan ulang tahun kami, entah itu secara sederhana atau pesta yang meriah, jadi bagi kekuarga kami itu wajib," ucap nyonya Bisseling "Kalau di tempatmu bagaimana Han, merayakan ulang tahun apa tidak wajib?" tanya nyonya Bisseling pada Hanifah.
"Tidak, Nyonya, lagian semenjak kecil saya tidak pernah merayakan ulang tahun, sehingga bagi kami ulang tahun itu tidak terlalu penting." ucap Hanifah jujur.
"Oh begitu," jawab Nyonya Bisseling singkat.
"Iya nyonya, nyonya Nier jam berapa datang" tanya Hanifah ingin tahu kedatangan Garnier.
"Besok Nier baru sampai, itupun kemungkinan sore," jelas Lancelot.
Kedua wanita beda generasi, itu bercerita tanpa mengenal lelah, Hanifah dan nyonya Bisseling bisa tertawa lepas seolah tanpa beban.
__ADS_1